Dua Sisi Koin Tren Wisata Alam

Kompas.com - 16/04/2015, 16:40 WIB
Ilustrasi menyelam ARSIP KOMPAS TVIlustrasi menyelam
EditorI Made Asdhiana
SNORKELING, diving, hiking, camping, island hopping. Istilah ini kian akrab di telinga dan menjadi agenda yang dipatok kala waktu berlibur tiba. Media sosial, film, dan buku yang mengangkat kisah-kisah seru bertualang di alam terbuka menjadi salah satu pendorong tingginya minat masyarkat Indonesia dewasa ini untuk kembali bercengkerama dengan alam.

Bertualang di alam bebas menjadi tren pariwisata sekaligus gaya hidup baru yang diusung warga urban. Bentang alam yang luas, cantik di daratan dan memukau di bawah laut, membawa nama Indonesia mencuat di antara destinasi wajib petualang dunia. Gairah ini pun menular di kalangan anak muda dalam negeri.

Namun, berwisata alam tak semata menenggak sensasi bertualang, melainkan juga mengasah kepekaan konservasi lingkungan tiap orang. Gaung ekowisata memang kian santer, tetapi nyatanya belum semua pihak memahami dan menerapkannya.

Bentang ironi

Wisata bahari yang kian populer tak bisa dimungkiri membuka keran ekonomi bagi masyarakat sekitar. Namun juga mendatangkan tantangan ekologis, mengingat tidak semua pengunjung dibekali pengetahuan dasar mengenai cara memperlakukan ikan dan terumbu karang yang menjadi sang magnet.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Wisatawan asing dalam perjalanan menuju Pulau Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Kamis (12/5/2014).
Tren gaya hidup baru bertualang alam ini pada akhirnya memperlihatkan sebuah ironi. Meski larangan mengangkat ubur-ubur dari permukaan air jelas terpampang di sisi dermaga Kakaban, masih saja ada yang dengan bangga mengangkatnya tinggi-tinggi. Tindakan ini dapat membahayakan hidup ubur-ubu tanpa sengat tersebut. Demikian pula meski sudah diberitahu untuk tidak menggunakan tabir surya sebelum berenang di Kakaban untuk melindungi ekosistem perairan, tetap saja ada yang membubuhkannya. Dengan alasan, agar kulit tak menjadi gosong terbakar matahari.

Tidak sedikit orang dengan sengaja mengambil terumbu karang dari dasar laut, menginjakkan kaki di atasnya sehingga patah, bahkan ada yang menampilkan foto bersepeda di atas terumbu karang. Kegiatan terakhir menimbulkan kecaman di sosial media, sekaligus mengingatkan kembali akan perlunya kampanye menjadi petualang bertanggung jawab.

Kebiasaan memberi makan roti pada ikan saat snorkeling agar ikan-ikan mendekati diri kita juga bisa membawa bencana. Selain mengganggu pola makan alami, roti yang beragi dapat merusak kehidupan terumbu karang.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Air Terjun Cunca Wulang di Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Semakin banyaknya pengunjung yang menyambangi pulau-pulau eksotis pun membawa sampah-sampah plastik yang terus menggunung. Tidak sedikit yang tersangkut di dasar laut, termakan kawanan ikan, dan pada akhirnya mengganggu ekosistem lingkungan. Ketika hal ini ditanyakan pada penduduk setempat yang menggantungkan hidup pada laut, tak sedikit yang menganggapnya sepele. Mereka percaya sampah akan dibawa pergi oleh ombak sehingga dengan sendirinya pantai dan laut kembali bersih.

Masalah sampah pula yang menjadi kecemasan para pencinta Gunung Semeru, Jawa Timur. Semakin populernya gunung ini sejak diangkat menjadi salah satu latar cerita novel dan layar lebar, membuatnya makin kebanjiran pendaki. Sayangnya, banjir pendaki ini juga melahirkan banjir sampah. Banyak pendaki yang tak membawa turun sampah sepulang dari puncak.

Sorotan sampah ini pun menggelayuti eksotisme Pulau Sempu. Dulu dikenal sebagai tempat favorit untuk menyepi dalam balutan alam cantik dan beralaskan pasir putih. Kini ia sesak dengan tenda warna-warni dan onggokan sampah yang ditinggalkan para penikmatnya.

ARSIP KOMPAS TV Ramon Y Tungka di Raja Ampat, Papua.
Wisatawan asing yang datang karena berita kecantikan berbagai tempat di Indonesia tak jarang kecewa karena yang terlihat tumpukan sampah. Masih banyak lagi ironi yang bisa ditemui di berbagai penjuru di Indonesia. Bukan tak mungkin jika cerita Indonesia sebagai destinasi wisata alam tinggal sekadar cerita. Ekosistem terganggu, kehidupan masyarakat sekitar juga akan terpengaruh. Ekonomi lokal pun sulit berjalan.

Tak ada yang salah dari menikmati keindahan Sang Pencipta, selagi tetap memegang “rambu-rambu”. Sebelum bercengkerama dengan binatang, tumbuhan, lingkungan sekitar dan membuat foto yang menjadi buah bibir kala berlibur, tak ada salahnya tanyakan hal ini terlebih dulu. “Makhluk hidup mana yang sudi ketenangannya diganggu?” (ADT)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X