Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 01/09/2013, 09:05 WIB
EditorLaksono Hari Wiwoho

Namun, kondisi kampung itu tak seluruhnya seindah gambar-gambar di film atau sinetron. Tengoklah, rumah-rumah gadang berusia di atas 100 tahun di nagari itu, sebagian sedang menuju kepunahannya. Gonjong-gonjongnya tak lagi gagah memanjat langit. Dinding-dindingnya menghitam dimakan usia. Beberapa rumah gadang bahkan sudah miring karena kayu penyangga utamanya terlepas.

Wali Jorong Nagari Hendri mengatakan, banyak rumah gadang di Sumpur yang sudah ambruk. Dulu—tanpa menyebut tahun—ada 200-an rumah gadang di Jorong Nagari. Kini, rumah gadang yang tersisa di seluruh Sumpur sekitar 45 buah, 25 buah di antaranya ada di Jorong Nagari. Mei lalu, rumah gadang di Sumpur berkurang lagi setelah lima rumah gadang disambar petir hingga ludes terbakar.

Hendri membawa kami ke lokasi lima rumah gadang yang terbakar itu. Kayu-kayu rumah gadang tersebut telah berubah jadi arang. Rumah gadang itu, kata Hendri, milik Munir Datuk Batuah yang ditunggui dengan setia oleh Nasri (69). Munir tinggal di Jawa. Hanya saat panen padi atau ada upacara adat saja pemilik rumah datang ke kampung.

Hendri menambahkan, rumah- rumah gadang di Sumpur sebagian besar ditinggalkan penghuninya. Itu sebabnya rumah tak terawat selama bertahun-tahun. Fenomena itu juga terjadi di daerah lain di hampir semua nagari di Sumatera Barat. Padahal, posisi rumah gadang sangat penting untuk memelihara kekerabatan orang Minang.

Mengapa rumah gadang dan nagari nan elok itu ditinggal penghuninya?

Seperti warga Minang lainnya, warga Sumpur banyak yang merantau. Beberapa di antara mereka jarang sekali pulang kampung dan menengok rumah gadang kaumnya. ”Paling mereka menitipkan perawatan rumah gadang ke keluarga atau tetangga, tapi orang yang merawat pun merantau pula,” kata Hendri.

Tidak ingin rumah-rumah gadang tua runtuh satu per satu, Ikatan Keluarga Sumpur (Ikes) yang tinggal di rantau dan masyarakat Sumpur menggelar Forum Kampuang Minang Nagari Sumpur pada pertengahan Juli lalu di Jorong Nagari, Sumpur. Mereka duduk bersama para datuk, ninik mamak, Bupati Tanah Datar M Shadiq Pasadigoe, dan sejumlah ahli seperti Yori Antar, arsitek yang berhasil merestorasi Desa Adat Wae Rebo di Flores, NTT; Catrini Pratihari, Direktur Eksekutif Badan Pelestari Pusaka Indonesia; Eko Alvares Z dari Pusat Studi Konservasi Arsitektur Universitas Bung Hatta; Nurmatias, Kepala Badan Pelestarian Nilai Budaya; dan Fitra Arda Sambas, Kepala Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala.

Dalam pertemuan itu, mereka sepakat untuk merestorasi rumah gadang. Restorasi dilaksanakan langsung oleh masyarakat setempat. Dengan cara itu, mereka akan membongkar lagi pengetahuan membangun rumah gadang seperti yang diturunkan para tetuanya. ”Pendekatannya harus partisipatif, tidak boleh berdasarkan proyek,” saran Yori yang mendapatkan penghargaan dari UNESCO karena membantu menyelamatkan Desa Adat Wae Rebo.

Selepas Lebaran, masyarakat Sumpur, para datuk, ninik mamak, IKES, dan para ahli masih menggodok rencana restorasi itu. Mereka berharap, jika restorasi rumah gadang dan desa adat berhasil, Nagari Sumpur tak akan ditelantarkan penghuninya lagi.

”Keindahannya terlalu sulit untuk dilupakan,” kata Dommy, laki-laki Jakarta yang menikah dengan gadis Sumpur.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+