Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sandiaga: Storynomics Tourism Indonesia Ada di Film Ngeri-Ngeri Sedap

Kompas.com - 28/06/2022, 16:04 WIB
Faqihah Muharroroh Itsnaini,
Anggara Wikan Prasetya

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Film Ngeri-Ngeri Sedap yang dirilis baru-baru ini menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno, mengandung unsur storynomics tourism.

Sebagai informasi, storynomics tourism adalah pendekatan pariwisata yang dikemas dalam cerita atau konten tentang budaya atau sejarah dari suatu destinasi wisata.

"Saya terkesan dengan film Ngeri Ngeri Sedap. Ini storynomics yang luar biasa," kata Sandiaga dalam Weekly Press Briefing secara hybrid, Senin (27/6/2022).

Baca juga:

Ia melanjutkan bahwa jika film Ngeri Ngeri Sedap dibedah, cerita ini sangat relevan dengan kehidupan di Indonesia, tentang kehidupan keluarga yang lokasinya ada di destinasi super prioritas (DSP), yaitu Danau Toba.

Promosi destinasi wisata melalui film

Ia memaparkan, dampak film tersebut selain terlihat dari subsektor film dan musik, juga terlihat dari subsektor pariwisata.

"Kita lihat dari subsektor pariwisatanya, ada taman wisata yang ditampilkan, dan ini bentuk promosi ya," tambah Sandiaga.

Film 'Ngeri Ngeri Sedap'Dok. Imajinari Film 'Ngeri Ngeri Sedap'

Menurutnya, dinamika kehidupan, mulai dari kearifan lokal hingga pergulatan yang berkaitan dengan situasi terkini, serta modernisasi terkait pariwisata dan ekonomi kreatif merupakan unsur penting dari suatu destinasi.

Baca juga: Storynomics Tourism Jadi Pendekatan Genjot Ekonomi dari Pariwisata

"Kalau kita lihat di setiap destinasi (wisata di Indonesia) punya story-story (cerita-cerita) seperti itu," tutur dia.

Dikutip dari Kompas.com (24/4/2021), selain mengenalkan kisah menarik dari berbagai daerah, pemerintah memang berencana menjadikan storynomics tourism sebagai salah satu strategi promosi dan pengembangan pariwisata Indonesia.

Baca juga: 5 Alasan Harus Wisata ke Danau Toba, Latar Film Ngeri-ngeri Sedap

Melalui cerita-cerita menarik di balik destinasi tersebut, diharapkan muncul awareness dan experience dari para wisatawan. Sehingga, mereka dapat menceritakan kembali kisah tersebut pada wisatawan lainnya.

Potensi storynomics tourism di destinasi wisata lainnya

Tidak hanya dalam film Ngeri-Ngeri Sedap. Menparekraf juga menyebutkan bahwa storynomics tourism ada di salah satu tempat wisata Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), yakni Taman Loang Baloq.

Dalam wisata di destinasi super prioritas (DSP) Mandalika tersebut, terdapat makam ulama besar di dalam pohon.

Pohon beringin di Desa Wisata Taman Loang Baloq, Kota Mataram. Dok. Kemenparekraf Pohon beringin di Desa Wisata Taman Loang Baloq, Kota Mataram.

Ia menuturkan, pohon beringin dengan akar yang terjuntai katanya bisa disimpulkan dalam sebuah ikatan yang dapat mengabulkan permintaan. 

"Di sana storynomics-nya jika ingin berjodoh, pasangan ke sana, menalikan atau mengikat janji. Ada juga anggapan bahwa jika masih jomblo, setelah berkunjung ke destinasi tersebut, di bulan-bulan selanjutnya bisa melepaskan status jomblonya," kata Sandiaga. 

Baca juga: Itinerary Wisata 3 Hari 2 Malam di Kota Mataram, Lombok, Pantai sampai Kota Tua

Lebih lanjut, ia mengatakan, kunjungan wisatawan ke destinasi Taman Loang baloq mengalami peningkatan, hingga 500-600 orang yang berkunjung.

"Cerita-cerita seperti ini yang akan kami terus kembangkan, karena ini merupakan cerita yang sangat memiliki akar di kehidupan lokal setempat, tapi juga bisa dikemas menjadi promosi sebuah destinasi wisata yang akan berdampak terhadap kebangkitan ekonomi," tutur Sandiaga. 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com