Turis Muslim Dunia Lebih Senang ke Malaysia, Ini Kelemahan Indonesia - Kompas.com

Turis Muslim Dunia Lebih Senang ke Malaysia, Ini Kelemahan Indonesia

Anggita Muslimah Maulidya Prahara Senja
Kompas.com - 15/11/2017, 21:30 WIB
Dua wisatawan mancanegara bermain stand up paddleboard atau berselancar menggunakan dayung  di Pantai Mandalika, Kuta, Praya, Lombok Tengah, NTB, Selasa (10/10). Pantai Mandalika yang berada dalam Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika dan termasuk dalam 10 destinasi wisata prioritas nasional ini memiliki daya tarik berupa pantai sepanjang 14,6 km yang membentang dari barat hingga ujung timur Pantai Tanjung Aan dengan keunikan pasir putihnya menyerupai biji merica. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/kye/17 ANTARA FOTO/AHMAD SUBAIDI Dua wisatawan mancanegara bermain stand up paddleboard atau berselancar menggunakan dayung di Pantai Mandalika, Kuta, Praya, Lombok Tengah, NTB, Selasa (10/10). Pantai Mandalika yang berada dalam Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika dan termasuk dalam 10 destinasi wisata prioritas nasional ini memiliki daya tarik berupa pantai sepanjang 14,6 km yang membentang dari barat hingga ujung timur Pantai Tanjung Aan dengan keunikan pasir putihnya menyerupai biji merica. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/kye/17

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan Indonesia saat ini berada di peringkat kedua setelah Malaysia terkait destinasi wisata yang paling banyak dikunjungi wisatawan muslim millenial di dunia. Arief menjelaskan kelemahan Indonesia dibandingkan Malaysia adalah penggunaan bahasa Inggris.

“Jadi salah satu kelemahan kita adalah masalah bahasa. Bahasa internasional kita, Bahasa Inggris (di Indonesia) tidak lebih baik daripada Malaysia. Sehingga ada selisih skor,” ujar Arief saat ditemui di Gedung Kementrian Pariwisata, Selasa (14/11/2017).

Ia menjelaskan, untuk fasilitas yang ada di Indonesia terutama yang ramah muslim tidak jauh berbeda dengan di Malaysia. Bahkan, lanjut Arief, fasilitas ramah muslim di Indonesia lebih bagus di Indonesia dibandingkan Malaysia.

Menara kembar di Kuala Lumpur, Malaysia.KOMPAS.COM/FIRA ABDURACHMAN Menara kembar di Kuala Lumpur, Malaysia.
Selain itu juga, kekalahan Indonesia sendiri terlihat dari lebih sedikitnya wisatawan muslim yang datang jika dibandingkan dengan Malaysia, Thailand, bahkan Singapura.

Meski demikian, Arief mengapresiasi Indonesia yang kini dapat diperhitungkan di mata dunia. Sehingga di tahun 2019 mendatang, Kementerian Pariwisata menargetkan Indonesia berada di peringkat pertama mendatangkan wisawatan muslim millenial di dunia.

“Targetnya sebenarnya jadi nomor satu, tapi saya kekeuh untuk di 2019 bisa jadi nomor satu. Muslim yang datang ke kita hanya 20 persen dari 10 juta wisatawan. Jadi 2019 harus lima juta (wisatawan),” kata Arief.

Adapun posisi Indonesia berada di peringkat dua paling banyak dikunjungi wisatawan muslim millenial berdasarkan laporan terbaru dari Mastercard-HalalTrip Muslim Millenial Travel Report 2017 atau MMTR2017.

Masjid Baiturrahman, Banda Aceh pasca-10 tahun bencana gempa dan tsunami. Foto karya Chaideer M yang masuk dalam 10 nominator berdasar pilihan juri.CHAIDEER MAHYUDDIN Masjid Baiturrahman, Banda Aceh pasca-10 tahun bencana gempa dan tsunami. Foto karya Chaideer M yang masuk dalam 10 nominator berdasar pilihan juri.
Indonesia dipilih berdasarkan hasil survei Mastercard-HalalTrip kepada 372 responden yang tinggal di lima benua.

Indonesia berada di posisi kedua setelah Malaysia yang berada di urutan pertama. Sementara posisi ketiga setelah Indonesia adalah Jepang.

Ada sepuluh destinasi yang paling banyak dikunjungi wisatawan milenial Muslim di dunia diantaranya Malaysia, Indonesia, Jepang, Thailand, Australia, Singapura, Uni Emirat Arab, Inggris, Amerika Serikat, dan India.

MMTR2017 merupakan laporan komprehensif pertama yang melakukan penelitian terhadap meningkatnya wisatawan Muslim milenial di seluruh dunia. Laporan ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi dari pasar Muslim milenial bagi destinasi-destinasi wisata, operator tur, maskapai penerbangan, dan industri pariwisata serta perhotelan.

PenulisAnggita Muslimah Maulidya Prahara Senja
EditorWahyu Adityo Prodjo
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM