Rabu, 24 September 2014

Travel / Travel Story

Harta Budaya di Tebing Terjal Kyoto

Kamis, 19 Desember 2013 | 15:41 WIB
KOMPAS/FRANS SARONG Kuil Kiyomizu di kawasan perbukitan Kyoto, Jepang, Minggu (10/11/2013). Salah satu keunikannya adalah bangunan terasnya yang menganjur ke luar dari bibir tebing sedalam lebih kurang 50 meter. Teras itu jadi area strategis untuk menikmati kemegahan Kyoto.
KYOTO disebut pula sebagai Prefektur (setingkat provinsi) 2000 Kuil. Harta budaya itu selalu terjaga. Salah satu di antaranya adalah Kuil Kiyomizu di Higashiyama-ku, kawasan lereng bukit sebelah timur Kyoto. Kuil yang kini berusia sekitar 14 abad itu, selain sarat sensasi juga berdaya tarik tinggi sehingga selalu padat dikunjungi wisatawan dari berbagai pelosok dunia.

Kunjungan ke Kuil Kiyomizu pada petang itu adalah rangkaian pelancongan tim media Garuda Indonesia, termasuk Kompas, ke sejumlah obyek wisata di Sakai, Kobe, Kyoto, dan Osaka (Jepang), 8-12 November lalu.

Selain kalangan media, pelancongan yang terselenggara atas kerja sama dengan Badan Pariwisata Jepang juga melibatkan perwakilan perusahaan jasa pariwisata nasional, Bambang Mirawan (Astrindo) dan Felicia Tanjaya (Wita Tour). Tur itu menjadi lebih semarak karena bersama dua artis, Ben Joshua dan Wenda Tan.

Dalam panduan serius Kiyotaka Kondo, pelancongan yang dipimpin Luqmanul Hakim dan Tjahyadi (keduanya dari Garuda Indonesia) mengunjungi belasan obyek wisata. Setidaknya ada empat yang berdaya tarik tinggi. Selain Kuil Kiyomizu, tiga lainnya adalah Museum Istana Osaka, Studio Universal Jepang, dan Jembatan Akashi Kaikyo.

Bagi sebagian anggota tim, terutama mereka yang kini berusia di atas kepala lima, pelancongan dengan jadwal ketat dan padat terasa menguras energi. Ketika kami hendak menyambangi kawasan Kuil Kiyomizu pada petang hari ketiga, sejumlah pelancong ”usia lanjut” sempat melontarkan niat untuk batal bergabung hingga puncak Kiyomizu.

Kondo menantang. ”Kuil Kiyomizu sangat unik. Jangan mengaku pernah melancong ke Kyoto jika belum sempat mengunjungi Kuil Kiyomizu,” kata pemandu itu, memotivasi anggota tim ”berusia lanjut”.

Tantangan itu seperti energi baru. Semuanya langsung bergabung, menapaki jalan agak menanjak hingga kawasan kuil. Benar saja, Kuil Kiyomizu memang unik dan sangat memesona!

Di bagian teras kuil bertengger sekitar bibir tebing terjal berkedalamam sekitar 50 meter. Area teras kayu itu secara khusus memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk menikmati kemegahan kota Kyoto.

Kuil yang menjadi warisan budaya dunia oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), daya tariknya terasa sejak dari tempat parkir bus. Jaringan yang dilalui hanya bagi pejalan kaki dan selalu dipadati pengunjung. Sepanjang tepi jalan dipadati pertokoan suvenir, toko makanan ringan, dan restoran.

Menurut Kondo, Kuil Kiyomizu adalah rumah ibadah Buddha sekte Hosso, satu dari empat sekte Buddha di Jepang. Kuil itu berdiri tahun 789 dan baru dipugar 844 tahun kemudian. Keberadaannya konon menginspirasi bentuk bangunan kuil-kuil susulan di Kyoto, bahkan di Jepang.

Bangunan kuil, termasuk teras, dirakit tanpa sepotong paku atau besi pengikat lainnya. Khusus bagian teras ditopang 139 tiang balok kayu, masing masing setinggi lebih kurang 25 meter.

