Panduan Keselamatan Panjat Tebing di Skywalker Via Ferrata

Kompas.com - 16/12/2019, 13:22 WIB
Bening memanjat tebing Gunung Parang, Purwakarta, menggunakan teknik yang disebut via ferrata atau naik menggunakan tangga baja, Minggu (2/7/2017) KOMPAS.com / FIKRIA HIDAYATBening memanjat tebing Gunung Parang, Purwakarta, menggunakan teknik yang disebut via ferrata atau naik menggunakan tangga baja, Minggu (2/7/2017)

Atlet panjat tebing Indonesia Rajiah Sallsabillah (kiri) saat bertanding pada melawan Amanda Narda Mutia memperebutkan medali perunggu di ajang panjat tebing Asian Championships 2019 di Stadion Pakansari, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (9/11/2019). Rajiah Sallsabillah berhasil meraih medali perunggu mengalahkan Amanda Narda Mutia.KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO Atlet panjat tebing Indonesia Rajiah Sallsabillah (kiri) saat bertanding pada melawan Amanda Narda Mutia memperebutkan medali perunggu di ajang panjat tebing Asian Championships 2019 di Stadion Pakansari, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (9/11/2019). Rajiah Sallsabillah berhasil meraih medali perunggu mengalahkan Amanda Narda Mutia.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kecelakaan panjat tebing yang menimpa AKBP Andi Nurwandy di jalur Via Ferrata, Dusun Cihuni, Sukamulya, Purwakarta, Sabtu (14/12/2019) menjadi pelajaran bagi operator dan wisatawan agar lebih hati-hati. Keselamatan harus menjadi perhatian yang utama.

Baca juga: Jatuh dari Tebing Gunung Parang, AKBP Andi Nurwandi Meninggal

Salah satu operator wisata Via Ferrata yaitu Skywalker Via Ferrata Mount Parang ikut berkomentar atas kejadian ini.

Bibin dari Skywalker Via Ferrata Mount Parang mengatakan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam panjat tebing.

"Mengikuti SOP pemanjatan yang sudah disiapkan dan menggunakan peralatan keselamatan yang sesuai dan standar, dua hal ini kuncinya," kata Bibin ketika dihubungi Kompas.com, Senin (16/12/2019).

Bibin belum bisa berkomentar banyak terhadap kendala yang terjadi Sabtu lalu. Ia mengaku menunggu hasil penyelidikan dari kepolisian.

Meski begitu, menurut Bibin hanya ada dua yang kemungkinan menjadi kendala sehingga terjadi kecelakaan, yaitu sling baja rusak, atau lanyard tidak berfungsi dengan baik.

"Pertama, sling baja pengaman safety line sudah dalam keadaan rusak atau korosi sehingga tidak dapat menahan beban dengan baik. Bisa juga lanyard yang digunakan untuk mengamankan si pemanjat tidak berfungsi dengan baik dalam menahan beban ketika si pemanjat jatuh," jelasnya.

Lebih lanjut, Bibin mengatakan kemungkinan lanyard yang digunakan bukan lanyard standar dalam pemanjatan Via Ferrata.

Kepada Kompas.com, Bibin menjelaskan Standar Operasional Prosedur (SOP) panjat tebing Via Feratta yang dimiliki operator.

Baca juga: Fakta Unik Hotel Gantung Tebing Parang di Purwakarta

1. Pemakaian alat Via Ferrata dilakukan oleh pemandu kepada tamu

Menurut Bibin, pemandu wajib memasangkan alat panjat tebing kepada tamu. Hal ini merupakan SOP paling awal dalam peraturan panjat tebing.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X