Kompas.com - 07/03/2015, 09:10 WIB
Dalam foto yang diambil pada 23 Mei 2010 ini, seorang sherpa asal Nepal sedang membersihkan sampah yang ditinggalkan para pendaki Gunung Everest di ketinggian 8.000 meter di atas permukaan laut. Mulai April mendatang, pemerintah Nepal mengharuskan tiap pendaki membawa turun setidaknya delapan kilogram sampah dari puncak gunung itu. NAMGYAL SHERPA / AFPDalam foto yang diambil pada 23 Mei 2010 ini, seorang sherpa asal Nepal sedang membersihkan sampah yang ditinggalkan para pendaki Gunung Everest di ketinggian 8.000 meter di atas permukaan laut. Mulai April mendatang, pemerintah Nepal mengharuskan tiap pendaki membawa turun setidaknya delapan kilogram sampah dari puncak gunung itu.
|
EditorI Made Asdhiana

KOMPAS.com – Sherpa, pemandu pendaki Gunung Everest, di Nepal mengklaim bahwa sampah yang ditinggalkan oleh pendaki telah mencemari kebersihan lereng Gunung Everest dan berpotensi menyebarkan penyakit.

"Kotoran manusia yang menumpuk selama puluhan tahun mengeluarkan bau yang tidak menyenangkan," kata Ang Tshering Sherpa, Ketua Asosiasi Pendaki Gunung Nepal, seperti yang dikutip dari Reuters.

Dengan ratusan pendaki yang melewati pemandangan terbesar di Himalaya, ada kekhawatiran bahwa gunung tertinggi di dunia ini akan penuh sesak. (Baca: Biaya Pendakian ke Everest Diturunkan)

Sherpa mengatakan kotoran manusia sekarang menjadi masalah yang lebih besar daripada botol oksigen, tenda robek, tangga rusak, dan kaleng atau bungkus yang tertinggal di Everest.

“Dibuang di lubang es, kotoran manusia tetap berada di bawah salju. Ketika disapu oleh gletser (ketika salju mencair), kotoran itu akan kembali muncul," katanya.

Ia menambahkan bahwa kotoran itu juga menimbulkan bahaya bagi kesehatan masyarakat yang bergantung pada air sungai yang berasal dari gletser yang mencair.

Pendaki Gunung Everest mengatakan mereka sering terpaksa jongkok di tempat terbuka atau bersembunyi di balik batu untuk mengeluarkan kotoran itu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Standar kebersihan sangat rendah," kata Michelle Jana Chan, penulis Telegraph Travel. 

“Ketika ada antrean untuk menggunakan fasilitas yang telah disediakan, mereka akan menggali lubang di tempat lain atau mungkin mereka tidak akan repot untuk melakukan itu. Situasi hanya akan memburuk. Jika Anda tiba di tempat kemah yang kotor, Anda akan berpikir tidak masalah untuk menambah kotor," katanya.

Ia menuturkan tempat kemah di Himalaya, khususnya jalur pendakian menuju puncak tertinggi telah mengalami masalah yang serius.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

9 Tips Menjaga Tas dan Koper Tidak Rusak atau Dicuri Saat Bepergian

9 Tips Menjaga Tas dan Koper Tidak Rusak atau Dicuri Saat Bepergian

Travel Tips
RedDoorz Beri Promo Harbolnas 12.12, Harga Kamar Mulai Rp 120.000

RedDoorz Beri Promo Harbolnas 12.12, Harga Kamar Mulai Rp 120.000

Travel Promo
8 Cara Mengatasi Mabuk Udara di Pesawat, Kurangi Makan Makanan Asin

8 Cara Mengatasi Mabuk Udara di Pesawat, Kurangi Makan Makanan Asin

Travel Tips
Artotel Group Bakal Fokus ke Teknologi pada 2022

Artotel Group Bakal Fokus ke Teknologi pada 2022

Travel Update
5 Cara Temukan Kursi Terbaik dan Ternyaman di Pesawat

5 Cara Temukan Kursi Terbaik dan Ternyaman di Pesawat

Travel Tips
Penutupan Akses ke Tempat Wisata Gunung Salak Aceh Utara Diperpanjang

Penutupan Akses ke Tempat Wisata Gunung Salak Aceh Utara Diperpanjang

Travel Update
Perancis Perketat Kebijakan untuk Turis Asing guna Cegah Omicron

Perancis Perketat Kebijakan untuk Turis Asing guna Cegah Omicron

Travel Update
Penyekatan di Check Point di Yogyakarta Saat Nataru Tidak Boleh Dilakukan

Penyekatan di Check Point di Yogyakarta Saat Nataru Tidak Boleh Dilakukan

Travel Update
Satpol PP Yogyakarta Bakal Lakukan Pemeriksaan Surat Kesehatan untuk Turis di Malioboro

Satpol PP Yogyakarta Bakal Lakukan Pemeriksaan Surat Kesehatan untuk Turis di Malioboro

Travel Update
Tips Aman Bepergian di Tengah Kasus Varian Baru Covid-19

Tips Aman Bepergian di Tengah Kasus Varian Baru Covid-19

Travel Tips
Aturan PCR Saat Nataru untuk Anak Usia di Bawah 12 Tahun Dinilai Mempersulit

Aturan PCR Saat Nataru untuk Anak Usia di Bawah 12 Tahun Dinilai Mempersulit

Travel Update
Angkasa Pura I Catat Kenaikan Pergerakan Penumpang Tertinggi pada November 2021

Angkasa Pura I Catat Kenaikan Pergerakan Penumpang Tertinggi pada November 2021

Travel Update
PPKM Level 3 Nataru Batal, Pemerintah Yogyakarta Tetap Terapkan Sanksi untuk Pelanggar Protokol Kesehatan

PPKM Level 3 Nataru Batal, Pemerintah Yogyakarta Tetap Terapkan Sanksi untuk Pelanggar Protokol Kesehatan

Travel Update
Kawasan Malioboro Yogyakarta Tidak Menerapkan Penyekatan saat Nataru

Kawasan Malioboro Yogyakarta Tidak Menerapkan Penyekatan saat Nataru

Travel Update
Daftar Desa Wisata Pemenang Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021

Daftar Desa Wisata Pemenang Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.