Di dalam kompleks ada pasangan ”batu cinta”. Keberadaan batu itu diyakini sebagai peramal percintaan remaja. Anak remaja yang sedang jatuh cinta bisa mengujinya dengan berjalan dalam posisi mata tertutup sejauh 100 meter ke arah pasangan batu itu. Apakah pertanda baik atau sebaliknya ditentukan berhasil-tidaknya pasangan itu menggapai pasangan ”batu cinta”.

Sebenarnya kata Kiyomizu sebagai nama kuil berasal dari nama sumber air di kaki tebing kompleks kuil. Kiyomizu berarti air jernih atau murni, bahkan dianggap suci atau sakral. Hampir setiap hari selalu terjadi antrean panjang pengunjung yang akan membasuh muka atau meminum Kiyomizu.

”Kita akan meninggalkan penyesalan panjang bila batal mengunjungi kuil ini,” kata Luqmanul Hakim, ketika menikmati kemolekan Kyoto dari teras Kuil Kiyomizu.

Istana Osaka

Obyek wisata lainnya adalah Museum Istana Osaka, berlokasi di Chuo-ku, ujung utara kawasan Uemahi (Osaka). Bangunan istananya kini berusia 415 tahun, terbentang dalam kepungan alur sungai buatan. Alurnya selebar lebih kurang 30 meter, sementara dua sisi tepi alurnya berupa susunan batu alam ukuran raksasa hingga membentuk dinding setinggi 10-15 meter.

Yoko Kita dari bagian promosi pariwisata Pemerintahan Kota Osaka menjelaskan, tampilan bangunan, terutama menaranya, adalah bangunan generasi ketiga atau terakhir. Bangunan generasi pertama oleh Toyotomi Hideyosho dimulai tahun 1583 hingga rampung tahun 1598.

Namun, hanya sekitar 17 tahun kemudian bangunan istana dihancurkan setelah pemerintahan Toyotomi kalah dalam pertempuran, tahun 1615. Selanjutnya, ketika pemerintahan di bawah pimpinan Matsudaira Tadaaki, istana dibangun kembali tahun 1620 hingga rampung pada 1629.

SHUTTERSTOCK Osaka, Jepang.
Bangunan istana lagi-lagi dihancurkan. Kali ini oleh pemerintahan Meiji setelah pemerintahan resmi sebelumnya gagal mempertahankan kekuasaannya melalui pertempuran Toba-Fushimi tahun 1868. Mengingat strategisnya keberadaan istana itu, Wali Kota Osaka Seki Hajime tahun 1931 memulai pembangunan kembali Istana Osaka.

Menara utama dibangun semirip mungkin dengan gambar asli menara era Toyotomi Hideyoshi. Setelah sepenuhnya rampung, menara utama berubah fungsi menjadi Museum Istana Osaka sejak 80-an tahun lalu.

Decak kagum juga tak tertahan saat mengunjungi Jembatan Akashi-Kaiky?. Jembatan gantung itu menyeberangi Selat Akashi, menghubungkan Maiko di Kota Kobe dan Awaji di Pulau Awaji, Jepang. Pembangunan jembatan selama 10 tahun sejak 1988 secara resmi dibuka untuk umum pada 5 April 1998. Panjang jembatan seluruhnya sekitar 4.000 meter hingga menjadi jembatan terpanjang di dunia.

Menariknya, bagian bawah jembatan menjadi obyek wisata. Perut jembatan didesain khusus hingga terbuka bagi pengunjung untuk menyusuri ruangannya sambil menikmati pemandangan laut Selat Akashi di bawahnya.

Konon, rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) didesain menyerupai Jembatan Akashi-Kaikyo. JSS yang akan melewati palung dalam dan rawan gempa dinilai cocok mengadopsi desain jembatan di kawasan Kobe itu.

Selain itu, Jepang sejak 12 tahun lalu memiliki taman bermain, Universal Studio Japan (USJ) di Osaka. Menurut Manajer Eksekutif USJ Tommy Sato, fasilitas bertaraf internasional ini adalah taman pertama di luar Amerika Serikat.

”Taman ini selalu dipadati pengunjung. Setiap hari pengunjungnya mencapai sekitar 60.000 orang, bahkan pernah 80.000 orang,” katanya. Taman bermain itu meliputi sembilan area, didukung 18 atraksi dan 20 restoran tematik.

"Kita akan meninggalkan penyesalan panjang bila batal mengunjungi kuil ini." (FRANS SARONG)
Editor : I Made Asdhiana
Sumber: KOMPAS CETAK