Kompas.com - 15/08/2016, 16:43 WIB
Ibu Bagyo saat melayani pembeli makanan tempo dulu di Pasar Kangen Jogja, Kamis (21/7/2016). KOMPAS.COM/WIJAYA KUSUMAIbu Bagyo saat melayani pembeli makanan tempo dulu di Pasar Kangen Jogja, Kamis (21/7/2016).
|
EditorI Made Asdhiana

JAKARTA, KOMPAS.com - Cintai produk dalam negeri beberapa tahun belakangan marak dikampanyekan oleh pemerintah bagi masyarakat Indonesia. Salah satu produk dalam negeri juga bentuk budaya suatu bangsa adalah masakan. Namun apa benar jika warga Indonesia sudah sepenuhnya cinta akan kuliner di negerinya sendiri? 

"Persoalannya bukan pada rasa, tetapi persoalannya kita tak pernah merayakan masakan Indonesia itu apa. Kita kebanyakan tidak kenal dan akhirnya kalah dalam perayaan kuliner," kata Sejarawan JJ Rizal dalam acara peluncuran kembali buku "Mustika Rasa", di Kedai Tjikini, Jakarta, Minggu (14/8/2016).

(BACA: Mustika Rasa, "Kitab" Kuliner Indonesia Warisan Soekarno Terbit Kembali)

JJ Rizal menjelaskan jika saat ini masyarakat Indonesia hanya menjadi konsumen yang menerima secara mentah kuliner negara lain. "Kalau ke jalan restoran Padang mulai disaingi restoran Korea. Ini bukan soal rasa, tetapi jadi soal kalau kita tak bisa menolak dan menjadikan bagian dari makanan kita di masa lalu," kata JJ Rizal.

Ia memberi contoh perbedaan dengan masyarakat Indonesia zaman lampau yang justru dapat menerima kebudayaan bangsa lain yang masuk, tetapi dapat memodifikasinya kembali. Misalnya saja kue poffertjes jadi kue cubit, selat solo, cap cay, dan makanan lainnya.  

"Ironinya kita pernah punya kepala negara dan pendiri Indonesia (Ir Soekarno) yang berusaha mendekonstruksi kita, membuat buku untuk mendefinisikan kuliner Indonesia. Itu adalah salah satu politik dalam berkebudayaan. Makanan adalah unsur yang penting dalam kepbribadian bangsa, wajah muka Indonesia," katanya.

KOMPAS/PINGKAN ELITA DUNDU Nasi Jamblang
Perlu diketahui Soekarno pada tahun 1967 menerbitkan buku "Mustika Rasa" yang merupakan dokumentasi kuliner Indonesi saat itu. Buku tersebut tercatat sebagai satu-satunya buku dokumentasi kuliner Indonesia yang dibuat secara resmi oleh negara sampai saat ini. 

"Syukurlah banyak yang merayakan kuliner saat ini, tetapi hanya rasanya saja. Tak ada buku besar sebagai contoh dan panutan. Ayo dong negara urus makanan karena kemerdekaan itu urusannya sandang, pangan, papan. Dulu negara menjadikan makanan sebagai sesuatu yang serius, dan makanan dijadikan tulang punggung," kata JJ Rizal.

Selain itu ia juga menggangap dokumentasi kuliner penting sebagai 'alat tempur' untuk menggempur datangnya berbagai kebudayaan khususnya kuliner dari negara lain. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

15 Wisata Bantul Yogyakarta dengan Pemandangan Alam Instagramable

15 Wisata Bantul Yogyakarta dengan Pemandangan Alam Instagramable

Jalan Jalan
Pemerintah Kota Yogyakarta Siapkan Jalur Skuter Listrik di Kotabaru

Pemerintah Kota Yogyakarta Siapkan Jalur Skuter Listrik di Kotabaru

Travel Update
Wisata ke Rowo Bayu Banyuwangi, Diduga Lokasi Asli KKN di Desa Penari

Wisata ke Rowo Bayu Banyuwangi, Diduga Lokasi Asli KKN di Desa Penari

Jalan Jalan
Rahasia Ruangan yang Terkunci di Taj Mahal, Benarkah Ada Kuil Hindu?

Rahasia Ruangan yang Terkunci di Taj Mahal, Benarkah Ada Kuil Hindu?

Jalan Jalan
8 Motif Batik Betawi dari Jakarta yang Bernilai Sejarah dan Budaya

8 Motif Batik Betawi dari Jakarta yang Bernilai Sejarah dan Budaya

Jalan Jalan
Festival Dugong di Alor NTT, Upaya Pemulihan Ekonomi lewat Pariwisata

Festival Dugong di Alor NTT, Upaya Pemulihan Ekonomi lewat Pariwisata

Travel Update
11 Tempat Wisata di Jepang buat Pecinta Anime dan Manga

11 Tempat Wisata di Jepang buat Pecinta Anime dan Manga

Jalan Jalan
Sederet Fasilitas Baru TMII Setelah Revitalisasi, Ada Trem Listrik

Sederet Fasilitas Baru TMII Setelah Revitalisasi, Ada Trem Listrik

Travel Update
Sandiaga Sebut Industri Seni Lokal Bisa Belajar dari K-Pop, Ini Alasannya

Sandiaga Sebut Industri Seni Lokal Bisa Belajar dari K-Pop, Ini Alasannya

Travel Update
Aturan Perjalanan Dilonggarkan, Harga Tiket Pesawat Diharapkan Ikut Turun

Aturan Perjalanan Dilonggarkan, Harga Tiket Pesawat Diharapkan Ikut Turun

Travel Update
Daftar Visa on Arrival Kunjungan Wisata Ditambah, Jadi 60 Negara

Daftar Visa on Arrival Kunjungan Wisata Ditambah, Jadi 60 Negara

Travel Update
Siapkan SDM Pariwisata, Labuan Bajo Akan Bangun Poltekpar

Siapkan SDM Pariwisata, Labuan Bajo Akan Bangun Poltekpar

Travel Update
Syarat Perjalanan Tak Perlu Tes Covid-19, Ini Kata Pelaku Industri Pariwisata

Syarat Perjalanan Tak Perlu Tes Covid-19, Ini Kata Pelaku Industri Pariwisata

Travel Update
10 Museum Paling Angker di Dunia, Ada Koleksi Mumi

10 Museum Paling Angker di Dunia, Ada Koleksi Mumi

Jalan Jalan
Rute Menuju Plunyon Kalikuning, Jadi Lokasi Syuting KKN di Desa Penari

Rute Menuju Plunyon Kalikuning, Jadi Lokasi Syuting KKN di Desa Penari

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.