Kompas.com - 13/10/2015, 08:16 WIB
EditorI Made Asdhiana
BOGOR, KOMPAS - Hanya 54 dari 514 atau satu dari 10 kabupaten/kota tergabung dalam Jaringan Kota Pusaka Indonesia. Hal ini mencerminkan minimnya perhatian terhadap pelestarian pusaka.

Pusaka terdiri dari monumen atau bangunan sejarah, lanskap atau alam, budaya, dan monumen-alam-budaya atau saujana. Setiap kabupaten/kota di Indonesia diyakini memiliki pusaka yang perlu dilestarikan, dibanggakan, dan menjadi sumber inspirasi kehidupan.

”Pusaka menandakan karakter, jati diri, dan peradaban masyarakat,” kata Ketua Dewan Pembina Badan Pelestarian Pusaka Indonesia Hashim Sujono Djojohadikusumo dalam jumpa pers di sela-sela Temu Kota Pusaka 2015, di Balai Kota Bogor, Sabtu (10/10/2015).

Baru 54 daerah yang tergabung dalam JKPI menandakan sedikit yang sudah sadar dan mau terlibat melestarikan. Namun, komitmen pelestarian oleh pemerintah, kata Hashim, perlu terus-menerus ditagih. ”Perhatian pemerintah masih minim,” katanya.

Pernyataan itu seakan sesuai dengan kondisi di Kota Bogor yang sudah tergabung dalam JKPI. Pada 2007, terdata 835 bangunan dan benda bersejarah. Sayang, pendataan tidak berlanjut dengan dokumentasi, penulisan, apalagi kampanye pelestarian. Pada 2014, Pemerintah Kota Bogor mengajukan perlindungan hukum terhadap 244 peninggalan sejarah ke pemerintah pusat.

Data tersebut menunjukkan betapa kekayaan pusaka merupakan milik masyarakat yang ternyata rentan dihilangkan dan dihancurkan. Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengatakan, telah menerbitkan Peraturan Wali Kota Bogor Nomor 17 Tahun 2015 tentang Kota Pusaka untuk melindungi bangunan cagar budaya. Sedang didorong penerbitan peraturan daerah tentang kota pusaka sebagai instrumen hukum yang lebih kuat.

Pariwisata

Hashim dan Bima ternyata sependapat bahwa pelestarian pusaka bukan bertujuan untuk daya tarik pariwisata. Memang, keunikan pusaka bisa menarik kedatangan orang atau turis sehingga ekonomi pariwisata bergairah. Namun, jika daya tarik itu mendatangkan kepadatan orang, kata Hashim, bisa mengancam kelestarian pusaka itu sendiri.

”Saat ini sudah lazim beberapa lokasi wisata membatasi pengunjung dan bisnis baru,” katanya.

Bima mencontohkan Kebun Raya Bogor perlu dipertimbangkan tidak lagi menjadi obyek wisata massal. Kejadian pohon tumbang yang menewaskan beberapa orang pada awal 2015 mengindikasikan kerentanan obyek wisata massal. Ke depan, perlu dipertimbangkan pembatasan kunjungan ke Kebun Raya Bogor agar tujuan penelitian botani bisa lebih dimaksimalkan. (BRO)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

18 Tempat Wisata Malioboro dan Sekitarnya, Cukup Jalan Kaki

18 Tempat Wisata Malioboro dan Sekitarnya, Cukup Jalan Kaki

Jalan Jalan
Pengunjung Antusias Kunjungi Balai Yasa Manggarai, Bengkel Kereta Api di Jakarta

Pengunjung Antusias Kunjungi Balai Yasa Manggarai, Bengkel Kereta Api di Jakarta

Travel Update
6 Pantai di Bali Barat, Asri dan Belum Banyak Dikunjungi

6 Pantai di Bali Barat, Asri dan Belum Banyak Dikunjungi

Jalan Jalan
Paspor Biasa dan Elektronik Sama-sama Sah, Bisa ke Negara Mana Pun

Paspor Biasa dan Elektronik Sama-sama Sah, Bisa ke Negara Mana Pun

Travel Update
Amaris Online Travel Fair 2022, Nginap Mulai Rp 200.000-an Per Malam

Amaris Online Travel Fair 2022, Nginap Mulai Rp 200.000-an Per Malam

Travel Promo
Perlahan Pulih dari Pandemi, Tari Kecak Uluwatu Ditonton 1.200 Orang Sehari

Perlahan Pulih dari Pandemi, Tari Kecak Uluwatu Ditonton 1.200 Orang Sehari

Travel Update
DAMRI Layani Rute Stasiun Rangkasbitung-Pantai Sawarna Mulai Rp 50.000

DAMRI Layani Rute Stasiun Rangkasbitung-Pantai Sawarna Mulai Rp 50.000

Travel Update
Balai Yasa Manggarai Dibuka untuk Tur Edukasi, Hanya sampai Besok

Balai Yasa Manggarai Dibuka untuk Tur Edukasi, Hanya sampai Besok

Jalan Jalan
Stasiun Samarang NIS, Stasiun Kereta Api Pertama Indonesia yang Hilang

Stasiun Samarang NIS, Stasiun Kereta Api Pertama Indonesia yang Hilang

Jalan Jalan
Menanti Dibukanya Alun-alun Bandungan di Semarang

Menanti Dibukanya Alun-alun Bandungan di Semarang

Travel Update
Pertemuan Menteri Pariwisata Anggota G20 Sepakati 5 Poin Bali Guidelines

Pertemuan Menteri Pariwisata Anggota G20 Sepakati 5 Poin Bali Guidelines

Travel Update
5 Tempat Ngeteh Instagramable di Jakarta

5 Tempat Ngeteh Instagramable di Jakarta

Jalan Jalan
Kunjungi Kampung Adat, Turis Portugal Pakai Kain Songke dan Selendang Manggarai

Kunjungi Kampung Adat, Turis Portugal Pakai Kain Songke dan Selendang Manggarai

Jalan Jalan
7 Tips Aman Berkendara di Jalan Tol agar Tidak Kecelakaan

7 Tips Aman Berkendara di Jalan Tol agar Tidak Kecelakaan

Travel Tips
3 Tren Terkini Pariwisata di Indonesia, Ada Sport Tourism

3 Tren Terkini Pariwisata di Indonesia, Ada Sport Tourism

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.