Asyik, Bakal Makin Banyak Maskapai Bujet Rendah

Kompas.com - 24/01/2014, 13:53 WIB
Penari menyambut kedatangan penerbangan perdana pesawat Citilink di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (10/1/2014). Citilink mengalihkan penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Halim Perdanakusuma dengan rute Jakarta-Semarang (PP), Jakarta-Yogyakarta (PP), Jakarta-Malang (PP), dan Jakarta-Palembang (PP). Pengalihan rute ini untuk mengurangi kepadatan di Bandara Soekarno-Hatta. Selain Citilink, menurut rencana, pada Februari dan Maret ini Garuda Indonesia dan AirAsia juga mengalihkan sejumlah penerbangan ke Bandara Halim Perdanakusuma. KOMPAS/HERU SRI KUMOROPenari menyambut kedatangan penerbangan perdana pesawat Citilink di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (10/1/2014). Citilink mengalihkan penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Halim Perdanakusuma dengan rute Jakarta-Semarang (PP), Jakarta-Yogyakarta (PP), Jakarta-Malang (PP), dan Jakarta-Palembang (PP). Pengalihan rute ini untuk mengurangi kepadatan di Bandara Soekarno-Hatta. Selain Citilink, menurut rencana, pada Februari dan Maret ini Garuda Indonesia dan AirAsia juga mengalihkan sejumlah penerbangan ke Bandara Halim Perdanakusuma.
|
EditorI Made Asdhiana
SINGAPURA, KOMPAS.com - Persaingan Low Cost Carrier (LCC) di Asia Tenggara akan semakin ramai. Seperti diungkapkan Chief Flights Officer Wego, Dean Wicks dalam siaran pers yang diterima Kompas Travel, Rabu (22/1/2014).

Wego menjalin lebih dari 30 kemitraan LCC yang ditampilkan di Wego, situs pencarian perjalanan.

"Sepuluh LCC tambahan akan diluncurkan pada tahun 2014 dan ditambah rencana ekspansi dan penambahan pesawat oleh pemain yang ada membuat persaingan di langit Asia Tenggara menjadi semakin ketat," kata Dean.

Menambah rekor maskapai bertarif rendah di Asia Pasifik yang saat ini jumlah armadanya mencapai 1.000 pesawat (dengan 1.500 pesawat pesanan), Scoot dari Singapura akan bergabung dengan Nok Air.

Sementara LCC asal Thailand dan Tigerair telah mengumumkan gabungan usaha mereka dengan China Airlines untuk meluncurkan Tigerair Taiwan. Sedangkan LCC terbesar Filipina, Cebu Pacific, minggu lalu baru saja mengakuisisi Tigerair Filipina.

Maskapai lainnya yaitu VietJetAir tengah berdiskusi dengan afiliasi-afiliasi di Thailand dan Malaysia, yang seluruhnya mengikuti model afiliasi AirAsia.

"Semua ini merupakan kabar baik bagi industri pariwisata dan penerbangan di setiap kawasan, dan yang paling penting, momen menarik bagi wisatawan sebab maskapai-maskapai penerbangan tersebut berlomba memberikan kursi terbaik bagi mereka," ungkap Dean.

Pendatang terbaru di Malaysia adalah Malindo Air yang baru-baru ini terintegrasi dengan Wego melalui platform distribusi Wego. Malindo Air memiliki rencana besar untuk Malaysia, dimulai dengan ekspansi ke sejumlah destinasi baru dan bersaing head to head dengan AirAsia.

DOKUMENTASI LION AIR Pesawat Malindo Air
“Malindo saat ini memiliki 12 pesawat dan berencana untuk menambah armada hingga lebih dari 100 pesawat pada satu dekade ke depan,” ujar Dean.

Bersanding dengan rute-rute yang dimiliki AirAsia saat ini, Malindo juga menambah dua lokasi strategis, yakni dari Kuala Lumpur ke Ahmedabad dan Chittagong.

“Dengan populasi di Bangladesh yang mencapai 150 juta dan ketiadaan layanan maskapai bertarif rendah, bisa Anda bayangkan betapa rute-rute ini akan menjadi populer,” sebutnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X