Kompas.com - 17/08/2015, 11:23 WIB
EditorI Made Asdhiana
MOMEN peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia sudah lazim diisi berbagai acara, seperti lomba, tirakatan, dan upacara bendera. Namun, di Museum Benteng Heritage di pusat Kota Tangerang, suasana peringatan kemerdekaan ini mendapat warna lain saat menyimak lantunan ”Indonesia Raya” dari sebuah piringan hitam.

Sekeping piringan hitam tersimpan rapi di salah satu ruang lantai dua Museum Benteng Heritage (MBH). Di bagian tengah cakram itu terdapat label bulat berukuran sedang.

Dasar label berwarna putih dengan kombinasi warna biru langit. Pada label itu tercetak beberapa garis lurus dan lingkaran serta tulisan berwarna merah.

Pada bagian atas label tertulis Electric Recording. Di bawahnya tertera tulisan Yo Kim Tjan. Lalu, ada tulisan ”British Made” dan ”Indonesia Raja”. Di bawahnya lagi tertulis kalimat: ”dimainken oleh populair orchest”. Paling bawah tertera tulisan yang sudah agak buram: Gecompomeeod Door WR Soepratman.

”Ini adalah piringan hitam lagu ’Indonesia Raya’ asli dari Pak Yo Kim Tjan. Beliaulah yang pertama kali merekam ’Indonesia Raya’ ke dalam piringan hitam. Piringan hitam ini dititipkan keluarga Yo Kim Tjan di sini,” kata Udaya Halim, pemilik sekaligus pengelola MBH, pekan lalu.

Hari itu, Udaya yang memandu rombongan dari Harmony Tour pimpinan Hendro Tedjowidjojo dan Kompas menelusuri jejak sejarah Indonesia dan warga Tionghoa dalam museum tersebut. Piringan hitam bersejarah itu hanya satu dari sejumlah benda koleksi yang menunjukkan peran warga Tionghoa dalam sejarah Indonesia.

Berada satu ruangan dengan piringan hitam ini, terdapat berbagai koleksi alat pemutar lagu dari masa ke masa, termasuk Edison Phonograph buatan 1890-an. Juga dipajang berbagai koleksi kamera tua yang masih bisa menghasilkan gambar berkualitas tinggi. Peminat musik dan fotografi akan belajar banyak tentang sejarah kamera dan musik di ruangan ini.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO Museum Benteng Heritage di dalam kompleks Pasar Lama Kota Tangerang.
Museum ini juga menyimpan banyak hal unik di balik sejarah kehidupan etnik Tionghoa di masa lalu. Sebut saja cerita sejarah dan benda-benda peninggalan armada Cheng Ho (1405-1433) yang datang ke Nusantara dengan rombongan 300 kapal jung besar dan kecil membawa hampir 30.000 orang.

Menurut Udaya, sebagian dari rombongan ini, yang dipimpin Chen Ci Lung, mendarat di Teluk Naga, Tangerang, tahun 1407. Rombongan itu diyakini sebagai nenek moyang penduduk Tionghoa Tangerang atau yang lebih populer dengan sebutan warga Cina Benteng.

Saat berkeliling di lantai dua, beberapa sepatu mini yang dipajang dalam ruang kaca menarik perhatian. Meski terlihat seperti sepatu anak-anak, lanjut Udaya, sepatu-sepatu itu dulunya dipakai wanita dewasa di Tiongkok. ”Sejak kecil kaki mereka sudah ditekuk dan diikat sehingga tulang kaki tidak berkembang menjadi besar,” tutur Udaya yang menambahkan tradisi itu baru mulai dihapus di daratan Tiongkok pada 1911.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Marriott International Buka 14 Properti Baru di Asia Pasifik pada 2023

Marriott International Buka 14 Properti Baru di Asia Pasifik pada 2023

Travel Update
4 Lokasi Syuting Drakor Little Women di Singapura

4 Lokasi Syuting Drakor Little Women di Singapura

Jalan Jalan
Ulang Tahun Kota Yogyakarta 7 Oktober, Simak Rangkaian Acaranya

Ulang Tahun Kota Yogyakarta 7 Oktober, Simak Rangkaian Acaranya

Travel Update
Wisata ke Anjungan Yogyakarta di TMII, Ada Tempat Penyimpanan Keris

Wisata ke Anjungan Yogyakarta di TMII, Ada Tempat Penyimpanan Keris

Jalan Jalan
26 Juta Wisatawan Kunjungi Jawa Tengah hingga Agustus 2022

26 Juta Wisatawan Kunjungi Jawa Tengah hingga Agustus 2022

Travel Update
34 Negara yang Aman untuk Perempuan Traveling Sendirian

34 Negara yang Aman untuk Perempuan Traveling Sendirian

Jalan Jalan
5 Tempat Wisata di Jawa Barat dan Legenda di Baliknya

5 Tempat Wisata di Jawa Barat dan Legenda di Baliknya

Jalan Jalan
Ritual Taber Laut di Bangka Akan Digelar Lagi Desember 2022

Ritual Taber Laut di Bangka Akan Digelar Lagi Desember 2022

Travel Update
Spanyol Akan Luncurkan Visa Digital Nomad, Turis Bisa Kerja Sambil Liburan

Spanyol Akan Luncurkan Visa Digital Nomad, Turis Bisa Kerja Sambil Liburan

Travel Update
5 Rumah Adat Nusa Tenggara Barat, Bukti kekayaan Budaya Nusantara

5 Rumah Adat Nusa Tenggara Barat, Bukti kekayaan Budaya Nusantara

Travel Update
Batik Sembung di Yogyakarta, Lestarikan Budaya dengan Belajar Membatik

Batik Sembung di Yogyakarta, Lestarikan Budaya dengan Belajar Membatik

Travel Update
12 Desa Wisata Manggarai Timur NTT, Banyak Kekayaan Alam dan Budaya

12 Desa Wisata Manggarai Timur NTT, Banyak Kekayaan Alam dan Budaya

Jalan Jalan
Sembungan, Desa Tertinggi di Pulau Jawa yang Punya Banyak Wisata

Sembungan, Desa Tertinggi di Pulau Jawa yang Punya Banyak Wisata

Jalan Jalan
Meriahnya Parade Berkebaya di Solo Bersama Ibu Negara, Peringati Hari Batik Nasional 2022

Meriahnya Parade Berkebaya di Solo Bersama Ibu Negara, Peringati Hari Batik Nasional 2022

Travel Update
Ulang Tahun ke-266, Yogyakarta Gelar Banyak Acara Wisata

Ulang Tahun ke-266, Yogyakarta Gelar Banyak Acara Wisata

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.