Kota Palu Siap-siap Sambut Wisata Gerhana Matahari

Kompas.com - 25/12/2014, 17:40 WIB
Seekor burung terbang dengan latar belakang gerhana matahari parsial di Danau Hefner, Oklahoma City, 23 Oktober 2014. AP PHOTO / The Oklahoman, Sarah PhippsSeekor burung terbang dengan latar belakang gerhana matahari parsial di Danau Hefner, Oklahoma City, 23 Oktober 2014.
|
EditorI Made Asdhiana
JAKARTA, KOMPAS.com - Kesempatan langka bakal datang di Indonesia. Pada 9 Maret 2016, di beberapa daerah di Indonesia akan dilintasi Gerhana Matahari Total (GMT). Fenomena alam ini jarang terjadi. Kemungkinan peristiwa langka ini belum dapat disaksikan kembali dalam 40 tahun ke depan. Terakhir tercatat di tahun 1983 dan 1995. Namun di tahun 1995 hanya melintas singkat di Pulau Sangihe, pulau kecil di ujung utara Indonesia.

Sementara GMT 2016 akan melintasi banyak daerah, yaitu di Palu, Bengkulu, Palembang, Maluku Utara/Ternate, Balikpapan, dan Bangka Belitung. Sementara gerhana matahari parsial akan melintasi kota-kota  Pekanbaru, Medan, Padang, Batam, Jakarta, Kupang, dan Manado.

PATA Indonesia Chapter (PIC) sebagai badan promosi pariwisata dunia berusaha menggandeng pemerintah daerah, industri pariwisata, dan Kementerian Pariwisata, untuk mempromosikan momen GMT sebagai sebuah ajang wisata. Daerah yang diharapkan terlibat tentu saja daerah-daerah yang dilalui GMT. Sehingga, harapannya melalui momen GMT, daerah tersebut juga bisa dikenal di mata dunia.

Apalagi wisata gerhana memiliki banyak peminat. Para pemburu gerhana ini rela menghabiskan dana besar dan datang dari jauh, serta persiapan dari tahun-tahun sebelumnya, demi mengamati momen langka terjadinya gerhana. Indonesia tergolong kalah "start". Industri wisata asing seperti operator kapal pesiar atau agen perjalanan wisata yang mengelola tur tematik sudah menjual wisata GMT Indonesia 2016.

Oleh karena itu, pihak PIC tengah menghubungi para stakeholder di setiap daerah untuk ikut bekerja sama memanfaatkan momen tersebut. Ada beberapa daerah yang diincar.

"Bengkulu, Bangka Belitung, Ternate. Tapi kami sedang hubungi stakeholder di sana, apakah semangatnya seperti Palu (Sulawesi Tengah)," ungkap CEO PIC Poernomo Siswoprasetijo kepada Kompas Travel, Selasa (16/12/2014).

Ia mengaku Palu paling bersemangat dalam menggarap wisata GMT tersebut. Apalagi dari segi destinasi wisata juga yang ditawarkan lumayan lengkap, tak hanya GMT saja. Palu memang punya beragam obyek wisata, mulai dari wisata sejarah sampai wisata bahari. Seperti diungkapkan Wakil Walikota Palu Andi Mulhanan, paket wisata GMT bisa digabungkan dengan tur sebelum dan sesudah gerhana. Misalnya tur ke Lore Lindu yang terkenal dengan situs megalitikum atau juga menyelam di Teluk Tomini.

"Banyak obyek wisata yang bisa dipaketkan dengan Gerhana Matahari Total," katanya.

Sementara untuk GMT di Palu bisa dilihat dari Teluk Palu. Di Teluk Palu ini pula yang pernah menjadi tuan rumah Hari Nusantara 2013. Sekretaris Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Palu, Bambang Nugraha menuturkan sudah ada pembenahan di sekitar Teluk Palu.

"Kami persiapkan di tahun 2016, Teluk Palu sebagai tempat melihat GMT," tutur Bambang.

Ia mengaku sejauh ini hotel-hotel berbintang di Palu sudah mulai penuh dipesan oleh wisatawan yang ingin menyaksikan GMT. Tercatat wisatawan Jepang sudah memesan 55 kamar, Amerika Serikat 260 kamar, dan Inggris sekitar 75-100 kamar. Hotel berbintang di Palu antara lain Hotel Santika Palu, Hotel Mercure Palu, dan Swiss-belhotel Silae Palu.

"Rencananya akan ada Best Western dengan 144 kamar. Kemarin juga launching hotel Double R atau Roa-roa. Nanti ada hotel sultan," jelas Bambang.

Selain itu, Bambang juga menuturkan bahwa Palu sudah mulai menata untuk infrastruktur, seperti bandara yang sudah layak dikunjungi turis asing. Ia berharap ke depannya pariwisata Palu bisa berkelanjutan.

DOK KOMPAS TV Ramon Y Tungka menjajal paralayang di Kota Palu bersama Asgaf, seorang atlet paralayang profesional.
Poernomo juga mengungkapkan hal serupa. Ia berharap wisatawan tak hanya datang saat GMT terjadi, namun telah hadir sebelum gerhana dan bisa mengeksplor daerah tersebut. "Kita jadi bisa perkenalkan destinasi kita dengan baik, dari seni budaya dan alamnya. Demikian juga saat gerhana. Tidak saat terjadinya gerhana saja. Tetapi bagaimana wisatawan bisa dua minggu sebelumnya bisa menikmati Indonesia dan berkeliling Indonesia," katanya.

Oleh karena itu, pihaknya berharap program-program seperti post gerhana bisa digarap bersama oleh stakeholder. Sehingga terjadi promosi yang berkelanjutan agar Indonesia semakin dikenal dunia.

"Paket-paket bisa digarap bersama. Kami juga ingin ada misalnya Jazz Road to GMT. Tinggal kita lihat daerah mana yang kita ajak. Palu yang ternyata bersemangat, sehingga jadi prioritas utama. Program ini baru berhasil jika stakeholder dan pemda bersemangat," tuturnya.

PATA (Pacific Asia Travel Association) merupakan badan promosi pariwisata dunia yang beranggotakan sekitar 1.100 industri pariwisata dari 42 negara. Oleh karena itu, seperti diungkapkan Poernomo, PATA memiliki kemampuan untuk turut mempromosikan wisata tersebut ke mancanegara. Nah, tinggal menunggu saja apakah daerah lain yang dilintasi GMT juga memiliki semangat yang sama memanfaatkan momen GMT untuk pariwisata.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X