7 Profesi yang Hilang Seiring Modernisasi Jakarta

Kompas.com - 23/06/2019, 11:08 WIB
Pengojek sepeda ontel di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, Senin (28/5/2018). KOMPAS.com/NURSITA SARIPengojek sepeda ontel di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, Senin (28/5/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pembangunan di Jakarta yang bertumbuh pesat, seiring dengan modernisasi global membuat beberapa hal hilang. Salah satu hal tersebut adalah profesi yang dahulu mencari nafkah di Jakarta.

Jika diingat kembali, profesi ini tampak unik tetapi sesungguhnya membawa manfaat bagi penduduk di Jakarta saat itu. Inilah berbagai profesi yang hilang di Jakarta, siapa tahu kamu mengingatnya kembali:

1. Tukang hirkop

Hirkop diambil dari bahasa Belanda Huurkoop yang berarti sewa beli, tetapi lazimnya diartikan kredit. Jadi para tukang hirkop ini membawa berbagai barang kebutuhan masuk ke pelosok Jakarta. Pembeli dapat membayarnya secara berkala, perhari, per minggu, per bulan sesuai perjanjian.

Uniknya rata rata tukang hirkop di Jakarta adalah orang Sunda, tepatnya dari Tasikmalaya. Orang Sunda juga terkenal sebagai tukang cita, atau penjual pakaiaan dan bahan pakaian kredit di Jakarta. Hilangnya tukang hirkop dan tukang cita lantaran barang kebutuhan sudah mudah didapat, juga perkampungan di Jakarta sudah digantikan dengan gedung-gedung pencakar langit.

2. Tukang minyak kelapa

Sebelum era minyak kelapa sawit, penduduk Indonesia lebih akrab dengan minyak kelapa. Pada era 1950-an tukang minyak kelapa membawa dua tabung dari kaleng berisi minyak kelapa. Lagi, kebanyakan mereka adalah orang Tasikmalaya. Hilangnya profesi ini tak lain karena industri kelapa sawit di Indonesia.

3. Tukang pagar (bilik)

Kebanyakan rumah orang Betawi dahulu terbuat dari pagar atau bilik bambu. Hanya sedikit sekali yang menggunakan tembok dan itu termasuk golongan mampu. Untuk itu banyak pembuat dinding bilik yang bahannya berasal dari bambu sekitar Ciliwung atau Kali Krukut.

Kemudian dijajakan berkeliling oleh penjual pagar. Uniknya si penjaja pagar keliling, biasanya melengkungkan pagar menjadi setengah lingkaran, lalu membawa dengan cara tubuh masuk ke dalam pagar. Jadilah jika penjual pagar lewat, hanya tampak kepala dan kaki si penjual.

4. Tukang susu

Pada 1950-an, orang Betawi banyak beternak sapi perah tepatnya di kampung daerah Senayan, Kuningan, dan Petamburan. Untuk itu, setiap pagi biasanya mereka naik sepeda membawa susu segar untuk dijual di daerah Pasar Tanah Abang atau mengantar langsung ke pelanggan.

Kebersihan susu segar ini disebutkan terjamin, lantaran selalu ada pemeriksaan berkala baik di peternakan maupun saat para pedagang susu segar ditemui di jalan. Pada akhirnya beternak sapi segar sudah tidak memungkinkan.

Perkampungan daerah Senayan digusur era 1960-an untuk pembangunan komplek Gelora Bung Karno. Pada 1970-80an, giliran daerah Kuningan dan Petamburan yang kena gusur untuk pembangunan gedung perkantoran.

Meskipun pada 1980-an, ada 50 peternak sapi perah yang direlokasi di Pondok Rangon, Jakarta Timur. Namun susu tak lagi dijual langsung ke konsumen, tetapi dikumpulkan oleh koperasi.

5. Tukang obat

"Ngomong lu jago kayak tukang obat," kalimat celaan itu terkenal di kalangan warga Jakarta dahulu. Bukan tanpa alasan, sebab dahulu di Jakarta ada banyak tukang obat yang menjual obat untuk berbagai khasiat.

Biasanya mereka berjualan obat di daerah Pasar Tanah Abang, Pasar Karet, atau Jalan Sudirman. Cara berjualan obatnya terbilang seru, ada atraksi dari sulap sampai akrobat. Biasanya mereka akan meminta kesediaan penonton untuk menjadi kelinci percobaan saat atraksi, meskipun banyak yang skeptis penonton tersebut sudah dibayar sebelumnya.

Obat yang dijual rata-rata diklaim dari aneka potongan hewan dan tumbuhan yang dipercaya berkhasiat. Sekarang semakin banyak orang yang membeli obat pabrik yang pasti di apotek atau toko obat.

6. Afdruk (cetak film) dan tukang foto keliling

Zaman dahulu kamera adalah barang mewah. Untuk itu jasa tukang foto sangat dibutuhkan, apalagi untuk momen istimewa seperti pernikahan. Pada era 1950-an bahkan tercatat hanya ada dua studio foto, yakni di daerah Pasar Tanah Abang dan Pasar Karet. Keduanya dimiliki oleh Tionghoa. Sedangkan toko kamera hanya ada satu, yakni di Pasar Baru.

Jika ada yang ingin menikah biasanya diantar dahulu naik delman ke studio foto sebelum resepsi pernikahan. Pada akhir 1950-an mulai muncurl toko afdruk atau cetak film, orang hanya perlu membawa film foto mereka. Pada 1960-an, studio foto sudah bisa mencetak film.

7. Tukang ramal

Pada 1950-an sampai 1960-an melihat tukang ramal di jalan ternyata hal yang biasa. Tukang ramal bisa melihat dari berbagai medium, misal dari garis telapak tangan, tulisan atau tanda tangan, sampai tanggal lahir. Kini tukang ramal tak lagi menjajakan jasanya di jalanan umum seperti dahulu.

Sebenarnya masih banyak profesi yang hilang atau mulai sedikit di Jakarta. Contohnya tukang patri (solder) yang membawa lembaran kaleng disusun melambai untuk dibunyikan, tukang cukur keliling yang suka mangkal di bawah pohon, tukang reparasi atau mengisi kasur kapuk, tukang minyak tanah, dan berbagai profesi lainnya.

Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X