Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Reba Ngada, Pemulihan Hubungan dengan Tuhan, Alam, dan Leluhur...

Beberapa istilah yang berkaitan dengan perayaan Pesta Reba atau pesta pemecahan uwi (ubi) digelar di kawasan Langa yang melingkupi beberapa kampung di Kecamatan Bajawa diantaranya, Kobe Dheke, Reba; malam pertama upacara perayaan pesta Reba, Kobe Dhoy.

Malam kedua disertai tarian O Uwi bergembira ria bersama dan Kobe Su’I Reba. Malam perpisahan terakhir upacara perayaan pesta Reba yang digelar dengan ritual Su’I Uwi (Ubi) dan Bura Su’a untuk meneguhkan seluruh anggota Ana Sa’o rumah adat, agar dalam berkarya harus mengikuti amanat suci leluhur (lese Dhe Peda Kawe atau Po Boro Molo, Teta Lema Zi’a) dalam mencapai kesejahteraan, kedamaian dan kebahagian.

Saat melaksanakan Kobe Dheke, Kobe Dhoy maupun Kobe Su’I biasanya selalu dilakukan ritual Ti’I Ka Ebu Nusi untuk mengajak leluhur hadir di dalam Sa’o Meze (rumah adat orang Ngada), Tangi Lewa, Kopo Molo, Lega Zi’a, untuk makan dan minum bersama, disuguhkan menu masakan hati ayam, hati babi, daging babi dan daging kerbau atau Suy Wu’u yang diawetkan, kecuali daging yang didapat dari upacara kematian tidak diperbolehkan.

Ritual T’I’I Ka Ebu Nusi dilakukan dengan maksud untuk memuluskan, memulihkan atau mengharmoniskan hubungan antara manusia dengan Tuhan, alam dan leluhur.

Dengan melestarikan dan menjalankan amanat suci petuah leluhur dalam prinsip-prinsip dan norma-norma hukum adat dan budaya kita, berarti kita telah menaati dan melaksanakan perintah Tuhan.

Untuk itu setiap perayaan Reba dilaksanakan ritual Fedhi Tua Puju Kuwi Na’a, Titi Ka Ebu, Su’I Uwi dan Bura Su’a dengan syair-syair dalam Bahasa Ngada sebagai berikut; syair Fedhi Tua Puju Kuwi Na’a, Ti’I Ka Ebu dan lain sebagainya diperdengarkan kepada seluruh masyarakat Ngada saat Pesta Reba dilangsungkan di kampung-kampung di kawasan Langa khususnya dan seluruh Ngada.

Pemulihan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, alam dan leluhur dilangsungkan setiap tahun agar terjadi silih dari berbagai peristiwa hidup serta segala usaha dan pekerjaan di tahun yang akan datang mendapatkan restu dari Pemilik Kehidupan.

Ritual Reba juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, alam dan leluhur di seluruh Kabupaten Ngada.

Setiap tahun ribuan masyarakat Ngada harus berkumpul, berdoa dan melaksanakan berbagai ritual adat selama satu minggu di rumah adat masing-masing (Sa’o Meze). Ritual adat itu berhubungan dengan pemulihan dari manusia kepada Tuhan, alam dan leluhur.

Menu yang dihidangkan selama ritual itu berlangsung adalah uwi atau ubi. Bagi orang Ngada, uwi (ubi) adalah makanan yang mulia, luhur dan sangat dihormati karena leluhur mereka berjuang dalam pengembaraan menuju lembah, bukit dan pegunungan dari Lepelapu, Aimere dengan bermodalkan ubi.

Wagub NTT Josef Adrianus Nai Soi bersama istri dan keluarganya mengikuti ritual ini setiap tahunnya.

Perayaan Pesta Reba sesungguhnya, orang Ngada yang sedang merantau harus pulang untuk mengikuti ritual adat pemulihan hubungan yang harmonis dengan Tuhan, alam dan leluhur serta membangun kembali persaudaraan diantara keluarga dan sesama seluruh masyarakat Ngada.

“Saya bisa menjadi orang besar di negeri ini berkat dari ritual Reba yang setiap tahun dilaksanakan oleh orangtua dan nenek moyang orang Ngada. Saya mengikuti nasihat-nasihat tua-tua adat dan orangtua saat Reba dengan hidup jujur, mandiri dan bekerja keras. Banyak nasihat dari orangtua, tetua adat Ngada yang disampaikan saat ritual Reba dilangsungkan. Syair-syair adat yang diperdengarkan saat ritual Reba memiliki nilai-nilai luhur sebagai modal hidup,” katanya.

