Garut Kembangkan Situ Cangkuang sebagai Wisata Budaya

Kompas.com - 27/01/2016, 11:08 WIB
Sejumlah turis mancanegara mendengar penjelasan dari pemandu wisata tentang keberadaan Candi Cangkuang di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Senin (2/6/2014). Setiap bulannya sekitar 10 ribu wisatawan mengunjungi Situ Cangkuang. TRIBUN JABAR/FIRMAN WIJAKSANASejumlah turis mancanegara mendengar penjelasan dari pemandu wisata tentang keberadaan Candi Cangkuang di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Senin (2/6/2014). Setiap bulannya sekitar 10 ribu wisatawan mengunjungi Situ Cangkuang.
EditorI Made Asdhiana
BANDUNG, KOMPAS.com - Pemerintah Kabupaten Garut, Jawa Barat, berupaya mengembangkan obyek wisata Situ Cangkuang sebagai kawasan wisata budaya yang memiliki nilai jual dan menarik bagi wisatawan domestik maupun asing.

"Banyak yang akan kita gagas, nanti Cangkuang akan dijadikan wisata budaya, targetnya 2016 wisata budaya itu," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Garut, Budi Gan Gan Gumilar kepada wartawan di Bandung, Selasa (26/1/2016).

Ia menuturkan sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk melakukan pembenahan kawasan obyek wisata agar lebih menarik dan memberikan pelayanan serta menyediakan sarana dan prasarana yang nyaman.

Menurut Budi, Situ Cangkuang degan cagar budayanya di Kecamatan Leles itu merupakan wisata unggulan di Garut yang banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun asing.

"Situ Cangkuang itu sangat menarik untuk dikunjungi, dan kita punya gagasan agar menjadi wisata budaya yang menjual," katanya.

ERISTO SUBYANDONO Candi Cangkuang di Garut, Jawa Barat.
Budi menjelaskan upaya pengembangan wisata budaya itu di antaranya membenahi rumah adat Kampung Pulo tersebut agar lebih bersih mulai dari kamar mandi hingga halaman rumahnya.

"Kita sudah ketemu degan ketua adatnya agar diterapkan hidup bersih, budaya bersih, kamar mandinya bersih, halaman bersih, meskipun budaya mereka sebenarnya sudah bersih," katanya.

Ia menambahkan wisatawan juga dapat melakukan aktivitas di sawah seperti mencangkul, ngobor, atau mencari belut yang memberikan kesan menarik.

Selanjutnya masyarakat kampung sekitar untuk mempertahankan budaya memasak menggunakan tungku, kemudian menawarkan makanan sekaligus mengajak makan di sawah atau di kebun.

"Nanti penyajiannya atau cara masaknya harus bersih, lalu diajak budaya antaran sangu (nasi) ke sawah, atau ditawarin makan di sawah atau di kebun," katanya.

Halaman:


Sumber Antara
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X