Kompas.com - 25/10/2013, 11:41 WIB
Patung pahlawan nasional Martha Christina Tiahahu di Karang Panjang, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Maluku, Senin (25/6/2012). KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMOPatung pahlawan nasional Martha Christina Tiahahu di Karang Panjang, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Maluku, Senin (25/6/2012).
EditorI Made Asdhiana
KEPUNGAN laut dalam, tebaran gunung api, ancaman gempa dan tsunami yang menyertai, serta pulau karang nan kering dan tandus tidak membuat Kepulauan Maluku menakutkan untuk dihuni. Gunung api menyuburkan tanah, laut dalam pun membawa kelimpahan kekayaan laut. Kondisi lingkungan yang tampak keras dan penuh gejolak di satu sisi ternyata membuat ”Negeri Seribu Pulau” itu berlimpah anugerahi kekayaan alam.

Harta di darat dan di laut itulah yang menarik bangsa-bangsa dunia datang ke Maluku, sejak dulu hingga kini. Tak sekadar ingin turut mencicipi berkah karunia alam, ada pula yang tamak ingin menguasainya. Namun, dari perjumpaan dengan bangsa-bangsa dunia itulah, peradaban Maluku saat ini dibangun.

Maluku terhampar di atas lautan mulai dari bagian barat daya Samudra Pasifik di utara hingga sisi timur Samudra Hindia di bagian selatan. Sebanyak 2.924 pulau tersebar di atasnya, mulai dari Ujung Halmahera yang berbatasan dengan Palau hingga Tenggara Jauh yang bertetangga dengan Timor Leste dan Australia.

Terbagi dalam dua provinsi: Maluku dan Maluku Utara, 17 kabupaten, dan empat kota, Kepulauan Maluku menjadi tempat bagi 2,6 juta penduduk (2010)— setara jumlah penduduk Jakarta Timur. Mereka tersebar tidak merata hingga ke pulau-pulau kecil nan terpencil, berbicara dalam 129 bahasa, serta memiliki keragaman budaya, agama, dan tingkat peradaban yang berbeda.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI Para penumpang turun dari kapal Nggapulu di dermaga Namlea, Pulau Buru, Maluku, Rabu (19/6/2013). Dermaga Namlea menjadi pintu gerbang keluar masuk Pulau Buru.
Sejak masa prasejarah, Maluku dan Indonesia menjadi perlintasan penyebaran manusia di kawasan Indo-Pasifik, daerah yang terbentang dari barat Samudra Hindia hingga bagian tengah Samudra Pasifik.

Jason A Wilder dan kawan-kawan dalam Genetic Continuity Across A Deeply Divergent Linguistic Contact Zone in North Maluku, Indonesia (2011) menyebut, pada 32.500 tahun yang lalu, penduduk dari kawasan barat Indo-Pasifik bergerak menuju Papua dan Australia melalui Indonesia, termasuk Kepulauan Maluku. Mereka jadi nenek moyang orang Papua dan Australia.

Sekitar 3.500 tahun lalu, orang Asia berbahasa Austronesia bergerak melalui Filipina menuju pulau-pulau di Asia Tenggara dan Oseania, juga melalui Maluku. Bahasa Austronesia adalah rumpun bahasa yang digunakan di Asia Tenggara, Madagaskar, Taiwan, dan barat Oseania.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Penduduk pertama yang mendiami Maluku, menurut M Adnan Amal dalam Kepulauan Rempah-Rempah (2007), berasal dari campuran ras Mongoloid (dari Asia) dan Austromelanosoid (dari Melanesia). Akan tetapi, kelompok ras Austromelanosoid lebih mendominasi. Mereka tiba di Maluku secara bergelombang dan menempati wilayah yang terisolasi.

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Abdi dalem Keraton Ternate di Keraton Kesultanan Ternate, Kota Ternate, Maluku Utara, Selasa (3/7/2012). Keraton ini dibangun oleh Sultan Muhammad Ali pada tanggal 24 November 1810 terletak diatas Bukit Limau Santosa.
Manusia di Kepulauan Maluku makin beragam saat orang Negroid berbahasa Austronesia tiba sekitar 2.000 tahun lalu. Kedatangan mereka diikuti orang Melayu secara bergelombang. Gelombang awal orang Melayu tersingkir dan masuk ke pedalaman, menjadi suku-suku terasing yang ada saat ini. Adapun orang Melayu yang datang belakangan, tinggal di tepi pantai.

Sejak kehadiran orang Negroid, budaya masyarakat berubah. Kegiatan ekonomi mulai dikenal. Meski tidak diketahui pasti lingkup kegiatan ekonominya, di awal milenium itu, perdagangan antarpulau diyakini sudah terjadi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.