Salin Artikel

Pengalaman Naik Pesawat Hercules, Transportasi Milik TNI AU...

Saya dan teman-teman juga sibuk mempersiapkan alat-alat yang kami bawa. Lalu, kami menanti detik-detik keberangkatan dengan pesawat Hercules, atau yang biasa disebut Herky.

Personil TNI sudah ramai di lanud Halim Perdanakusuma. Mobil pengangkut bagasi juga mondar-mandir mengangkut logistik yang harus dibawa. Semua petugas pun sibuk menyiapkan teknis keberangkatan.

Kali ini saya dan seluruh rekan Ekspedisi Bumi Cenderawasih Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) akan menuju tanah Papua, tepatnya ke Pegunungan Arfak. Kami berkesempatan untuk menumpang pesawat Herky milik TNI AU sampai Landasan Udara (Lanud) Manuhua, Biak.

Pesawat yang kami tumpangi ini sebenarnya bukan pesawat penumpang pada umumnya. Pesawat ini sebenarnya merupakan pesawat angkut berat yang memiliki fungsi untuk mengangkut logistik seperti semen bahkan mobil lapis baja.

Meskipun pesawat ini sudah memiliki umur yang tidak bisa dibilang muda lagi, tetapi pesawat masih dalam kondisi yang cukup prima. Bukan tanpa alasan pihak TNI AU masih berlangganan pesawat ini sejak 1958.

Mesin turboprop yang dimiliki pesawat ini dianggap cukup handal untuk bermanuver di kawasan pegunungan di Indonesia bagian timur. Dalam pengoperasian pesawat ini juga hanya dibutuhkan lima orang petugas. Ya, tidak ada pramugari seperti pesawat komersial pada umumnya.

Selama perjalanan pun teknisi pesawat selalu siap siaga di depan mesin pesawat agar pesawat dapat take off dengan aman tanpa adanya kegagalan terbang.

Sejujurnya pengalaman terbang dengan Herky merupakan yang pertama bagi saya sekaligus juga merupakan pengalaman terbang dengan pesawat saya yang pertama. Meski begitu, tidak ada rasa takut sama sekali yang saya rasakan.

Maklum saja, rasa takut dan cemas saya sudah tertuju semua pada Pegunungan Arfak, Papua Barat, yaitu lokasi ekspedisi yang akan saya hadapi.

Meskipun belum pernah menggunakan pesawat sebelumnya, tetapi setidaknya saya mengetahui prosedur pada pesawat komersial. Hal-hal seperti perintah untuk mengenakan sabuk pengaman saat akan take off, landing, atau cuaca buruk tidak akan ditemui di pesawat ini.

Bahkan, kita bisa saja tidur selonjoran di atas tumpukan logistik yang dibawa. Hal ini memungkinkan karena tidak ada pemisah antara tempat penumpang dengan logistik. Semua berbaur menjadi satu.

Jangan pula dibayangkan tempat duduk yang empuk dan nyaman. Kursi yang ada hanyalah sejenis tandu yang diikat dengan tali webbing. Itu pun dengan jumlah yang sangat minim.

Meskipun terkesan suram, tetapi kemampuan personil angkatan udara dari Skadron Udara (Skadud) 31 tak dapat dianggap remeh. Seluruh take off dan landing yang dilakukan sangat sempurna. Bahkan saya tidak merasakan hentakan yang berarti saat mendarat.

Begitu juga saat terjadi turbulensi, meski dengan kursi seadanya tidak mempengaruhi kenyamanan perjalanan. Perjalanan yang dimulai dari Halim Perdanakusuma, Jakarta dan berakhir di Lanud Manuhua, Biak ini sempat beberapa kali melakukan pendaratan untuk menurunkan beberapa logistik.

Kami sempat singgah di Lanud Hasanuddin, Sulawesi Selatan. Di sana saya dibuat cukup takjub dengan pemandangan yang saya lihat.

Tujuh buah pesawat SU-27/SU-30 atau yang biasa disebut Sukhoi sedang terparkir di hanggar pesawat. Saya melihat dengan cukup takjub dari dalam jendela pesawat Hercules. Maklum, terakhir saya melihat pesawat itu dari dekat yaitu pada 2012 akhir.

Pendaratan kedua di lanud Pattimura, Ambon. Di sana kami menyempatkan diri untuk cuci muka dan dan ke kamar kecil sejenak.

