Kompas.com - 19/08/2016, 10:06 WIB
Warga Kampung Adat Bena, Ngada, Flores, NTT, bermain musik tradisional yang biasa dimainkan dalam rangka upacara adat pembangunan rumah baru, Selasa (15/6/2011). Kampung berusia sekitar 1.200 tahun ini kental dengan arsitektur kuno dan budaya megalitik. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMOWarga Kampung Adat Bena, Ngada, Flores, NTT, bermain musik tradisional yang biasa dimainkan dalam rangka upacara adat pembangunan rumah baru, Selasa (15/6/2011). Kampung berusia sekitar 1.200 tahun ini kental dengan arsitektur kuno dan budaya megalitik.
|
EditorI Made Asdhiana

JEREBUU, KOMPAS.com - Sang Proklamator, Soekarno, kerap mengatakan intisari Pancasila ialah gotong royong. Di Kampung Bena, Jerebuu, Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur, intisari Pancasila itu tak sekadar slogan. Di sana gotong royong justru menjadi nafas dalam aktivitas keseharian mereka untuk menjaga tradisi leluhur.

Kampung Bena merupakan salah satu kampung adat tua di Ngada, Flores. Terletak di kaki Gunung Inerie, hampir seluruh mata pencaharian penduduk di sana adalah petani. Tak ada yang tahu pasti kapan Kampung Bena berdiri.

Pengelola sekaligus penduduk asli Kampung Bena, Emanuel Sebo menuturkan masyarakat Kampung Bena pun tak ada yang bisa menjawab dengan pasti kapan berdirinya Kampung Bena.

"Kami mengetahuinya kampung ini berasal dari leluhur kami dan telah kami tempati secara turun temurun, itu saja. Kalau ditanya kapan berdirinya ya hanya perkiraan yakni antara ratusan atau ribuan tahun yang lalu," ujar Emanuel di Bena, Minggu (14/8/2016).

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Warga Kampung Adat Bena, Ngada, Flores, NTT, menggulung benang yang digunakan untuk membuat tenun ikat, Selasa (15/6/2011). Kampung berusia sekitar 1.200 tahun ini kental dengan arsitektur kuno dan budaya megalitik.
Hal itu setali tiga uang dengan penuturan Velu Tuba, penduduk asli Kampung Bena. Menurut dia hal itu dapat dilihat dari batu besar yang teronggok di lapangan kampung. Batu itu biasa digunakan untuk persembahan kepada leluhur saat upacara adat.

"Siapa yang bisa angkat batu besar kalau orangnya juga tidak besar, itu tandanya nenek moyang yang ratusan atau ribuan tahun lalu yang membawa. Dan ada ahli yang meneliti usia batu itu tetapi dia juga belum tahu berapa usia batu yang menandakan usia kampung," ujar Velu.

Kampung Bena terdiri dari sembilan suku yakni suku Bena, Nga'da, Ago, Deru Wazi, Deru Kae, Wahto, Dizikopa, Dizi, dan Solomae. Suku Bena merupakan pendiri Kampung Bena. Oleh sebab itulah disebut Kampung Bena.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara suku lainnya berdatangan dan mereka hidup bersama secara turun temurun hingga sekarang. Mereka tinggal di rumah adat panggung yang terbuat dari kayu fai (sebutan masyarakat setempat) dan beratapkan ilalang. Terdapat sekitar 45 rumah adat yang mereka tinggali di Kampung Bena.

KOMPAS.com/RAKHMAT NUR HAKIM Pengalungan kain tenun khas Bena, Kabupaten Ngada, NTT, untuk menyambut peserta Jelajah Sepeda Flores-Timor yang diselenggarakan Harian Kompas, Minggu (14/8/2016) malam.
Sebagai kampung adat yang menjunjung tinggi budaya peradaban megalitikum, masyarakat Kampung Bena memiliki upacara adat pada hampir setiap aktivitas keseharian mereka. Salah satunya dalam proses pembuatan rumah adat yang menjadi ciri khas Kampung Bena.

Bagi masyarakat Kampung Bena, rumah adat tak sekadar untuk ditinggali, tetapi menunjukkan pula status mereka sebagai penjaga tradisi leluhur yang sudah turun-temurun. Oleh karena itu membangun rumah adat sangatlah penting bagi mereka untuk melestarikan tradisi leluhur yang kian ditinggalkan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

7 Oleh-oleh Makanan Serba Manis Khas Bandung

7 Oleh-oleh Makanan Serba Manis Khas Bandung

Jalan Jalan
Sejarah Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Berdiri Kokoh Sejak 1760

Sejarah Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Berdiri Kokoh Sejak 1760

Jalan Jalan
Kegigihan Industri Perhotelan di Tengah Pandemi dan PPKM Jawa-Bali

Kegigihan Industri Perhotelan di Tengah Pandemi dan PPKM Jawa-Bali

Travel Update
Ancol dan TMII Terapkan Aturan Ganjil Genap hingga 19 September

Ancol dan TMII Terapkan Aturan Ganjil Genap hingga 19 September

Travel Update
Desa Wisata Majapahit Bejijong Mojokerto, Lokasi Wisata Sejarah Kerajaan Majapahit

Desa Wisata Majapahit Bejijong Mojokerto, Lokasi Wisata Sejarah Kerajaan Majapahit

Jalan Jalan
Hari PMI, Peringatan Sejarah Pendirian Kepalangmerahan Tanah Air

Hari PMI, Peringatan Sejarah Pendirian Kepalangmerahan Tanah Air

Jalan Jalan
Jejak Pendirian PMI di Yogyakarta Ada di Museum Benteng Vredeburg

Jejak Pendirian PMI di Yogyakarta Ada di Museum Benteng Vredeburg

Jalan Jalan
6 Museum di Bangkok, Belajar Sejarah Thailand sampai Koin Zaman Batu

6 Museum di Bangkok, Belajar Sejarah Thailand sampai Koin Zaman Batu

Jalan Jalan
Budaya Vs Pariwisata, Sebenarnya Tak Perlu Jadi Konflik

Budaya Vs Pariwisata, Sebenarnya Tak Perlu Jadi Konflik

Travel Update
Klarifikasi Singapore Airlines yang Dikabarkan Buka Penerbangan Langsung ke Bali

Klarifikasi Singapore Airlines yang Dikabarkan Buka Penerbangan Langsung ke Bali

Travel Update
Storytelling Bikin Destinasi Wisata Makin Atraktif

Storytelling Bikin Destinasi Wisata Makin Atraktif

Travel Update
Wisata Pinus Sari Mangunan Sulit Akses Internet, Pemkab Bantul Upayakan Penguat Sinyal

Wisata Pinus Sari Mangunan Sulit Akses Internet, Pemkab Bantul Upayakan Penguat Sinyal

Travel Update
Tarik Turis Kanada, Indonesia Bisa Jual Paket Bulan Madu Ramah Muslim

Tarik Turis Kanada, Indonesia Bisa Jual Paket Bulan Madu Ramah Muslim

Travel Update
Gen Z Muslim Tak Khawatir Kulineran Saat Jalani Wisata Ramah Muslim

Gen Z Muslim Tak Khawatir Kulineran Saat Jalani Wisata Ramah Muslim

Travel Update
Wisata Kuliner di Floating Market Lembang Bandung Selama PPKM, Bawa Kartu Vaksin

Wisata Kuliner di Floating Market Lembang Bandung Selama PPKM, Bawa Kartu Vaksin

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.