Mudik Pakai Kereta Api, Apa Cerita yang Baru? - Kompas.com

Mudik Pakai Kereta Api, Apa Cerita yang Baru?

Palupi Annisa Auliani
Kompas.com - 06/07/2016, 09:08 WIB
KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Pemudik masuk ke dalam kereta api di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Senin (4/7/2016). Warga pendatang di Jakarta mulai mudik ke kampung halaman dengan menggunakan kereta api ke sejumlah kota tujuan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
KOMPAS.com - Apa yang baru bila sekarang bepergian memakai kereta api, termasuk buat mudik? 
 
Setelah lama tak menumpang kuda besi ini, Kompas.com coba membandingkan pengalaman pada masa lalu dengan yang terkini. Mudik jadi momentumnya. Berikut ini sejumlah catatan yang didapat:
 
1. Tiket
 
Karena jadwal libur dan deadline pekerjaan, dulu saya selalu pakai jurus datang langsung ke stasiun, mengejar jadwal kereta terakhir. Go show, istilah kerennya.
 
Sampai stasiun, beli tiket, dapat kursi atau tidak yang penting terangkut. Sekarang, jurus itu tak lagi selalu ampuh, apalagi buat mudik. 
 
Pemesanan yang dibuka sejak tiga bulan sebelum keberangkatan, jadi dilema. Terlebih lagi, sekarang tidak bisa lagi ada "penumpang berdiri" alias penumpang yang sekalipun punya tiket tetapi tak mendapatkan kursi.
 
Di satu sisi, ketentuan itu bikin orang harus punya perencanaan. Keteraturan adalah dasar pemikiran dan tujuan dari ketentuan itu.
 
Buat saya, di sisi lain, ketentuan itu berimplikasi satu hal: tiket sudah ludes dijual pada hari libur Lebaran sudah bisa ditentukan.
 
Solusinya? Gerilya memburu tiket yang batal dipakai. Situs resmi PT Kereta Api Indonesia (KAI) atau situs web layanan pemesanan tiket dari pihak ketiga, mendadak jadi laman favorit. Sokur-sokur bisa dapat tiket yang harganya bukan banderol maksimal.
 
Untuk kepastian perburuan dadakan, disarankan pemesanan online ini dilakukan lewat browser laptop atau komputer dekstop. Aplikasi di ponsel, dari pengalaman saya, masih memunculkan sejumlah tantangan yang ujung-ujungnya tiket hasil gerilya pun sudah keduluan diambil orang lain.
 
2. Lembar tiket
 
Kalau sudah beli tiket online, sekalian saja cetak tiketnya juga dilakukan sendiri. Di beberapa stasiun sudah ada peralatan untuk mencetak tiket mandiri, berbekal enam digit kode pembayaran yang didapat saat membayar tiket lewat jalur yang disediakan PT KAI.
 
Setidaknya, yang jelas ada, di Stasiun Gambir dan Stasiun Tawang. Dua tahun lalu, saat dua stasiun ini juga sudah melayani cetak tiket mandiri, Stasiun Pasar Senen masih mengharuskan antre di loket untuk dapat cetakan tiket. 
 
Bisa jadi, pada tahun ini masih ada beberapa stasiun yang belum menggunakan sistem pencetakan tiket mandiri. Pastikan saja memakai layanan pencetakan ini kalau memang tersedia, untuk mempersingkat waktu mendapatkan lembaran tiket.
 
Pencetakan mandiri bisa dilakukan 12 jam sampai 10 menit sebelum jadwal keberangkatan kereta api. Sistem terbaru yang dipakai PT KAI adalah check-in mandiri (CIM) yang lebih cepat daripada cetak tiket mandiri (CTM), berlaku bahkan untuk pembelian tiket langsung di stasiun bila masih tersedia.
 
Prinsipnya sama antara CIM dan CTM, hanya lembar cetakan dan teknis pencetakan yang berbeda. Bahkan mesin CIM pun bisa jadi ditempeli penanda CTM, hanya berbeda warna mesinnya. 
 
CIM lebih cepat karena menggunakan teknologi pencetakan berbasis panas yang jamak dipakai antara lain untuk struk ATM, sementara CTM menggunakan printer dot matrik. Kalau pakai CIM, tiketnya berwarna dasar oranye seperti juga warna mesinnya, tak lagi dominasi putih biru seperti di CTM dan tiket jaman baheula.
 
3. Gerbong
 
Mau kereta ekonomi atau bisnis apalagi eksekutif, semua gerbong pakai AC. Selamat tinggal kipas angin besar di tengah gerbong, walau naik kereta api kelas bisnis dan ekonomi. 
 
Tak ada lagi juga penumpang tidak punya kursi, sebagai ikutan ketentuan dalam penjualan tiket. Kalau dulu jamak dilihat orang tidur di bawah bangku atau di selasar gerbong, terutama di kelas bisnis dan ekonomi, sekarang sudah tidak ada. 
 
Di dinding gerbong kereta, ada tempelan imbauan tidak tidur di lantai gerbong, untuk kenyamanan bersama.
 
Nah, catatannya, masih ada kereta api yang tiketnya seharga kelas eksekutif tetapi bangkunya tegak 90 derajat yang dulu identik dengan kelas ekonomi. Kereta Api Bangunkarta, misalnya. 
 
Sekalipun sudah ada tuas untuk mengubah posisi kursi ini, tetapi bahan dasarnya jangan dibayangkan senyaman kereta api berlabel "Argo" yang berhenti sampai Semarang atau Yogyakarta saja dari Jakarta.
 
4. Sambungan gerbong
 
Dulu, apa pun kereta apinya, ada ruang terbuka di sambungan gerbong.  Sekarang, jarak antar gerbong sudah lebih rapat. Pintu-pintu di ruang kecil di ujung gerbong, biasanya juga di depan toilet, tertutup rapi dan ruangan itu bersih.
 
5. Colokan listrik
 
Sekarang, di setiap deretan kursi, ada colokan listrik di dindingnya. Tak perlu lagi khawatir kehabisan daya baterai ponsel di tengah perjalanan. Tinggal colok.
 
6. Pengumuman ala di pesawat
 
Dulu, orang naik kereta api tidak akan pernah tahu kenapa kereta berhenti di tengah sawah. Bagi yang sering melaju, paling banter sudah hafal bahwa keretanya harus bergantian rel dengan kereta lain yang berlawanan arah.
 
Sekarang, peristiwa yang sama akan didahului pengumuman dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Bedanya dengan pengumuman di pesawat hanyalah tak ada perintah memasang sabuk pengaman.
 
Pengumuman bahwa kereta akan segera berangkat, meninggalkan stasiun, memasuki stasiun, dan tiba di stasiun tujuan juga tertib disampaikan dalam dua bahasa. Satu lagi, ada pengumuman untuk pemesanan makanan.
 
7. Jadwal
 
Setidaknya untuk Kereta Api Bangunkarta yang saya tumpangi untuk mudik kali ini, jadwal keberangkatan dan kedatangan boleh diacungi jempol.
 
Dari Stasiun Gambir, kereta api mulai bergerak perlahan pada pukul 14.59 WIB, dari jadwal keberangkatan pukul 15.00 WIB. Dijadwalkan tiba di Stasiun Tawang pada pukul 21.21 WIB, kereta api sudah memasuki stasiun di Semarang, Jawa Tengah ini pada pukul 21.11 WIB.
 
Jadwal itu sudah termasuk berhenti beberapa menit untuk memberi kesempatan kereta dari arah timur melintas dulu di rel tunggal, tepatnya di Stasiun Telagasari, Indramayu, Jawa Barat. Kereta ini bertujuan akhir di Stasiun Gubeng, Surabaya, Jawa Timur.
 

PenulisPalupi Annisa Auliani
EditorNi Luh Made Pertiwi F
Komentar

Close Ads X