Tamasya ke "Batavia Kecil" di Desa Lebong Tandai

Kompas.com - 01/12/2013, 10:38 WIB
Makam Chow Yung, saudagar China yang berniaga ketika kawasan ini menjadi penghasil tambang primadona secara nasional di Desa Lebong Tandai. Kompas.com/FirmansyahMakam Chow Yung, saudagar China yang berniaga ketika kawasan ini menjadi penghasil tambang primadona secara nasional di Desa Lebong Tandai.
|
EditorI Made Asdhiana

Menurut tokoh masyarakat setempat, Supandi (51), Lebong Tandai disebut "Batavia Mini" atau "Batavia Kecil" sejak tahun 1951. Perusahaan Belanda waktu itu setiap tahun mendatangkan penari ronggeng dari Batavia (sekarang Jakarta). Hal ini dapat dibuktikan dengan nama sebuah jembatan menuju Lebong Tandai yaitu jembatan Dam Ronggeng I dan Ronggeng II.

Dinamakan jembatan Dam Ronggeng karena pada saat peresmiannya mengundang penari-penari ronggeng dari Batavia. Tradisi hiburan itu berlanjut hingga tahun 1970-an. Di desa ini ada 3 kelompok musik yaitu Anior, Trinada dan Puspa Ria. Seiring dengan perjalanan waktu, tahun 1981 hingga 1995, PT Lusang Mining mengelola tambang di Lebong Tandai. Saat itu hampir saja ada bar atau bangunan lokalisasi. Sebab, PT. Lusang Mining ingin menerapkan ‘Single Status’ (hidup di lokasi tambang tanpa boleh membawa istri).

"Semua peninggalan zaman Belanda masih ada di sini. Dan bangunan itu sudah menjadi inventaris desa. Boleh dihuni warga tapi tidak boleh di jual," kata Supandi.

Tidak hanya itu, pada tahun 1986 seluruh penduduk asli diungsingkan secara paksa oleh PT Lusang Mining. Dalam pengungsian tersebut, sebanyak 108 Kepala Keluarga (KK) ke Kecamatan Ipuh, Kabupaten Mukomuko dengan dibuatkan Trans di Desa Manunggal Jaya, Retak Ilir Kecamatan Ipuh, serta di Desa Karang Tengah, Kecamatan Putri Hijau, Kabupaten Bengkulu Utara.

Dalam pengungsian tersebut, warga memperoleh ganti rugi, dalam bentuk materi, uang, serta pembangunan permukiman. Hanya sedikit warga yang berani menolak menjadi peserta transmigrasi. Di antara warga yang menolak itu, adalah Mahyudin. Konsekuensinya mereka dan keluarganya harus mengalami tekanan yang cukup menyakitkan. Misalnya, dilarang menambang emas dan tidak boleh memakai fasilitas kereta Molek. Jadi mereka harus berjalan kaki melewati hutan jika ingin pergi ke luar desa.

Pengusiran tersebut dilakukan karena di Desa Lebong Tandai akan dibuat pengolahan emas atau pemasakan emas karena dalam pengelolaan akan menimbulkan zat beracun. Setelah perusahaan Lusang Mining keluar tahun 1995, warga trans kembali masuk ke Desa Lebong Tandai. "Saat pengungsian warga dulunya, penduduk diberikan uang ganti rugi. Warga juga dibangunkan rumah di lokasi trans di beberapa desa," jelas Supandi.

Desa Lebong Tandai ini berada 500 meter dari permukaan laut, sebelah selatan berbatasan dengan Bukit Husin dan sebelah utara berbatasan dengan Bukit Baharu serta di kelilingi Bukit Kelumbuk dan Bukit Lebong Baru. Saat ini penduduk di desa tersebut sudah mencapai 230 KK atau sekitar 680 jiwa.

"Penduduk di sini cukup heterogen, ada suku Jawa, keturunan Tionghoa, Sunda, Batak, Padang, Rejang dan penduduk Pekal yang sejak awal mendiami wilayah itu," katanya.

Keindahan Alam

Keindahan Alam di Desa Batavia Kecil sangat menakjubkan. Seperti, Air Terjun DAM Belanda setinggi 25 meter yang terdapat ikan endemik Suku Pekal yaitu ikan kelari, air panas, napal petak atau napal keramik di Sungai Air Karang Sulu. Obyek wisata itu jika dikelola akan menjadi daya tarik tersendiri terlebih lagi sebagai sebagai ‘Wisata Tambang’ di Desa Lebong Tandai.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X