Kompas.com - 21/07/2012, 14:01 WIB
|
EditorTri Wahono

KOMPAS.com — Pulau Sangalaki yang berada dalam gugusan Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur, merupakan rumah yang nyaman bagi para penyu untuk bertelur. Di sini mereka dilahirkan, di sini pula para penyu dewasa kembali untuk bertelur.

Di Sangalaki, Anda bisa mengantarkan tukik-tukik (anak penyu) ke lautan lepas pada sore hari. Pelepasan tukik dimulai dari pasir di tepi pantai, jadi tidak langsung ke dalam air laut.

Menurut Ketua Yayasan Penyu Berau, Vany Ahang, para tukik dapat merekam proses berjalannya mereka di pasir menuju lautan lepas. Maka dari itu, para tukik yang nantinya mampu bertahan hingga di atas 30 tahun, pasti akan kembali ke tempat yang sama.

Per harinya, rata-rata 20 penyu dewasa mendatangi Pulau Sangalaki untuk bertelur. Sekali bertelur, mereka mampu menetaskan hingga 100 telur. Memang banyak jumlahnya. Namun, perjalanan para tukik hingga dewasa tidaklah mudah. Banyak predator di lautan sehingga hanya beberapa yang mampu bertahan hidup.

Berjarak sekitar tiga sampai lima meter dari pinggir air laut, ribuan tukik siap dilepas. Kaki-kaki mungilnya akan berjalan dengan sendirinya ke dalam air itu. Perlahan mereka akan menghilang tergulung ombak dan berenang bebas.

Di sinilah kehidupan para tukik itu dimulai. Dari ribuan tukik yang dilepas, hanya puluhan yang mampu bertahan hidup. Hal ini disebabkan banyaknya predator di lautan lepas tadi.

"Makanya, kita berusaha sebanyak mungkin yang menetas," ujar Vany.

Saat baru melepas tukik itu saja, burung elang laut sudah mengintai. Ketika tukik-tukik mulai berenang di lautan, elang tersebut terbang turun dan mengambil salah satu tukik dengan cakramnya yang kuat. Ya, ancaman predator memang begitu banyak saat mereka dilepas ke perairan. Elang tersebut bahkan bisa tiga sampai empat kali kembali untuk memangsa tukik-tukik yang kurang beruntung tersebut.

Musim bertelur para penyu ini adalah sekitar bulan Juli. Bulan Agustus hingga September merupakan puncak bertelurnya. Di perairan Berau ini, menurut Vany, terdapat dua jenis penyu, yakni penyu hijau dan penyu sisik.

Penyu sisik, menurut Vany, kini jumlahnya makin berkurang karena maraknya perburuan. Salah satunya adalah perburuan manusia yang menggunakan penyu sisik untuk kerajinan tangan, seperti kalung dan gelang.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.