Kompas.com - 08/11/2020, 16:04 WIB
ILUSTRASI - Kamar Hotel Shutterstock/Dragon ImagesILUSTRASI - Kamar Hotel

KOMPAS.com – Salah satu tantangan terberat yang dihadapi industri pariwisata, khususnya hotel dan restoran adalah sangat rendahnya tingkat permintaan.

Padahal, kecepatan pemulihan pada bisnis hotel dan restoran sangat bergantung pada permintaan dan efisiensi biaya operasional.

Baca juga: Seperti Apa Tantangan Hotel dalam Terapkan Protokol Kesehatan?

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran saat menjadi narasumber dalam sesi webinar “Strategi Pemulihan ‘Bounce Back Quickly’ Pariwisata di Masa Pandemi”, Rabu (3/11/2020).

Tantangan untuk hotel

Hotel saat ini kesulitan untuk meningkatkan pendapatannya. Menurut Maulana, pendapatan hotel tergantung pada penjualan per hari yang dinilai dari beberapa hal.

Beberap hal itu, antara lain rata-rata harga penjualan kamar per hari, tingkat hunian kamar atau okupansi, dan makanan serta minuman jika ada. Misalnya, adanya restoran dan acara pertemuan.

Ilustrasi hotelEugeneonline Ilustrasi hotel

“Dari pendapatan hotel ini, kita lihat bahwa okupansi naik tidak diiringi dengan harga rata-rata kamarnya,” ujar Maulana.

Pasalnya selama masa normal baru ini, harga hotel bisa dianggap cukup murah. Hal itu terjadi salah satunya saat libur panjang akhir Oktober 2020.

“Biasanya kalau sudah long weekend tiga hari itu, harganya sudah ketemu di publish rate. Seperti kita kalau ke Bali kemarin, harga yang harusnya per room per night Rp 1,5 juta, kemarin bisa dapat Rp 700.000–Rp 800.000 bisa nginap di bintang lima,” imbuh Maulana.

Baca juga: PHRI: Dana Hibah Pariwisata untuk Bertahan Hidup

Jadi, okupansi yang naik bukan berarti pendapatan hotel akan meningkat. Itu kemudian jadi masalah utama yang dihadapi industri hotel saat ini.

Selain itu, tantangan lainnya adalah untuk hotel-hotel yang pendapatannya bergantung pada acara Meeting, Incentive, Conference, and Exhibition (MICE). Karena kebijakan work from home, sejauh ini permintaan MICE hampir tidak ada.

Tantangan untuk restoran

Sementara itu untuk restoran, salah satu tantangannya adalah mengubah sistem penjualan. Biasanya, restoran sangat mengandalkan sistem penjualan offline. Namun, sekarang ini metode penjualan online jadi lebih menjanjikan.

Meski begitu, tak semua restoran atau UMKM familiar dengan konsep penjualan online. Pada akhirnya, banyak juga restoran yang mengubah konsep dari dine in (makan di tempat) menjadi take out atau drive thru.

Ilustrasi makanan kemasan untuk take away dan delivery menu buka puasa dari hotel.SHUTTERSTOCK/CHEBERKUS Ilustrasi makanan kemasan untuk take away dan delivery menu buka puasa dari hotel.

“Restoran itu tumbuh bukan karena makanan minuman saja, tapi juga adanya pergerakan orang atau orang bekerja. Jadi work from home (WFH) ini jadi tantangan tersendiri,” sambung Maulana.

Ia menjelaskan, biasanya orang-orang yang bekerja akan mencari sarapan atau sekadar kopi dan camilan dari restoran-restoran. Dengan adanya kebijakan WFH ini, tentu saja mengurangi mobilitas pelanggan tersebut.

Pada akhirnya, hal tersebut akan berdampak pada pengurangan outlet yang dilakukan restoran akibat tidak adanya pelanggan.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X