Lonceng Penanda Awal Denyut Peradaban Palmerah

Kompas.com - 26/09/2014, 20:17 WIB
Meskipun Landhuis Djipang (warisan pejabat VOC Andries Hartsinck) telah dibongkar pada 1996, lonceng vila tersebut tetap lestari di Palmerah Selatan. Pembongkaran bangunan cagar budaya kerap terjadi di Jakarta atas dalih bisnis dan meluasnya pembangunan kota. Generasi penerus pun kehilangan ingatan sejarah mereka. Mahandis Y. Thamrin/NGIMeskipun Landhuis Djipang (warisan pejabat VOC Andries Hartsinck) telah dibongkar pada 1996, lonceng vila tersebut tetap lestari di Palmerah Selatan. Pembongkaran bangunan cagar budaya kerap terjadi di Jakarta atas dalih bisnis dan meluasnya pembangunan kota. Generasi penerus pun kehilangan ingatan sejarah mereka.
EditorNi Luh Made Pertiwi F
VILA megah milik Andries Hartsinck itu beratap gaya limasan yang ditudungi genting. Keberadaannya pernah menjadi markah sehamparan kawasan pertanian di pedalaman Batavia pada akhir abad ke-18.

Bangunan milik tuan tanah itu kelak dikenal sebagai Landhuis Djipang—sekitar Palmerah Selatan, Jakarta Pusat. Menurut Alwi Shahab, jurnalis senior dan pemerhati sejarah Jakarta, bangunan tersebut berada dalam kawasan yang pernah dijuluki sebagai Kampung Jepang.

Vila dengan atap bersudut lebar itu ibarat topi berpinggiran lebar yang menaungi beranda depan dan belakang. Pintu masuknya berukuran besar dan tinggi. Hiasan di atas pintu, berupa kaca dan bilah-bilah lubang angin, menunjukkan pengaruh Belanda yang kuat. Rumah sang tuan tanah itu merupakan penanda zaman, tatkala orang-orang Belanda telah beradaptasi dengan cuaca dan menerima kebudayaan setempat. Barangkali, inilah kearifan para pendatang Eropa saat itu—gaya Belanda-Tropis.

Hartsinck, lahir pada 1755 di Wageningen, Belanda. Dia pernah bertugas sebagai akuntan di Surabaya, dan menjabat residen di beberapa kota: Pekalongan, Rembang, dan Surakarta. Menikahi sembilan perempuan dan memiliki keturunan sepuluh anak, termasuk dua anak dari hubungan tak resmi dengan budaknya. Hubungan asmara majikan dan budak saat itu sangat lazim, yang kelak turut melahirkan peradaban budaya indis.

Berikut istri-istri Hartsinck: Saijo Boerat (anaknya bernama Johanna Susanna Hartsinck yang lahir pada 1777); Willemijntje (anaknya bernama Andries Hartsinck dan Paulus Hartsinck. Keduanya lahir pada 1791 dan 1794); Mida (anaknya bernama Pieter Hartsinck, lahir 1793; Roosje van Mandaar (anaknya bernama Frederik Ditloff Hartsinck, lahir 1800); Moetiara van Loean (anaknya bernama Balthazar Frederik Wilhelm Hartsinck, lahir 1800); Malatie van Mandaar (anaknya bernama Anna Hartsinck, lahir 1801); Matra (anaknya bernama Petronella Cornelia Hartsinck, lahir 1794); seorang pribumi mungkin budak (anaknya bernama Sara Cornelia Hartsinck); dan Moetiana van Boegis (anaknya bernama Anthonetta Henrietta Hartsinck).

Tampaknya, setelah purna-tugas dari Surakarta, Andries membangun vila mewah di kawasan pedesaan, jauh dari hiruk-pikuk Kota Batavia pada paruh kedua abad ke-18.

Satu vila berada di Palmerah Selatan yang dijuluki sebagai Landhuis Djipang—ada juga yang menyebutnya Landhuis Depan. Sementara beberapa ratus meter di belakang Landhuis Djipang, Hartsinck juga membangun vila dua lantai dengan atap bertingkat di Palmerah Barat, yang  kerap disebut sebagai Landhuis Grogol.

Landhuis Djipang pernah diungkap dalam sebuah catatan pada 1792, sebagai rumah tembok yang berada sekitar dua jam jalan kaki ke luar kota Batavia. Rumah itu dikelilingi persawahan padi dan sekitar seratusan ekor ternak.

Di halaman depan vila itu terdapat sebuah menara lonceng. Seperti pada rumah-rumah tuan tanah  abad ke-18, biasanya lonceng digunakan untuk menandai waktu awal dan akhir bekerja para budak yang tinggal di barak terpisah dari rumah majikannya.

"Fungsinya mirip kentongan orang Jawa, sungguh," ujar Liliek Suratminto, pengajar bahasa dan budaya Belanda di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Menurutnya, lonceng bisa berfungsi sebagai alat komunikasi, misalnya untuk mengumpulkan anggota keluarga, menyampaikan berita atau pengumuman penting, dan menandai aktivitas para budak. "Jadi tuannya tidak perlu teriak-teriak karena rumahnya sangat besar dan pekarangan sangat luas," ujar Liliek. "Dengan lonceng pekerjaan menjadi lebih praktis dan efisien."

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Sumber
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X