Kompas.com - 17/12/2018, 18:10 WIB
Foto Soe Hok-Gie yang ditemukan di Sekretariat Mapala UI, Depok, Jawa Barat. Soe Hok-Gie merupakan salah satu pendiri Mapala UI sekaligus aktivitis yang turut berperan dalam aksi long march dan demo besar-besaran pada tahun 1966. Mapala UI sebagai salah satu pelopor pencinta alam di Indonesia, memiliki foto-foto yang menjadi bagian sejarah kepencintaalaman di Indonesia Dokumentasi Mapala UIFoto Soe Hok-Gie yang ditemukan di Sekretariat Mapala UI, Depok, Jawa Barat. Soe Hok-Gie merupakan salah satu pendiri Mapala UI sekaligus aktivitis yang turut berperan dalam aksi long march dan demo besar-besaran pada tahun 1966. Mapala UI sebagai salah satu pelopor pencinta alam di Indonesia, memiliki foto-foto yang menjadi bagian sejarah kepencintaalaman di Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com - Siapa tidak kenal Soe Hok Gie, pemuda yang getol melontarkan kritik keras pada penguasa di zamannya? Namanya selalu terkenang, terlebih di dunia aktivisme dan pencinta alam.

Gie yang lahir pada 17 Desember 1942 memang dikenal sebagai aktivis sekaligus pencinta dunia alam bebas. Gie rutin mendaki gunung. Ironisnya, gunung pula yang menjadi saksi kematian Gie.

Bersama sejumlah kolega, Gie hendak mendaki Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur. Kebetulan, tanggal pendakian berbarengan dengan peringatan hari ulang tahunnya yang ke-27.

Baca juga: Keindahan Yang Menanti Sebelum Mencapai Puncak Mahameru

Alih-alih merayakannya dengan sukacita, Gie dan seorang rekan pendakiannya, Idhan Lubis, meregang nyawa di puncak Mahameru akibat menghirup gas beracun. Peristiwa memilukan itu terjadi pada 16 Desember 1969, hanya berjarak satu hari dengan peringatan hari ulang tahun Gie.

Jasad Gie lalu dikebumikan di pemakaman Menteng Pulo, sebelum dipindahkan ke pemakaman Kebon Jahe Kober, Tanah Abang, sebuah kompleks perkuburan yang sebetulnya diperuntukkan bagi jenazah orang-orang Belanda.

Dibangun pada 1795, kompleks perkuburan Kebon Jahe Kober awalnya diperuntukkan khusus bagi petinggi dan bangsawan Belanda. Luasnya sekitar 5,5 hektar.

Jumlah makam yang terus bertambah hingga angka ribuan membuat Gubernur DKI Jakarta kala itu, Ali Sadikin, memerintahkan pemindahan jenazah dari Kebon Jahe Kober dan menjadikannya museum. Sejumlah besar jenazah dikembalikan ke kampung halaman.

Pemakaman di Museum Taman PrasastiCahyu Cantika Amiranti Pemakaman di Museum Taman Prasasti

Sementara itu, penolakan keluarga Gie terhadap upaya pemindahan jenazah akhirnya membawa jasad Gie ke krematorium. Kemudian, Lembah Mandalawangi di Gunung Pangrango menjadi persemayaman abu jasad Gie untuk selamanya.

Baca juga: Panduan Mendaki Gunung Gede Pangrango saat Musim Hujan

Kini, kompleks yang dulunya dikenal sebagai pemakaman Kebon Jahe Kober telah beralih wajah menjadi Museum Taman Prasasti. Nisan-nisan yang ada di sini tidak lagi menyimpan jasad manusia.

Terdapat lebih dari 900 nisan beserta patung dengan aneka gaya dan rupa yang dipajang di “taman” sebelah luar bangunan utama. Bangunan utama museum sendiri dirancang dengan gaya Yunani dengan ciri khas pilar-pilar besar di bagian depannya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Accor Luncurkan Paket Staycation Unik untuk Berwisata Lokal, Tertarik?

Accor Luncurkan Paket Staycation Unik untuk Berwisata Lokal, Tertarik?

Travel Promo
Pemkab Boyolali Larang Tradisi Padusan Tahun Ini untuk Cegah Kerumunan

Pemkab Boyolali Larang Tradisi Padusan Tahun Ini untuk Cegah Kerumunan

Travel Update
Aturan Perjalanan Udara Periode Ramadhan dan Larangan Mudik 2021

Aturan Perjalanan Udara Periode Ramadhan dan Larangan Mudik 2021

Travel Update
Mereka yang Boleh Lakukan Perjalanan Selama Larangan Mudik 2021

Mereka yang Boleh Lakukan Perjalanan Selama Larangan Mudik 2021

Travel Update
Sambut Ramadhan, Parador Beri Promo Menginap Mulai dari Rp 240.000-an

Sambut Ramadhan, Parador Beri Promo Menginap Mulai dari Rp 240.000-an

Travel Promo
Wisata Air di Klaten Tetap Buka meski Padusan Dilarang, Ini Aturannya

Wisata Air di Klaten Tetap Buka meski Padusan Dilarang, Ini Aturannya

Travel Update
Gayo Coffee Trail Akan Kembangkan Wisata Dataran Tinggi Gayo

Gayo Coffee Trail Akan Kembangkan Wisata Dataran Tinggi Gayo

Travel Update
Tradisi Padusan di Klaten Tahun Ini Ditiadakan untuk Cegah Kerumunan

Tradisi Padusan di Klaten Tahun Ini Ditiadakan untuk Cegah Kerumunan

Travel Update
3 Hotel Ini Re-branding Jadi Penginapan Bercita Rasa Indonesia

3 Hotel Ini Re-branding Jadi Penginapan Bercita Rasa Indonesia

Travel Update
5 Kafe Rasa Bali di Jakarta, Mulai dari Nuansa Ubud hingga Seminyak

5 Kafe Rasa Bali di Jakarta, Mulai dari Nuansa Ubud hingga Seminyak

Jalan Jalan
Cara Naik Kereta Gantung TMII Saat New Normal

Cara Naik Kereta Gantung TMII Saat New Normal

Jalan Jalan
Mudik 2021 Dilarang, 5 Tempat Wisata di Jakarta Ini Bisa Dikunjungi

Mudik 2021 Dilarang, 5 Tempat Wisata di Jakarta Ini Bisa Dikunjungi

Jalan Jalan
Itinerary Seharian Wisata di TMII Bareng Anak, Main ke Taman Burung

Itinerary Seharian Wisata di TMII Bareng Anak, Main ke Taman Burung

Itinerary
Bandara I Gusti Ngurah Rai Siapkan Layanan GeNose untuk Syarat Terbang

Bandara I Gusti Ngurah Rai Siapkan Layanan GeNose untuk Syarat Terbang

Travel Update
Itinerary 2 Hari 1 Malam Jelajah TMII, Bisa ke Mana Saja?

Itinerary 2 Hari 1 Malam Jelajah TMII, Bisa ke Mana Saja?

Itinerary
komentar di artikel lainnya
Close Ads X