Apa Makna Natal bagi Masyarakat Perancis?

Kompas.com - 15/12/2011, 16:37 WIB
EditorI Made Asdhiana

KOMPAS.com - Apa sih makna Natal bagi masyarakat Perancis? Karena menjelang menjelang akhir bulan November kota-kota di Perancis, sudah terlihat marak dengan dekorasi Natal yang jatuh di bulan Desember. Dari mulai lampu jalanan yang terhias berkerlap-kerlip, pohon cemara segar ditawarkan penjual membuat suasana semakin menghijau dan tentunya yang selalu menyegarkan mata, dipajangnya begitu banyak benda cantik, membuat gemas, dan rela merogoh kantung demi mendapatkannya sebagai hadiah bagi orang tersayang.

Natal identik dengan kado? Hal itu tak bisa dipungkiri, karena berdasarkan angket yang saya dapatkan, bagi orang Perancis Natal itu yang utama adalah la fête des enfants (pestanya anak-anak). Karena pada hari itu mereka merayakan kelahiran Yesus, maka para orang tua memberikan kado kepada anak mereka untuk menyenangkan buah hatinya. Tradisi ini sudah menjadi budaya pertama di Perancis, dimana mejelang Natal, anak-anak sudah dibiasakan menulis surat kepada Pere Noël (Sinterklas), meminta keinginannya melalui pria berjanggut putih dan berbaju tebal merah itu.

Di sekolah negeri dan swasta dari mulai TK hingga SD, guru-guru selalu mengajak muridnya untuk meramaikan hari Natal dengan mendekorasi ruangan kelas, memasang hiasan natal dan tak lupa bagi mereka yang telah bisa baca tulis, akan dimintanya untuk menulis surat yang ditujukan bagi Sinterklas dengan alamat Pôle Nord (kutub utara). Jangan salah setiap surat yang ditulis oleh seseorang hanya dengan beralamatkan Pere Noël, akan sampai. Sebuah reportase yang saya lihat di televisi, menyiarkan bagaimana, sebuah tempat menampung jutaan surat Natal, dengan tulisan permohonan berbagai bentuk. Sebisa mungkin, mereka membalas dengan prioritas utama kepada anak-anak.

Soal hadiah yang diminta, tentu saja para orang tua sebelum mengirimkan surat tersebut, sudah mengintipnya, bagi yang belum bisa menulis, bisa dibayangkan orangtuanya lah yang mencatat permohonan tersebut.

Natal di Perancis memang pestanya anak. Setahun sekali itulah, mereka mendapatkan kado hampir dari seluruh keluarga, dan tak tanggung-tanggung, kado yang diterima kerap tidak hanya satu dari setiap orang. Memanjakan anak di hari Natal, melebihi hadiah ulang tahun bukan hal yang aneh lagi. Tapi tak semuanya seperti itu memang, hanya di hari raya tersebut, angket membuktikan, para orangtua menjadi sangat ramah dalam mengeluarkan uang bagi putra putrinya, bahkan ada yang menabung khusus agar dapat memenuhi impian anak mereka.

Merayakan hari besar umat Kristiani di setiap lembaga pemerintahan dan perusahaan besar dengan keluarga pekerja, juga lebih kepada suasana pesta bagi anak. Pertunjukan yang dimainkan lebih sering terarah bagi mereka yang berusia di bawah dua belas tahun. Dan saat pesta usai bingkisan kado Natal tak lupa dibagikan kepada setiap anak.

Presiden Perancis Nicolas Sarkozy, misalnya setiap tahun selalu mengadakan pesta Natal, budaya yang berlangsung pun sama, di bawah pohon cemara sudah tertata bertumpuk kado, membuat mata anak-anak yang datang sebagai undangan berbinar tak sabar ingin segera membukanya. Tradisi merayakan Natal dengan kepala pemerintahan ini sudah berlangsung sejak tahun 1889.

Ratusan anak menjadi tamu di kediaman Presiden, Palais de l'Elysée. Siapa saja ratusan anak tersebut? Mereka adalah, para anak yatim/piatu dari keluarga militer, polisi, petugas penyelamatan dan juga anak dari korban becanda alam. Dari tahun ke tahun, keakraban antara Presiden dan istrinya kepada undangan cilik berusia antara lima hingga sepuluh tahun semakin hangat. Sarkozy dan istrinya Carla Bruni tak segan memberikan tanda tangan kepada tamu kecil, bahkan topi Sinterklas, dikenakan Presiden Nicolas Sarkozy. Saat Natal, pemimpin negara pun dengan senang hati merayakannya, sebagai pestanya anak.

Lalu bagaimana dengan anak kami? Karena saya dan Kang Dadang alias David, tak merayakan Natal secara pribadi. Kami yang beragama Muslim, pada awalnya memang sempat dilintasi rasa ragu. Karena sejak kecil anak kami sudah terbiasa dikenalkan oleh lingkungannya dengan tradisi Natal. Dari sekolahnya dan keluarga suami. Berpartisipasi dalam menghias pohon cemara dengan dekorasi hasil buatan tangannya di sekolah, menulis surat bagi Sinterklas atas permintaan gurunya dan mendapatkan limpahan bingkisan dari anggota keluarga perancisnya. Rasa cemas tentu saja ada. Untungnya saya memiliki orangtua yang selalu dengan bijak menasihati putrinya. Salah satunya adalah, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Tugas kamilah sebagai orangtua, yang menekankan kepada keturunan kami, arti perbedaan agama dan budaya.

Bukan hal yang mudah, tapi sudah menjadi bagian dari ajaran kami memisahkan antara agama dan rasa hormat kepada tradisi tempat kami berpijak. Anak sulung kami, Adam, sejak di bangku TK sudah mengerti jika Sinterklas yang menyapanya dengan kata 'Ho Ho Ho..' hanyalah mitos. Tapi karena sejak kecil sudah bisa membedakan antara pentingnya Natal untuk menghormati tradisi keluarga ayahnya, yang ada dirinya jadi sering berdebat dengan temannya yang saat itu masih mempercayai adanya Sinterklas.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X