Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dari "Kandang Ayam" Menjadi Hotel

Kompas.com - 28/07/2012, 08:37 WIB
Roderick Adrian Mozes

Penulis

KOMPAS.com - Daerah yang ingin menjadi daerah tujuan wisata, keberadaan penginapan yang terkelola dengan baik dan memenuhi standar kenyamanan bagi turis menjadi sebuah harga mati. Apalagi ketika daerah tersebut baru mengembangkan sektor wisatanya.
 
Kota Biak yang berada di Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua, merupakan salah satu daerah tujuan wisata yang sedang berkembang. Beruntung, penginapan di kota ini bisa dikatakan baik dan memadai. Bahkan beberapa hotel memiliki standar pelayanan hingga fasilitas lumayan lengkap.

Aeorotel Irian merupakan salah satu hotel yang memahami pentingnya keberadaan sebuah penginapan untuk mendukung pariwisata. Letaknya dekat dengan Bandara Frans Kaisiepo. Aerotel menempatkan dirinya sebagai hotel bintang tiga di Biak.

Hotel ini merupakan hotel tertua di Biak. Dibangun pada tahun 1953, Aerotel Irian merupakan hotel peninggalan Belanda yang awalnya bernama KLM Hotel.

Dulu hotel ini menjadi tempat istirahat penumpang maskapai penerbangan Belanda, KLM Royal Dutch Airlines. Mereka yang harus transit seusai penerbangan panjang melintasi Samudera Pasifik.

Seiring perjalanan waktu, hotel ini kemudian terbengkalai. Kondisi ini menyebabkan turunnya popularitas hotel dan semakin sedikit yang menginap.

Melihat sisi sejarah dan desain bangunan yang unik, tidak salah jika kemudian hotel ini berusaha dipertahankan dan direnovasi. Pengelolaannya kemudian dipegang oleh PT Aero Wisata yang merupakan salah satu anak perusahaan Garuda Indonesia.

"Hotel ini dulu milik Belanda. Banyak yang menginap di sini, Lama kelamaan popularitasnya menurun dan mulai rusak karena biaya untuk renovasi tidak ada. Seperti kandang ayam sebelum direnovasi," kata General Manager Aerotel Irian, Budi Irianto, Kamis (5/7/2012).

Tahun 2008, renovasi besar-besaran dilakukan. "Sambil menerima tamu kita juga melakukan renovasi. Kurang lebih memakan waktu satu tahun dan baru selesai pada Agustus 2009. Dari awalnya tidak ada kolam, jadi ada kolam. Kemudian kita berikan fasilitas seperti Wifi, meeting room, breakfast, hingga tempat karaoke," jelas Budi.

Hotel ini memiliki 42 kamar tipe superior, 9 kamar deluxe, dan 1 kamar suite ini. Nuansa kayu menjadi dominan bangunan. Desain kuno terasa di setiap sudut hotel. Desain ini memang sengaja dipertahankan mengingat nilai sejarah yang ada.

"Khusus untuk kamar tipe deluxe dan suite, tidak terbuat dari kayu. Karena memang dua tipe tersebut baru ada setelah renovasi. Untuk kamar tipe superior memang desain awalnya dari kayu, itupun kita renovasi seperti memberikan shower air panas dan dingin, lalu LCD TV dan AC," kata Budi.

Selain itu, tambah Budi, untuk deluxe dan suite sedikit berbeda pelayanannya. Misalnya breakfast, tamu mendapatkan food basket yang langsung diantarkan ke kamar. Selain itu fasilitas bathtub hanya ada di kamar tipe suite.

"Untuk kamar tipe superior kita kasih harga Rp 480.000 per malam, Rp 680.000 untuk kamar deluxe, lalu Rp 3,4 juta untuk tipe suite," kata Budi.

Selain itu, pihak hotel juga menyediakan berbagai menu khas dengan nuansa Papua.

"Kita punya papeda, keladi tumbuk dan menu yang paling digemari itu ikan tuna bosnik. Bahkan banyak yang membawa menu ini untuk dijadikan oleh-oleh," kata Budi.

Kini, hotel itu pun menjadi pilihan wisatawan ataupun tamu pemerintahan untuk menginap. Bahkan sejumlah acara seperti serah terima jabatan kerap dilangsungkan di sini.
 
Akses menuju tengah kota dari hotel ini relatif mudah. Tamu bisa menggunakan angkot ataupun ojek. Sementara untuk akses internet, tamu masih dikenakan bayaran, yaitu Rp 20.000 per jam atau Rp 50.000 untuk berlangganan selama 24 jam.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Pengalaman ke Pasar Kreatif Jawa Barat, Tempat Nongkrong di Bandung

Pengalaman ke Pasar Kreatif Jawa Barat, Tempat Nongkrong di Bandung

Jalan Jalan
Libur Panjang Waisak 2024, KAI Operasikan 20 Kereta Api Tambahan

Libur Panjang Waisak 2024, KAI Operasikan 20 Kereta Api Tambahan

Travel Update
Pasar Kreatif Jawa Barat: Daya Tarik, Jam Buka, dan Tiket Masuk

Pasar Kreatif Jawa Barat: Daya Tarik, Jam Buka, dan Tiket Masuk

Travel Update
Berkunjung ke Pantai Nangasule di Sikka, NTT, Ada Taman Baca Mini

Berkunjung ke Pantai Nangasule di Sikka, NTT, Ada Taman Baca Mini

Jalan Jalan
10 Wisata Malam di Semarang, Ada yang 24 Jam

10 Wisata Malam di Semarang, Ada yang 24 Jam

Jalan Jalan
Tanggapi Larangan 'Study Tour', Menparekraf: Boleh asal Tersertifikasi

Tanggapi Larangan "Study Tour", Menparekraf: Boleh asal Tersertifikasi

Travel Update
Ada Rencana Kenaikan Biaya Visa Schengen 12 Persen per 11 Juni

Ada Rencana Kenaikan Biaya Visa Schengen 12 Persen per 11 Juni

Travel Update
Kasus Covid-19 di Singapura Naik, Tidak ada Larangan Wisata ke Indonesia

Kasus Covid-19 di Singapura Naik, Tidak ada Larangan Wisata ke Indonesia

Travel Update
Museum Kebangkitan Nasional, Saksi Bisu Semangat Pelajar STOVIA

Museum Kebangkitan Nasional, Saksi Bisu Semangat Pelajar STOVIA

Travel Update
World Water Forum 2024 Diharapkan Dorong Percepatan Target Wisatawan 2024

World Water Forum 2024 Diharapkan Dorong Percepatan Target Wisatawan 2024

Travel Update
Tebing di Bali Dikeruk untuk Bangun Hotel, Sandiaga: Dihentikan Sementara

Tebing di Bali Dikeruk untuk Bangun Hotel, Sandiaga: Dihentikan Sementara

Travel Update
Garuda Indonesia dan Singapore Airlines Kerja Sama untuk Program Frequent Flyer

Garuda Indonesia dan Singapore Airlines Kerja Sama untuk Program Frequent Flyer

Travel Update
5 Alasan Pantai Sanglen di Gunungkidul Wajib Dikunjungi

5 Alasan Pantai Sanglen di Gunungkidul Wajib Dikunjungi

Jalan Jalan
Pantai Lakey, Surga Wisata Terbengkalai di Kabupaten Dompu

Pantai Lakey, Surga Wisata Terbengkalai di Kabupaten Dompu

Travel Update
Bali yang Pas untuk Pencinta Liburan Slow Travel

Bali yang Pas untuk Pencinta Liburan Slow Travel

Travel Tips
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com