Kompas.com - 15/06/2014, 09:20 WIB
EditorI Made Asdhiana

Rerumputan hijau adalah alas bagi tumpukan batuan yang tertata maupun yang terserak di teras-teras Gunung Padang. Sedangkan Gunung Gede dan Pangrango adalah pemandangan mencolok.

”Gunung Gede artinya gunung yang agung. Duduk di Gunung Padang akan langsung menghadap ke Gunung Gede,” kata Dadi, juru pelihara Gunung Padang.

Warga sekitar melekatkan berbagai cerita pada Gunung Padang. Cecep memperlihatkan batu yang di satu ujungnya membentuk jejak seperti cengkeraman kuku hewan buas. Menurut Cecep, itu jejak cengkeraman harimau. Di teras 1 ada batu gamelan karena jika dipukul dengan batu juga akan mengeluarkan suara denting.

Dadi menyebut Gunung Padang sebagai keraton dan disebut Negara Surya Padang. ”Pandangan sangat luas karena cahaya yang terang membangun hubungan dengan Gunung Gede-Pangrango,” tutur Dadi.

Bisa diduga jika banyak mitos menyelimuti Gunung Padang. Ribuan batu berbentuk limas hasil proses alam itu tersusun rapi seperti memagari tiap teras dan tertata di setiap pelataran, mengindikasikan susunan itu hasil cipta manusia. Warga setempat percaya puncak tertinggi Gunung Padang adalah tempat semadi Prabu Siliwangi (1482-1521).

Tak sedikit orang menyepi di sana pada malam hari. Sayangnya, beberapa berusaha membawa pulang batu dari sana. ”Itu yang kami awasi, jangan ada yang pulang bawa batu,” kata Cecep.

Karena mitos pula terpaksa batu ukuran sepelukan orang dewasa setinggi kira-kira 50 sentimeter dipindahkan ke satu-satunya warung di tepi situs. Batu itu sudah beberapa kali mengambil korban kaki pengunjung. ”Ada yang sampai patah kaki. Mereka percaya kesaktian akan meningkat kalau bisa ngangkat batu yang beratnya ratusan kilo itu,” papar Cecep.

Secara ilmiah, Gunung Padang masih dalam penelitian Tim Terpadu Riset Mandiri. Ali Akbar dalam percakapan dengan Kompas beberapa waktu lalu mengatakan, penelitian harus terus dilakukan untuk mengungkap kebudayaan apa yang membentuk Gunung Padang. Tidak terdapat peninggalan lain di sekitar lokasi yang dapat menjadi petunjuk, misalnya, bekas tempat tinggal atau makam. Gunung Padang sendiri lebih terlihat sebagai tempat melakukan ritual daripada tempat tinggal.

Mengubah kehidupan

Menurut situs internet Pemkab Cianjur, Gunung Padang pertama kali muncul dalam laporan Rapporten van de Oudheid-kundigen Dienst (ROD) tahun 1914. Peneliti Belanda, NJ Krom, yang kabarnya ingin mencari emas, melaporkan temuan itu pada tahun 1949.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.