Kompas.com - 03/07/2013, 21:04 WIB
Pantai Gapang, Sabang, Aceh, Selasa (20/9/2011). KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Pantai Gapang, Sabang, Aceh, Selasa (20/9/2011).
EditorNi Luh Made Pertiwi F
JAKARTA, KOMPAS.com - Pengelolaan destinasi pariwisata melalui tata kelola terpadu atau Destination Management Organization (DMO) selain untuk meningkatkan daya saing pariwisata juga mensejahterakan masyarakat lokal di sekitar daya tarik wisata.

Hal tesebut diungkapkan Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Firmansyah Rahim ketika membuka “Konsinyering Dalam Rangka Peningkatan Kualitas Pengelolaan Destinasi Pariwisata Melalui Program DMO” di Jakarta, Rabu (3/7/2013) seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Kompas.com.

“Tata kelola destinasi pariwisata terpadu (DMO) mengedepankan sinergisitas semua stake holder pariwisata, termasuk dengan masyaraka lokal agar mendapatkan manfaat dalam meningkatkan kesejahteraan mereka,” kata Firmansyah.

Firmansyah mengatakan, program DMO diterapkan di 15 daerah destinasi pariwisata di seluruh Indonesia dalam kurung waktu lima tahun 2010 hingga 2014. “Sebagian besar dari 15 DMO saat ini sudah berada dalam tahap pengembangan manajemen destinasi, dan sebagian sudah ada yang memasuki tahap penguatan dan penataan organisiasi pengelolaan destinasi atau memasuki tahap transnformasi DMO keempat,” kata Firmansyah.

Sementara itu Direktur Perancangan Destinasi dan Investasi Pariwisata Lokot Ahmad Enda mengatakan, sampai saat ini Indonesia masih menghadapi masalah rendahnya manajemen destinasi pariwisata. "Selain itu kita juga masih menghadapi kompleksitas karakter kepariwisataan baik itu multisektor, multidisiplin, dan multistakeholder," katanya.

Lokot mengatakan, pariwisata bersifat lintas batas atau tidak mengenal batas administratif. Di samping itu, pariwisata melibatkan elemen-elemen yang saling berhubungan satu sama lain sehingga perlu sistem pengelolaan destinasi. Dalam hal ini target pencapaian DMO harus didasarkan pada target ekonomi, lingkungan, sosial budaya, dan kualitas pengelolaan destinasi.

“DMO harus diterapkan dengan strategi koordinasi, melibatkan seluruh pemangku kepentingan, kemitraan, kepentingan dan tujuan bersama, serta memiliki indikator dan kinerja,” tuturnya.

DMO pada dasarnya, kata Lokot, bertujuan untuk meningkatkan kualitas destinasi dan jumlah kunjungan wisatawan melalui pengelolaan destinasi pariwisata yang berkelanjutan. "Dengan begitu kondisi destinasi kita pada masa depan menjadi lebih baik," katanya.

Ia mencontohkan, destinasi bisa meningkat menjadi berskala internasional bila telah memenuhi indikator di antaranya dikenal secara internasional, dikunjungi wisman, memiliki akses internasional (fisik maupun nonfisik), dan memenuhi standar internasional dari sisi kebersihan hingga kenyamanan.

Sebanyak 15 destinasi pariwisata yang dikembangkan dengan konsep DMO meliputi Kota Tua Jakarta, Pangandaran (Jabar), Borobudur (Jateng), Bromo-Tengger-Semeru (Jatim), Toba (Sumut), dan Sabang (NAD). Selain itu Bali, Rinjani (NTB), Komodo-Kelimutu-Flores (NTT), Tanjung Puting (Kalteng), Derawan (Kaltim), Toraja (Sulsel), Bunaken (Sulut), Wakatobi (Sultra), dan Raja Ampat (Papua).

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.