Perjalanan kami lanjutkan ke Lanud Manuhua, Biak, lanud kelas B yang dipimpin oleh seorang kolonel Angkatan Udara yaitu Kolonel Pnb Fajar Adriyanto, M.Si (Han). Kedatangan kami disambut dengan hangat oleh beliau.

Kebetulan sekali beberapa hari yang yang akan datang beliau akan diangkat menjadi marsekal satu, dan status lanud Manuhua akan dinaikan menjadi lanud kelas A.

Perjalanan dengan total waktu tempuh selama 10 jam ini akhirnya berakhir di Biak dengan suka cita. Hanya terlihat sedikit wajah lelah pada rekan-rekan saya yang lain. Dari wajah mereka yang terpancar dengan jelas adalah adalah semangat untuk berpetualang.

(Artikel dari anggota Tim Ekspedisi Bumi Cenderawasih Mapala UI, Raihan Arul. Artikel dikirimkan langsung untuk Kompas.com di sela-sela kegiatan Ekspedisi Bumi Cenderawasih di Papua Barat)

https://travel.kompas.com/read/2018/07/30/221000027/pengalaman-naik-pesawat-hercules-transportasi-milik-tni-au

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Stasiun Samarang NIS, Stasiun Kereta Api Pertama Indonesia yang Hilang

Stasiun Samarang NIS, Stasiun Kereta Api Pertama Indonesia yang Hilang

Jalan Jalan
Menanti Dibukanya Alun-alun Bandungan di Semarang

Menanti Dibukanya Alun-alun Bandungan di Semarang

Travel Update
Pertemuan Menteri Pariwisata Anggota G20 Sepakati 5 Poin Bali Guidelines

Pertemuan Menteri Pariwisata Anggota G20 Sepakati 5 Poin Bali Guidelines

Travel Update
5 Tempat Ngeteh Instagramable di Jakarta

5 Tempat Ngeteh Instagramable di Jakarta

Jalan Jalan
Kunjungi Kampung Adat, Turis Portugal Pakai Kain Songke dan Selendang Manggarai

Kunjungi Kampung Adat, Turis Portugal Pakai Kain Songke dan Selendang Manggarai

Jalan Jalan
7 Tips Aman Berkendara di Jalan Tol agar Tidak Kecelakaan

7 Tips Aman Berkendara di Jalan Tol agar Tidak Kecelakaan

Travel Tips
3 Tren Terkini Pariwisata di Indonesia, Ada Sport Tourism

3 Tren Terkini Pariwisata di Indonesia, Ada Sport Tourism

Travel Update
Serunya Trekking di Bukit Lawang Sumatera Utara, Bertemu Orangutan dan Monyet

Serunya Trekking di Bukit Lawang Sumatera Utara, Bertemu Orangutan dan Monyet

Jalan Jalan
Awas Bahaya! Hindari 3 Hal Ini Saat Trekking

Awas Bahaya! Hindari 3 Hal Ini Saat Trekking

Travel Tips
Literasi dan Edukasi Sampah Plastik, Upaya Jaga Keindahan Labuan Bajo

Literasi dan Edukasi Sampah Plastik, Upaya Jaga Keindahan Labuan Bajo

Travel Update
Kenaikan Tiket Masuk TN Komodo Ditunda, Sudah Ada Turis yang Jajal Tarif Rp 3,75 Juta Per Orang

Kenaikan Tiket Masuk TN Komodo Ditunda, Sudah Ada Turis yang Jajal Tarif Rp 3,75 Juta Per Orang

Travel Update
Batik Air Terbang ke Samarinda dan Pekanbaru dari Halim per 1 Oktober

Batik Air Terbang ke Samarinda dan Pekanbaru dari Halim per 1 Oktober

Travel Update
7 Patung Yesus Tertinggi di Dunia, Ada yang dari Indonesia

7 Patung Yesus Tertinggi di Dunia, Ada yang dari Indonesia

Jalan Jalan
Harga Tiket Wahana Romokalisari Adventure Land, Wisata Baru Surabaya

Harga Tiket Wahana Romokalisari Adventure Land, Wisata Baru Surabaya

Travel Tips
Survei Google: Minat Wisata Warga Indonesia Saat Ini Lebih Tinggi Dibanding 2019

Survei Google: Minat Wisata Warga Indonesia Saat Ini Lebih Tinggi Dibanding 2019

Travel Update
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.