Selain Hipotermia, Ini Penyakit Lain yang Mengintai Pendaki Gunung

Kompas.com - 16/05/2018, 22:21 WIB
Eksotika Ranu Kumbolo yang dipenuhi kemah para pendaki Gunung Semeru, Sabtu (7/4/2018).KOMPAS.COM / MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA Eksotika Ranu Kumbolo yang dipenuhi kemah para pendaki Gunung Semeru, Sabtu (7/4/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com – Musim panas menjadi waktu yang tepat untuk mendaki gunung. Tak heran, sejak pertengahan tahun ini, gunung-gunung di Indonesia mulai ramai pendaki.

Namun, mendaki di musim panas bukan berarti minim risiko. Meski curah hujan rendah, tetapi beberapa penyakit siap menghantui jika pendaki kurang persiapan dan pengetahuan.

"Pendaki harus mengetahui jenis penyakit apa saja yang ada, dan sering terjadi di pendakian. Lebih spesifik lagi seperti mengetahui apa itu hipotermia," ujar Soma, Pelatih Senior Wanadri saat dihubungi KompasTravel, Rabu (16/5/2018).

Baca juga: Jangan Gegabah, Kenali Gejala Hipotermia Sebelum Mendaki Gunung

Dikutip dari buku Mountaineering-The Freedom of the Hills karya Edelstein, Li, Silverberg, dan Decker (2009), penyakit-penyakit tersebut masuk ke dalam kategori exposure. Yaitu kelelahan fisik yang disebabkan oleh keadaan alam atau lingkungan.

Berikut KompasTravel rangkum catatan penyakit tersebut beserta penanganan singkatnya:

1. Frostbite 

Kategori penyakit ini disebabkan oleh hawa dingin atau es (salju).

Frostbite sering terjadi di ujung jari tangan/kaki, dikarenakan letaknya yang jauh dari jantung, sehingga aliran darah minimal.

Frostbite bisa terjadi hanya di permukaan kulit, bahkan bisa ke dalam otot termasuk menyerang tulang jika sudah parah.

Jika terjadi di kulit, permukaan kulit akan terasa keras dan berwarna abu-abu putih, terasa sakit. Sedangkan jika makin parah bisa menjadi keras dan kaku seperti papan (mati rasa).

Penanganan yang harus Anda lakukan, mula-mula letakkan bagian yang sakit pada anggota tubuh lainnya yang hangat (ketiak atau selangkangan). Jangan menggosok-gosokkan karena mudah menyebabkan kematian jaringan.

Agar lebih hangat rendam bagian tersebut di air hangat, tetapi jangan dekatkan langsung ke sumber api, lampu, atau batu panas, kerana akan mengakibatkan kerusakan yang lebih parah.

Terakhir korban bisa Anda berikan makanan dan minuman hangat non alkohol. Semua proses harus dilakukan dengan steril.

Halaman Berikutnya
Halaman:



Close Ads X