Kompas.com - 17/07/2014, 14:08 WIB
EditorI Made Asdhiana
DESA Tenganan Dauh Tukad yang biasanya jauh dari keramaian, mendadak penuh oleh kerumunan orang-orang. Mereka bukan hanya warga lokal, tapi orang luar Bali. Mereka datang ke desa tradisional di Kabupaten Karangasem ini untuk menyaksikan tradisi Perang Pandan yang dilakukan setahun sekali oleh warga Tenganan Dauh Tukad.

”Saya dari Jakarta, sudah tiga hari nginap di Nusa Dua. Saya datang kesini untuk melihat tradisi perang pandan yang unik,” ujar Diah Maharani yang khusus datang ke Tenganan yang berjarak sekitar 70 km di timur Kota Denpasar itu.

Tak hanya para wisatawan domestik, puluhan wisatawan luar negeri juga datang untuk menikmati tradisi perang pandan yang menjadi puncak acara Ngusaba Sambah. Mereka semua berdiri di bawah panggung yang terbuat dari pohon kelapa.

Pelaksanaan tradisi perang pandan diiringi tetabuhan gong oleh sekaa gong Desa Tenganan Dauh Tukad. Ada pun para gadis desa tampil dengan pakaian khas Bali berjejer di depan sekaa gong.

”Bunyi gong serta puluhan gadis ini sebagai penyemangat para peserta perang pandang. Tujuan perang pandan ini adalah untuk ngayah (berbakti) kepada desa dan leluhur,” ujar Bendesa Adat Tenganan Dauh Tukad, I Putu Ardana.

Ketika tradisi perang pandan dimulai, suasana pun semakin heboh. Para pria Desa Tenganan Dauh Tukad terlibat pertarungan dengan senjata duri pandang dan sebuah ende (tameng). Peserta perang pandan diwajibkan menggesek-gesekkan duri pandan ke bagian badan lawan hingga keluar darah.

"Saya sudah sering ikut tradisi perang pandan. Saya ikut perang pandan semata-mata untuk ngayah kepada desa dan para leluhur di Desa Tenganan Dauh Tukad,” ujar seorang peserta, I Wayan Arta.

Tak hanya kalangan remaja dan orang tua yang berpartisipasi dalam tradisi perang pandan, beberapa anak kecil di bawah umur tak mau kalah. Satu di antaranya I Wayan Sukada (12) yang mengaku sudah biasa ikut serta tradisi tahunan ini. ”Nggak terlalu sakit kena goresan duri pandan. Soalnya saya sudah biasa, nanti saja lukanya hilang,” kata Sukada.    

Setelah perang pandan selesai, beberapa peserta yang badannya terluka diolesi obat tradisional yang manfaatnya untuk menghilangkan bekas luka akibat goresan duri pandan.

”Ramuan ini dibuat dari arak, kunyit, lengkuas, serta rempah-rempah lainnya. Ramuan ini dibuat oleh warga Desa Tenganan Pegeringsingan. Perih kena ramuan ini,” tambah Bendesa Adat, I Putu Ardana.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.