Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Pengalaman WNI di Jepang Puasa saat Pandemi Corona

Hal ini bisa menjadi tantangan sendiri bagi orang yang terbiasa dengan durasi puasa lebih pendek di negara asalnya, salah satunya Indonesia, dengan durasi puasa 13 jam.

Lantas bagaimana pengalaman berpuasa Warga Negara Indonesia (WNI) di Jepang? Plus, saat ini tengah pandemi corona, yang mengharuskan orang berdiam diri di rumah untuk mencegah penyebaran.

Salah seorang WNI bernama Eka Satria Putra yang sudah tinggal di Jepang hampir 2 tahun menceritakan kisahnya menjalani Ramadhan di tengah pandemi.

Eka mengaku, di masa pandemi corona, ia bekerja dari rumah, sehingga lebih banyak menghabiskan waktu dari rumah.

Oleh karena itu, ia lebih sering makan masakan sendiri.

"Kalau dari makanan, saya biasa buka pakai Miso Sup, terus akhir-akhir ini saya juga bikin Okonomiyaki sendiri Itu ternyata mudah banget buatnya, bentuknya kayak pancake tapi asin," kata Eka saat dihubungi Kompas.com, Selasa (28/4/2020).

"Nah saya beli bahannya dulu di luar, terus buat sendiri di rumah. Karena kalau beli di luar itu mahal," lanjutnya.

Ternyata, bahan-bahan membuatnya cukup mudah ditemukan di Jepang. Ia hanya membutuhkan sayuran, udang, tepung, lalu dicampurkan dengan susu dan telur.

"Susu sama telurnya dipanggang gitu aja bareng sama bahan lainnya. Karena beli di luar mahal, jadi saya beli mentahnya doang. Nah, di tahap akhir tinggal kita kasih saus mayonaise dan slice nori di atasnya," ujarnya.

Untuk membeli bahan makanan dari kedua makanan itu, Eka mengaku hanya membutuhkan uang 1.000-3.000 yen atau sekitar Rp 100.000 hingga Rp 400.000 guna pasokan makanan selama satu minggu.

Pria asal Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat ini mengatakan, biaya tersebut sudah bisa dikatakan paling murah untuk orang perantauan yang hidup di Jepang.

Ia menambahkan, bagi perantauan di Jepang, sama sekali tidak sulit untuk mencari makanan terlebih untuk buka puasa. Siapa saja bisa mencari makanan besar di setiap supermarket.

"Bukan makanan instan, jadi ya betul-betul makanan yang dimasak lalu dikemas dalam plastik mika," kata Eka.

"Kamu bisa milih mau makanan apa, dan harganya paling murah itu 300 yen, kayak kamu makan nasi kucing ibaratnya, murah banget untuk di sini harga segitu," lanjutnya.

Pekerjaannya yang menuntut harus pergi ke lapangan membuat dirinya tetap bekerja selama delapan jam di kantor mulai pukul 08.00 hingga pukul 17.00 waktu Jepang.

"Kalau saya kan kerja di perusahaan produksi jadi tetap harus masuk, jam kerja tetap delapan jam. Terus sampai rumah jam 5 sore," kata Arief saat dihubungi Kompas.com, Selasa (28/4/2020).

"Pas sahur itu di sini jam 02.30, saya saja baru bisa tidur jam 00.00 namanya anak muda, sulit banget buat tidur cepat, ada aja yang dikerjain," lanjutnya.

Saat sahur tersebut, ia tentu memasak makanan sendiri yang terbuat dari bahan-bahan makanan yang telah dibeli sebelumnya.

Tak ada jadwal khusus bagi Arief untuk menu makan sahur setiap harinya. Ia mengaku acak saja dalam memasak makanan, tergantung selera dan keinginan yang terlintas saat itu juga.

"Sahur sih ya kadang numis-numis sayur aja, engga tahu itu sayur apa namanya, yang penting hijau dan menyegarkan. Itu kalau lagi rajin pengen masak. Nah, kalau malas ya paling masak mi Thailand apa mi Jepang gitu," terangnya.

Kebetulan, kata dia, ia tinggal bersama dengan WNI lainnya yang juga merupakan pilihan dari berbagai kampus di indonesia untuk bekerja di Jepang.

"Jadi kan saya kerja di Jepang ini program dari kampus, setelah lulus tahun kemarin. Ada tiga kampus yang juga punya program yang sama. Kebetulan di apartemen saya ini semuanya orang Indonesia, tapi di apartemen lain ada yang campur dari negara mana-mana," jelasnya.

Adapun semua kegiatan atau aktivitas di luar jam kerja biasa dilakukan bersama-sama oleh Arief dan teman satu apartemennya, termasuk memasak.

Biaya makan Arief sendiri selama satu minggu terhitung murah, yaitu 2.000-3.000 yen atau sekitar Rp 250.000 hingga Rp 400.000.

"Ya semua tergantung orangnya bisa mengatur keuangan buat makan apa enggak. Itu kan cuma buat makan berat saja satu minggu, belum termasuk jajan, dan lainnya," katanya.

Jumlah budget tersebut biasa digunakan Arief untuk membeli bahan-bahan seperti sayur yaitu wortel, kentang. Selain itu, untuk membeli bumbu-bumbu seperti bawang, garam, dan lainnya.

Namun, budget tersebut ternyata masih di luar pembelian beras. Kata dia, beras di Jepang lumayan tinggi harganya.

"Jadi saya stok itu satu bulan 30 kilogram untuk tiga orang. Itu sekitar 7.000-an yen. Itu udah beras paling murah lho ya, yang lain mahal," ujarnya.

https://travel.kompas.com/read/2020/04/30/094500327/pengalaman-wni-di-jepang-puasa-saat-pandemi-corona

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke