Berbukalah dengan Baklava - Kompas.com

Berbukalah dengan Baklava

Kompas.com - 14/06/2017, 15:03 WIB
KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Baklava

KETIKA berbuka puasa, kita dianjurkan memulai dengan makanan yang manis. Makanan manis lebih menjadi sumber kalori yang mudah diserap tubuh, terutama saat tingkat metabolisme menurun akibat puasa.

Nah, berbukalah dengan baklava karena manisnya moderat, tidak terlampau manis, sehingga selera makan terjaga.

Baklava, makanan asli Turki ini, menjadi salah satu menu takjil andalan dalam sesi berbuka puasa di restoran berkonsep all-day-dining, Cinnamon, Mandarin Oriental, Jakarta.

Baklava disajikan berderet bersama dengan kurma, mouhalabieh, dan umm ali. Seetalase dengan itu semua berderet juga bubur shafar madura, es campur, pisang goreng, pia, dadar gulung, dan es krim.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Suasana menjelang waktu berbuka puasa di Restoran Cinnamon Hotel Mandarin Oriental Jakarta.
Semuanya bercita rasa manis. Sebagaimana anjuran banyak orang, ”berbukalah dengan yang manis”.

Ketika azan Maghrib berkumandang, saya menyeruput seteguk air putih dan mencicipi baklava almond tadi.

Semula saya menduga makanan ini manis banget sebagaimana cita rasa orang Timur Tengah yang kalau membuat masakan manis itu sampai tahap keterlaluan. Terlalu manis.

Rupanya baklava ini manisnya moderat, pas di lidah. Bahkan kalah manis dengan kurma.

Teksturnya yang agak kasar tetapi lembut di lidah seolah memberi kesempatan mulut untuk mengunyah dan meresapi sensasi manis dan gurih almond lebih lama.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Mouhalabieh
Dari makanan Turki, saya beralih ke makanan khas Mesir, umm ali. Chef de Cuisine at Mandarin Oriental, Ciptoroso, menjelaskan bahwa makanan ini berbahan dasar pastry, susu, dan telur. Ada juga kayu manis, almond, dan kadang dicampur parutan kelapa.

Meskipun tak selembut baklava, camilan ini tak kalah sensasional disantap saat berbuka. Seperti mengunyah puding roti, tetapi diselipi kelembutan almond.

Lalu seperti bocah mengundang teman-temannya, almond tadi disusul rasa kayu manis, gurih telur, dan kelapa.

Saya sempat berhenti mengunyah dan membiarkan sesendok umm ali mengendap di bawah langit-langit, untuk mencari gambaran sensasi rasa tadi. Lalu saya menyadari, kadang kelezatan itu tidak perlu diwakili kata-kata.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Samosa
Setelah jeda beberapa menit, giliran beralih ke bubur shafar madura yang rasanya begitu Nusantara. Bahannya bubur sumsum, potongan nangka, bubur mutiara, bubur ketan hitam, kacang merah, dan puding.

Bahan-bahan itu ditimbun serutan es batu lalu disiram sirup dan susu kental manis. Dahaga sehari rasanya tiada terasa lagi.

Itu tadi sebagian takjil manis rasa Timur Tengah bercampur rasa Nusantara. Di bagian lain, terhampar beragam savory rasa Nusantara, seperti tahu gejrot, lawar ayam, balado kentang, dan keredok bandung.

Mencicipi hidangan-hidangan itu seolah diajak keliling Nusantara. Mencicipi tahu gejrot, misalnya, sontak mengingatkan pada udara Cirebon yang hangat dan semilir angin beraroma laut.

”Kami mempertahankan keaslian rasa makanan daerah-daerah ini sehingga orang tidak kaget atau tetap merasa enak,” kata Ciptoroso.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Suasana jelang waktu berbuka puasa di The Café, Hotel Mulia Jakarta.
Sajian Nusantara

Nadia K Tika selaku Communications Executive menjelaskan, selama Ramadhan ini, Restoran Cinnamon berkapasitas 120 kursi itu menyajikan hidangan Nusantara. Ini antara lain untuk memenuhi kebutuhan orang-orang puasa yang ingin merasakan dengan cita rasa yang sudah mereka kenal.

Oleh karena itu, selain menu tadi juga ada kambing guling Jawa Tengah dan bakso malang untuk makanan berat. Buffet buka puasa Cinnamon buka sejak 26 Mei lalu hingga 24 Juni nanti. Untuk menikmati sajian ini, pengunjung merogoh Rp 350.000 per orang.

Masakan Nusantara ini juga tersedia di restoran The Café dan Orient8 Hotel Mulia. Mereka menyediakan serabi, kue putu, kolak pisang, wedang ronde, kue lapis surabaya, hingga kolak labuh.

Di luar Ramadhan pun menu-menu ini sebenarnya tersedia di sana. Hanya saja, selama Ramadhan, menu tersebut ditambah jumlahnya lantaran banyak tamu yang menyantapnya saat berbuka puasa.

Singkatnya, karena hari-hari biasa pun menunya sudah istimewa, saat puasa pun tidak ditambah banyak.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Aneka Kacang
”Ada tambahan, tetapi tidak terlalu signifikan. Hanya kurma dan beberapa jajanan pasar,” kata Romy Herlambang, Director of Communication Hotel Mulia.

Dia menambahkan, untuk menguatkan kesan rasa Nusantara itu, Hotel Mulia mempertahankan rasa asli dengan merekrut penjual makanan terkait.

Misalnya gado-gado, mereka mempekerjakan penjual gado-gado untuk membuat gado-gado setiap hari di The Café yang berkapasitas 429 kursi.

Meskipun demikian, The Café dan Orient8 tetap menyediakan menu-menu internasional, termasuk dessert-nya. Sebab, tidak semua tamu cocok dengan cita rasa Nusantara.

Untuk French dessert, mereka menyajikan strawberry tarte, peach tart, raspberry pudding, floating island, slice fruits, fruits salad, dan red velvette cake.

Juga ada Thai dessert yang memanjakan lidah tamu dengan, antara lain, mock ark shells in coconut milk, steamed sweet cassava, dan Thai jelly.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Pisang Hijau
Strategi yang sama diterapkan Restoran Cinnamon, Mandarin Oriental. Mereka menyediakan beberapa menu internasional seperti kentang tumbuk dan beragam salad dengan beragam dressing.

”Menu internasional hanya sekitar 20 persen jika dibandingkan dengan menu Nusantara,” kata Nadia.

Restoran Cinnamon dirancang sedemikian rupa dengan berbagai ornamen yang menguatkan kesan Ramadhan.

Bahkan, di salah satu sudut terdapat beduk yang selalu dipukul saat azan Maghrib, sehingga pada satu titik, berbuka puasa di Cinnamon serasa di kampung halaman. Seiring beduk ditabuh, dadar gulung pun berlabuh di mulut. (MOHAMMAD HILMI FAIQ)

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorI Made Asdhiana
Komentar