Kompas.com - 10/11/2012, 17:04 WIB
Editorkadek

KOMPAS.com — Museum Puri Lukisan harus Anda masukkan dalam daftar tempat-tempat wisata yang ingin dikunjungi di Bali. Bukan sekadar karena museum itu tampil megah dengan arsitektur gaya Bali, melainkan juga karena museum ini merupakan museum tertua di Pulau Bali.

Museum ini sangat mudah ditemukan. Berada di Ubud, Kabupaten Gianyar, dari Pasar Ubud bisa ditempuh dengan jalan kaki ke arah Jalan Campuhan. Lukisan menjadi koleksi utama di museum ini. Bali memang terkenal sebagai rumah dari banyak seniman dunia. Beberapa di antaranya menetap di Ubud, seperti Walter Spies, Rudolf Bonnet, dan Antonio Blanco.

Di Museum Puri Lukisan, pengunjung diajak melihat lukisan-lukisan Bali sesuai perubahan zaman. Mulai dari lukisan wayang klasik di era sebelum tahun 1930, lalu lukisan di tahun 1930-an, sampai menjelang kemerdekaan Indonesia. Beberapa lukisan yang menggambarkan kehidupan di Bali pada era ini merupakan karya pelukis asing.

Kemudian, berlanjut ke era setelah kemerdekaan Indonesia. Seniman Bali mulai mengadopsi teknik seni Barat, seperti pewarnaan dan penggunaan barat. Namun, tema yang diangkat tetap mencirikan lokalitas.

Nah, penggemar sejarah pasti girang berada di museum ini. Pasalnya, sebuah ruangan menampilkan perjalanan Ubud menjadi sebuah destinasi wisata yang mendunia. Jauh sebelum Indonesia merdeka, pariwisata Ubud telah dipromosikan di seluruh dunia.

Adalah sosok Tjokorda Gde Agung Sukawati yang berada di belakang hal tersebut. Sebagai bangsawan dari kalangan Puri Ubud, ia berkontribusi pada majunya pariwisata di Ubud yang berdampak pula pada Pulau Bali secara umum.

Di tahun 1920-an, keluarga Tjokorda Gde Agung Sukawati menerima turis-turis asing untuk menetap di Puri Saren Ubud. Hal yang tak lazim di masanya. Pasalnya, puri atau kediaman bagi para bangsawan Bali biasanya sangat tertutup.

Alhasil, seniman dunia seperti Walter Spies dan Rudolf Bonnet pernah menetap di puri. Bersama Tjokorda Gde Agung Sukawati, mereka menjadi pelopor pendirian Museum Puri Lukisan yang buka untuk umum di tahun 1952.

Nah, di salah satu ruang pameran, pengunjung bisa melihat perjalanan Tjokorda Gde Agung Sukawati mempromosikan Ubud dan menerima para tamunya dengan keramahan khas Bali. Walau seorang ningrat, ia bagai seorang marketing piawai di dunia pariwisata.

Hal ini terjadi saat Bali belum seperti saat ini, sebuah destinasi wisata yang siap jual. Ia pun tak segan-segan mempromosikan budaya Bali kepada tamu. Di Tahun 1972, Tjokorda Gde Agung Sukawati pernah kedatangan tamu agung, yaitu Ratu Belanda Juliana.

Halaman:
Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X