"Kita harus memahami jejak-jejak perjuangan nenek moyang orang Ngada yang bisa sampai di kawasan perbukitan, lembah dan pegunungan di Kabupaten Ngada ribuan tahun yang lalu<' katanya.

“Nasihat-nasihat adat harus kita taati sebagai kekuatan dalam perjalanan hidup di dunia ini. Nenek moyang orang Ngada saat pengembaraannya tidak pernah lupa dengan adat istiadatnya. Saat tiba di kawasan pegunungan, lembah dan perbukitan Ngada, mereka melangsungkan ritual adat sebagai ucapan syukur atas perlindungan dari pemilik hidup, alam sebagai tempat hunian serta leluhur mereka di tempat asalnya,” sambung Wagub NTT.

Wagub Nai Soi mengajak masyarakat Ngada untuk menanam kembali ubi di kebun masing-masing. Nenek moyang orang Ngada berbekal hidup dengan ubi sebelum mengenal nasi. Uwi atau ubi sebagai makanan pokok dan diritual secara adat.

“Ketika saya renung, saya menemukan betapa kecerdasan sosial dan keadilan di wariskan nenek moyang orang Ngada. Selain itu, saat pengembaraan melewati Samudera Pasifik dengan terpaan ombak dan angina topan, mereka tetap membina dan menjalin tali persaudaraan yang kuat diantaranya. Persatuan yang kokoh diantaranya mereka menjadi kekuatan dalam pengembaraan mereka di dunia ini,” jelasnya.

Ketua DPRD NTT, Anwar Pua Geno, Selasa (15/1/2019),mengatakan Kabupaten Nagekeo mekar dari Kabupaten Ngada secara administrasi, namun ikatan adat istiadat dan kekeluargaan tetap satu.

“Saya lahir di Kampung Tonggo, di Keo saat masih satu dengan Kabupaten Ngada sebelum dimekarkan menjadi kabupaten definitif sendiri. Saya selalu hadir saat ritual Reba dilangsungkan. Ikatan tali persaudaraan dan ikatan kekeluargaan terus terjalin lintas kabupaten karena kita satu dalam ikatan budaya yang diwariskan leluhur orang Ngada dan Nagekeo,” katanya.

Pua Geno memaparkan, DPRD NTT terus mendukung program Pemprov NTT untuk pengembangan pariwisata berbasis masyarakat. Pesta Reba akan ditingkatkan menjadi Festival Reba di tahun akan datang dengan menghadirkan ribuan masyarakat Ngada serta ribuan ubi serta mempromosikan kain tenun.

Pelaksana Tugas Bupati Ngada, Paulus Soliwoa, Selasa (15/1/2019) menjelaskan, perayaan Pesta Reba memiliki nilai sakral dan magis yang diwariskan leluhur orang Ngada. Sebelum dilakukan pesta Reba, terlebih dahulu dilaksanakan ritual pemecahan uwi yang sebut Su’I Uwi. Pelaksanaan awal dan akhir dari ritual Reba dilakukan di Sa’o Meze Ngada.

“Ini merupakan warisan dari leluhur nenek moyang Ngada untuk selaras dengan alam dan bersyukur kepada Tuhan. Uwi memiliki nilai luhur dan bermartabat sebagai makanan pokok orang Ngada. Orang Ngada tak bisa dipisahkan dengan makanan ubi sebagai makanan yang diwariskan nenek moyang ratusan tahun yang lalu,” katanya.

Soliwoa menjelaskan, Pesta Reba merupakan satu dari sekian destinasi budaya di Kabupaten Ngada. Banyak ritual adat yang diwariskan nenek moyang orang Ngada yang terus dilaksanakan dan dipertahankan. Namun Ritual terbesar di Kabupaten Ngada dengan melibatkan warga kampung adalah Ritual Reba.

“Setiap tahun orang selalu menceritakan tentang Pesta Reba Ngada. Pesta Reba memiliki nilai magis yang memikat orang dari berbagai wilayah di Pulau Flores. Namun, yang menariknya adalah semua orang sama dengan memakai pakaian adat tenun Ngada. Entah itu, pejabat tinggi dan masyarakat biasa sama-sama memakai pakaian adat tenun Ngada,” katanya.

“Ini bukti perhatian serius dari Pemprov NTT untuk pengembangan pariwisata di Kabupaten Ngada. Pemkab Ngada siap menyuksekan festival adat Reba tahun depan. Persiapannya di mulai dari sekarang bersama dengan tua-tua adat di Kabupaten Ngada,” tambah Soliwoa.

https://travel.kompas.com/read/2019/01/21/182900627/reba-ngada-pemulihan-hubungan-dengan-tuhan-alam-dan-leluhur-

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke