Salin Artikel

Menjejak Masa Lalu, Mengunjungi Layar Tancap Tertua di Dunia

australiasnorthwest.com Sun Picture, bioskop outdoor tertua.

KOMPAS.com – Jajaran lampu yang membentuk deret huruf “Sun Picture" di bagian depan bangunan tua itu menjadi penanda. Meski lebih dari seabad beroperasi, wisata menonton film tak pernah lekang dimakan zaman.

Sun Pictures adalah salah satu bioskop berkonsep terbuka yang paling tua. Pengunjung dapat merasakan betapa menakjubkannya menikmati film favorit beratapkan langit malam penuh bintang.

Suasananya jauh dari kata modern. Mirip dengan pengalaman nonton film di layar tancap. Perbedaannya, telah disediakan bangku beralas kain yang cukup membuat santai untuk penonton.

Di kursi-kursi itulah pengunjung dapat menikmati putaran film favorit sambil bersenda gurau dengan teman atau pasangan. Suguhan yang ditawarkan pun bukan hanya kisah dari film, tapi juga sejarah berdirinya yang panjang.

Berdiri sejak 1916, bangunan itu melewati berbagai momen bersejarah. Salah satunya adalah saat meletusnya Perang Dunia Kedua. Di Australia, ada banyak artefak sejarah yang masih berdiri tegak dan menjadi saksi perjalanan jaman. Jika tertarik, Anda bisa mulai melakukan perencaan perjalanan ke sejumlah kota di negara pulau ini mulai dari sekarang.

Film bisu hingga box office

Siapa menyangka bahwa tempat yang sudah menjadi saksi perkembangan film dunia tersebut akan tetap ramai dikunjungi? Padahal, harga tiket masuknya berada di atas rata-rata kocek menonton film rata-rata, yaitu 17 dolar Australia atau setara hampir Rp 175.000.

Keunikan mendapatkan hiburan dari menonton film sekaligus wisata sejarah seperti di tempat ini, membuat banyak pelancong di Australia rela merogoh kocek lebih dalam lagi untuk sekadar berkunjung ke bangunan bergaya klasik yang sebagian besar berbahan kayu itu.

Di ruang terbukanya, mata pengunjung akan segera disuguhkan proyektor besar dengan pita sepanjang 35 milimeter. Tak ada yang lebih romantis bagi pengunjung berpasangan saat menghabiskan malam di sini. Mereka dapat menjalin kasih sambil menikmati potongan cerita dari dalam proyektor. Belum lagi cahaya bintang dan ornamen lampu gantung yang menambah suasana menjadi lebih romantis.

Terhitung, selama seratus tahun lebih Sun Pictures menjadi saksi perkembangan film dunia. Bioskop bertempat di wilayah Chinatown, Kota Broome, Australia Barat, itu pernah merasakan era film bisu, film bersuara, sampai film dengan tampilan tiga dimensi (3D). Seiring dengan perkembangan zaman, saat ini film yang ditayangkan adalah film-film box office hingga blockbuster. 

Sejarah panjang

Dulu, wilayah Chinatown di Broome merupakan tempat berkumpulnya populasi masyarakat Asia. Tanah tempat berdirinya Sun Pictures sendiri, awalnya adalah toko yang menjual beragam kebutuhan milik keluarga Jepang, Yamasaki.

Sejak berdiri pada 1903, toko tersebut menjual aneka barang untuh kebutuhan keluarga Asia. Contohnya, pakaian, makanan dan alat-alat rumah tangga. Lalu, kecintaan keluarga Yamasaki terhadap seni pertunjukkan akhirnya mendorong mereka mendirikan ruang seni di wilayah toko tersebut. Ruang ini kemudian dipakai sebagai tempat pertunjukan teatrikal budaya Jepang.

Sayangnya, bangunan tersebut hanya bertahan hingga 1913 dan beralih kepemilikan pada salah seorang ahli selam mutiara, Ted Hunter. Tertarik dengan seni dan bisnis, Ted menyulap toko tersebut menjadi tempat menonton film seperti sekarang ini.

Bekerjasama dengan arsitek Claude Hawkes, Hunter merancang agar bioskop mampu menampung 500 penonton. Pada 9 Desember 1916, barulah Sun Pictures diresmikan dengan menayangkan film bisu sebagai tayangan perdana. Bermula di situlah wisata menonton menjadi agenda hiburan masyarakat.

Sayangnya, kecamuk Perang Dunia Kedua membuat gedung ini harus vakum hampir 6 tahun. Baru, setelah perang usai, Sun Pictures kembali bangun dari tidurnya. 

Namun demikian, ada beberapa kendala saat diputuskan akan dibuka kembali. Salah satunya, proyektor yang mengalami kerusakan akibat perang.

Setelah itu, kepemilikan berpindah tangan pada Marisa Ferraz. Di tangan Ferraz, bioskop ini mulai diperbaiki tanpa meninggalkan jejak sejarahnya. Bangunan lama tetap dipertahankan. Hingga 1984, bangunan ini mulai diresmikan kembali.

Untuk menjaga daya tariknya, perkembangan bioskop ini pun dibiarkan mengikuti zaman. Jika sebelumnya pemutaran film masih menggunakan proyektor dan pita film, kini telah beralih ke sinema digital. Hingga Oktober 2012, tempat ini bahkan sudah memutar film 3D dari berbagai genre.

Merunut sejarahnya yang panjang, pantaslah bila tempat ini kemudian banyak dikunjungi. Tak hanya para penikmat film, tapi juga para pegiat film di seluruh dunia.

https://travel.kompas.com/read/2015/07/06/100712427/menjejak-masa-lalu-mengunjungi-layar-tancap-tertua-di-dunia

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.