Sate, Wayang, Gita Gutawa dan Aroma Indonesia di London

Kompas.com - 26/10/2014, 16:57 WIB
dok. Ikon 2014/Patrick Tantra Lila Cita dengan pemain campuran warga dunia merupakan salah satu kelompok gamelan Bali terbaik di Inggris.
KOMPAS.com – Aroma sate dan ayam bakar merebak di halaman Kampus SOAS University of London, Minggu (18/10/2014). Tak hanya sate dan ayam, di bawah tenda-tenda putih itu, ada juga rendang, bakso, bakwan, pempek, dan rujak.

Di bawah payung bali dan umbul-umbul batik yang tergantung, warga Inggris, warga asing lainnya dan sejumlah warga Indonesia asyik menikmati aneka kuliner dari Indonesia sambil bercengkerama hangat di tengah udara khas musim gugur di London.

Meski terpaut ribuan mil, hari itu, “suasana Indonesia” dihadirkan melalui Festival Indonesia Kontemporer (Ikon) 2014. Festival yang digelar oleh lembaga nonprofit ArtiUk bekerja sama dengan SOAS dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di London ini memang menghadirkan seni dan budaya Indonesia sepanjang hari. Pada tahun keempat penyelenggaraannya, Ikon mengusung tema “Wayang”.

Tema ini begitu kental terasa ketika pengunjung beranjak ke dalam ruangan, Khalili Theatre namanya. Di ruangan itu, pengunjung bisa menyaksikan pertunjukan wayang golek yang didalangi oleh pasangan suami istri campuran Inggris-Sunda, Anna Ingleby dan Haviel Perdana.

Anna pernah belajar wayang dari dalang ternama, (Alm) Asep Sunandar Sunarya. Pendiri Indigo Moon Theatre itu pun kerap menggelar pertunjukan wayang di beberapa kota di Inggris bersama suaminya. Kali ini, kisah wayang yang dibawakan Anna dan Haviel bertutur tentang cacing nakal yang menyebabkan kekacauan ke mana pun dia pergi.

Tak hanya pertunjukan, suami istri ini juga membuka workshop membuat wayang golek. Jadi, anak-anak yang datang ke festival kali ini bisa latihan membuat wayang golek sendiri dengan menggunakan bahan-bahan daur ulang. Raut bahagia menghiasi wajah anak-anak dari berbagai latar belakang bangsa itu ketika mengetahui bahwa wayang golek buatan mereka boleh dibawa pulang.

dok. Ikon 2014/Patrick Tantra Penyanyi pop Indonesia Gita Gutawa yang sedang menyelesaikan studinya di London ikut meramaikan Indonesia Kontemporer 2014.

Ada wayang, tentu juga ada gamelan. Ada sejumlah kelompok gamelan yang tampil kali ini. Lila Cita yang memainkan Semar Pegulingan dan Segara Madu yang memainkan Gender Wayang. Setiap tahun, penampilan komunitas kesenian gamelan yang sebagian besar anggotanya terdiri dari warga negara Inggris ini selalu dinanti.

Ada pula, Jagat Gamelan, kelompok gamelan kontemporer  yang beranggotakan para pemain warga Inggris dan Indonesia dari beragam usia. Jagat berkolaborasi dengan penari topeng Margaret Coldiron yang merupakan warga Inggris serta Gita Gutawa, penyanyi muda Indonesia yang sedang belajar di Inggris. Gita menyanyikan sejumlah lagu tradisional dan lagu dari album terbarunya.

Selain wayang dan gamelan, festival tahun ini menampilkan duet Luke Green dan Anggerek Peretta yang mentransformasikan lagu-lagu Indonesia, seperti Bengawan Solo, Keroncong Moritsko, tari Saman oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) London, lalu ada fashion show dari Immy of London dengan rancangan modern yang berbasis kain Indonesia, baik batik maupun tenun. Sebagian dari rancangan itu bisa pula dibeli di barisan stand penjual barang kerajinan Indonesia dan berbagai produk lain, seperti tas, dan sarung bantal bercorak Indonesia.

Paket seni dan budaya ini juga diperkaya dengan pemutaran pemutaran film Unmasked, karya sutradara muda Indonesia lulusan Westminster University, Mayang Irsan, serta cerita mantan jurnalis Reuters, Elizabeth Pisani, tentang pengalaman yang menginspirasinya dalam menulis buku “Indonesia etc”.

“Saya selalu menikmatinya. Ini festival yang membuat hati gembira," ungkap seorang warga Inggris sambil menyantap makanan Indonesia.

Felicia Nayoan-Siregar, Direktur ArtiUK, penggagas Indonesia Kontemporer, mengatakan, sejak pertama digelar, festival ini tidak hanya melibatkan orang Indonesia, baik sebagai artis maupun orang-orang  yang  bekerja di belakang layar. Para warga asing, terutama yang mau dan mencintai budaya Indonesia, ikut dilibatkan untuk menjangkau animo yang lebih luas dari warga internasional.

“Tujuan Indonesia Kontemporer adalah menyebarkan seni dan budaya Indonesia ke Inggris. Namun pada saat yang bersamaan juga untuk merayakan hasil karya warga-warga asing yang terinspirasi oleh seni budaya Indonesia,” ungkapnya.

Simak foto-foto berikutnya:


dok. Ikon 2014/Patrick Tantra Tari topeng dibawakan oleh Margaret Coldiron yang pernah tinggal di Bali khusus untuk belajar menari.

dok.Ikon 2014/Heredia Sudarsyah Makanan asli Indonesia, seperti ayam bakar, yang dimasak di tempat menjadi salah satu daya tarik Indonesia Kontemporer.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorI Made Asdhiana
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X