Kompas.com - 07/09/2014, 13:45 WIB
Sejumlah orang berebut menangkap sesaji yang dilemparkan oleh warga Tengger ke kawah Gunung Bromo di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, pada puncak perayaan Yadnya Kasada, Selasa (12/8/2014). Yadnya Kasada merupakan ritual warga suku Tengger dengan melarung hasil bumi atau ternak ke kawah Bromo sebagai wujud syukur dan penghormatan kepada leluhur mereka. KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTASejumlah orang berebut menangkap sesaji yang dilemparkan oleh warga Tengger ke kawah Gunung Bromo di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, pada puncak perayaan Yadnya Kasada, Selasa (12/8/2014). Yadnya Kasada merupakan ritual warga suku Tengger dengan melarung hasil bumi atau ternak ke kawah Bromo sebagai wujud syukur dan penghormatan kepada leluhur mereka.
EditorI Made Asdhiana
WAKTU baru menunjukkan pukul 03.00 ketika deru kendaraan berpenggerak empat roda (four wheel drive) terdengar menyusuri lautan pasir Gunung Bromo di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Senin (11/8/2014). Suhu udara yang dingin tak menghentikan putaran roda kekar tersebut menembus pekatnya kabut.

Karena telah mengenal medan sekitarnya, pengemudi mobil itu dengan percaya diri membawa wisatawan mengarah ke Penanjakan I di Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Penanjakan I merupakan titik pertama untuk menikmati kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Dari titik berketinggian 2.770 meter di atas permukaan laut ini, wisatawan akan mengintip matahari terbit.

Kemacetan beberapa kali terjadi saat puluhan mobil bergantian merayap di jalur terjal menanjak. Wisatawan yang ingin melihat matahari di ufuk timur yang memesona sebenarnya memiliki dua pilihan lokasi. Selain dari Penanjakan I, mereka juga bisa melihat dari Penanjakan II yang berada di Kecamatan Sukapura.

Setelah satu jam perjalanan, akhirnya sampai pula mereka di Tosari. Sembari menunggu matahari terbangun, wisatawan bisa menghangatkan badan dengan menikmati makanan dan minuman panas yang dijajakan oleh warga. Wisatawan yang masih kedinginan bisa mengenakan selimut yang banyak disewakan.

Perjalanan berat pagi itu rupanya belum berbuah keberuntungan. Awan tebal menjadi penghalang. Matahari yang biasanya terbit pukul 05.00-05.30 belum juga terlihat. Sekitar pukul 06.00, matahari baru menyembul dari awan dengan garis merah kekuningan di batas cakrawala. Wisatawan pun bersorak. Mereka mengabadikan momen itu dengan beragam kamera. Sebagian lainnya memilih berfoto diri (selfie).

Ikatan batin

Bromo dan mentari paginya itu adalah momentum yang menjadi alasan banyak wisatawan merasa punya ikatan batin dengan gunung yang diyakini oleh masyarakat Tengger sebagai tempat bersemayam Dewa Brahma itu. Mereka pun ingin datang dan datang lagi.

”Tiga bulan lalu saya ke sini. Kini, saya datang lagi dengan mengajak teman-teman. Sekalian melihat upacara adat Tengger, Yadnya Kasada,” ujar Jujun Junarya yang berasal dari Banten. Sebagai fotografer yang mengkhususkan diri pada lanskap dan budaya, Jujun menilai Bromo dan subetnis Tenggernya memberi banyak titik menarik sebagai obyek foto.

Kompas/Iwan Setiyawan Sejumlah warga berebut menangkap sesaji yang dilemparkan suku Tenggger ke kawah Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, pada puncak perayaan Yadnya Kasada, Minggu (6/9/2009). Yadnya Kasada merupakan ritual warga suku Tengger dengan melarung hasil bumi atau ternak ke kawah Bromo sebagai wujud penghormatan terhadap nenek moyang mereka.
Ia teringat, tahun 2000 saat mengadakan pameran lanskap di Japan Foundation, Jakarta, sebuah foto Bromo pada malam hari saat Kasada dibeli oleh seorang warga negara India. Hal itu membuktikan bahwa keindahan Bromo diakui dan diketahui hingga ke mancanegara.

Ketagihan dengan Bromo juga dialami Rizki Dwi Putra, mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Malang, Jawa Timur. Ia sudah tiga kali datang ke Bromo, khusus untuk mengambil momen Yadnya Kasada. ”Kalau datang ke Bromo bersamaan upacara Kasada, kita mendapatkan menu lengkap, mulai dari pemandangan alam hingga ritual budaya,” ucapnya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.