Kompas.com - 12/04/2015, 18:52 WIB
Tugu Toleransi terlihat dari puncak Bukit Kasih. KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQTugu Toleransi terlihat dari puncak Bukit Kasih.
EditorI Made Asdhiana
DI puncak bukit itu ada burung merpati. Ia menjadi simbol kasih dan perdamaian. Itulah Bukit Kasih di Desa Kanonang, Kecamatan Kawangkoang, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.

Hujan belum sepenuhnya reda ketika kami tiba di Bukit Kasih. Tampak bangunan menjulang setinggi 25 meter yang ternyata ialah Tugu Toleransi. Badan tugu ini berbentuk pentagonal yang pada setiap sisinya tertulis cuplikan ayat kitab suci dari berbagai agama, yakni Katolik, Islam, Hindu, Buddha, dan Kristen. Maka, orang-orang menyebut kawasan ini Bukit Kasih. Adapun nama resminya adalah Bukit Kasih Toar Lumimu’ut Kanonang. Toar dan Lumimu’ut adalah leluhur orang Minahasa. Wajah keduanya terpahat pada dinding tebing sekitar 500 meter dari Tugu Kasih.

”Di sana juga ada bangunan rumah ibadah lima agama. Kalau mau ke sana, saya siap mengantar,” kata Leo Paendong (10), bocah yang mencari uang jajan sebagai pemandu. Setiap sepulang sekolah, dia ke Bukit Kasih mencari pelancong.

Samar-samar tampak kubah masjid dan tanda salib, tetapi kabut terlalu tebal sehingga bangunan itu tak tampak utuh. Kabut juga mengesankan bangunan-bangunan itu begitu jauh untuk dijangkau. Sambil berjalan menuju bukit, kita bisa mampir ke warung yang menjual minuman panas dan jagung bakar.

Sesampai di warung milik Medi Walangitan (41), bukannya kami ditawari makan atau minum, melainkan pijit. Beberapa ibu usia paruh baya meminta pengunjung agar duduk dan merendam kaki. Mereka menunjuk kolam-kolam kecil berisi air hangat dengan asap mengepul. Aroma belerang memenuhi ruang hidung.

Air-air hangat itu hangat alami oleh panas bumi. Lokasi Bukit Kasih berada di lereng Gunung Soputan yang masih aktif. Kami berlima duduk berjajar menikmati kaki-kaki kami direndam air hangat campur belerang sambil dipijit ibu-ibu. Lumayan, pegal-pegal setelah berkendara sekitar 45 kilometer dari Manado berkurang.

KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ Relief prosesi penyaliban yang terdapat di sepanjang tangga menuju puncak Bukit Kasih.
Salah satu pemijat, Arni Sondakh (61), menjelaskan, para tukang pijat ini dilatih secara khusus oleh petugas dari Dinas Pariwisata Kabupaten Minahasa. ”Dua minggu kami dilatih memijat dan cara menyambut tamu. Dengan begitu, kami tahu bagaimana bersikap kepada para pengunjung sehingga tak ada kesan jelek,” ujarnya.

Mereka semula penjual cendera mata, tetapi penghasilan terus menurun karena semakin banyak penjual cendera mata di Bukit Kasih. Melihat peluang penghasilan dengan memijat, mereka bersedia dilatih. Dalam sehari, mereka memperoleh uang Rp 60.000 sampai Rp 100.000. Pada saat libur panjang atau akhir pekan, penghasilan bisa meningkat hingga dua kali lipat. ”Asal tidak hujan. Kalau hujan, banyak yang malas turun dari mobil,” ucap Selvi Rondonuwu (34), rekan Arni.

Seusai pijat, kami menikmati teh manis panas dan jagung bakar. Udara dingin Bukit Kasih menambah nikmat minuman dan makanan hangat itu.

Kisah sengsara

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.