Kompas.com - 13/06/2017, 08:05 WIB
|
EditorSri Anindiati Nursastri

JAKARTA, KOMPAS.com - Bagaikan suasana matahari terbenam yang diburu manusia, pesona Kota Tua Jakarta selalu dirindukan. Ada kehangatan yang terpendar di antara gedung-gedung tua nan renta yang dahulu bersinar di era penjajahan Belanda.

Bermula saat Jan Pieterzen Coen membangun Jakarta yang dulu dikenal sebagai Batavia pada abad ke-17, pusat perekonomian Hindia Belanda mulai menggurita. Bunyi klakson di antara bangunan-bangunan bergaya klasik mewarnai sejak matahari mulai tergelincir di ufuk barat.

Siang itu, mobil lalu-lalang dan saling berlomba-lomba melewati persimpangan jalan dekat Stasiun Kota. Sementara, di pelataran halaman depan Museum Bank Mandiri, ada beberapa orang anggota Komunitas Jelajah Budaya tengah berkumpul.

Hari Sabtu (9/6/2017) lalu, KompasTravel sempat mengikuti kegiatan "Jelajah Kota Toea: Ngabuburit ke Kota Tua". Perjalanan sore itu dimulai dari Museum Bank Mandiri dan diakhiri di Kampung Luar Batang. Moda transportasi yang digunakan adalah sepeda ontel.

"Masing-masing langsung ke ojek ontelnya, diinget muka abangnya (ojek ontel) ya," ujar Kartum Setiawan, Pendiri Komunitas Jelajah Budaya sekaligus pemandu wisata kami sebelum memulai perjalanan.

Satu persatu anggota komunitas langsung duduk di boncengan sepeda. Kemudian, sepeda-sepeda langsung menyusuri jalan menuju Roa Malaka. Di sana, Kartum sempat menjelaskan sejarah singkat tentang Roa Malaka.

"Roa Malaka pernah menjadi tempat pemukiman orang-orang Portugis yang ditawan di Malaka," jelasnya.

Tak berlama-lama, kami berada di sebuah persimpangan Jalan Roa Malaka. Peserta jelajah bertolak dari depan gedung bank milik Inggris menuju Jalan Tiang Bendera. Di sana, Kartum kembali menceritakan sekelumit hal-hal yang terkait dengan Jalan Tiang Bendera.

Peserta berdiri di depan rumah-rumah yang berkelir hijau dan putih kusam. Ngabuburit kali ini memang terasa berbeda. Bila biasanya ngabuburit diisi dengan berburu kuliner berbuka, pilihan lain adalah menjelajahi Kota Tua Jakarta.

Etty (50), seorang guru matematika yang tinggal di Duren Sawit, Jakarta Timur, mengajak kedua anaknya yang masih bersekolah untuk ngabuburit keliling Kota Tua Jakarta. Mereka biasanya kerap ngabuburit untuk berburu kuliner.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.