Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 05/10/2020, 18:50 WIB

KOMPAS.com - Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah memiliki salah satu tempat wisata favorit di kalangan wisatawan, yaitu Api Abadi Mrapen.

Namun, kabar mengherankan datang kala Api Abadi Mrapen telah padam total untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Padamnya Api Abadi Mrapen juga disampaikan langsung oleh pengelola tempat Api Abadi Mrapen, David Diyanto.

Baca juga: Padam, Berikut 5 Fakta tentang Api Abadi Mrapen

Ia mengatakan, api biru yang berkobar melalui lubang pipa di titik sumber Api Mrapen perlahan mengecil sejak sepekan lalu, hingga akhirnya padam total pada 25 September 2020.

Lalu seperti apa latar belakang Api Abadi Mrapen hingga menjadi daya tarik wisata Kabupaten Grobogan?

Jadi sumber nyala api obor PON 1996

Api Abadi Mrapen terkenal sebagai salah satu tempat wisata di Kabupaten Grobogan. Lokasinya berada di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan.

Baca juga: Tiba-tiba Padam, Bisakah Api Abadi Mrapen Menyala Kembali?

Berdasarkan data pengelola, api yang menyala karena pasokan gas rawa keluar secara alami dari perut bumi itu belum pernah sekalipun padam.

Hal tersebut yang menjadikan Api Abadi Mrapen unik dan membuat wisatawan datang untuk melihat secara langsung.

Api berwarna biru itu telah melegenda tak hanya di kalangan wisatawan nusantara, namun juga wisatawan mancanegara.

Terang saja, pasalnya, api tersebut pernah digunakan sebagai sumber nyala api obor beberapa perhelatan nasional maupun internasional.

Sebut saja mulai dari pesta olahraga nasional yaitu Pekan Olahraga Nasional (PON) XVI 23 Agustus 1996.

Bahkan puluhan tahun sebelumnya, Api Abadi Mrapen sempat digunakan sebagai sumber nyala api obor pesta olahraga internasional Ganefo pada 1 Novemberr 1963.

Perhelatan olahraga tersebut mempertemukan sebanyak 2.700 atlet dari 51 negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin.

Api Abadi Mrapen juga sempat digunakan sebagai tempat pengambilan Api Obor Asian Games 2018.

Tak hanya itu, Api Abadi Mrapen juga setiap tahunnya digunakan untuk menyalakan obor upacara Hari Raya Waisak bagi umat Buddha.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+