Berkelana ke Negeri-negeri Stan (63)

Kompas.com - 02/06/2008, 08:34 WIB
Editor

 [Tayang:  Senin - Jumat]

Diciduk Polisi (2)

Halim yang baru saya kenal di dalam bus, setelah mengajak saya berputar-putar di desa yang sama sekali asing, kini membawa saya ke sebuah apartemen kuno di Ferghana. Saya tak tahu lagi ini ada di mana. Saya hanya memasrahkan nasib saya kepada orang ini, yang kini sedang bercakap-cakap dengan gadis berdaster di sebuah apartemen remang-remang dengan temaram lampu merah jingga.

Saya tidak paham apa yang dirundingkan antara Halim dengan perempuan itu. Tak sampai lima menit mereka bercakap-cakap, Halim langsung menyeret saya keluar dari gedung bobrok dan bau itu.

            "Kita ke tempat lain saja," katanya. Siapa perempuan itu tadi? "Adik," jawabnya singkat, seolah ingin menghindari cecaran pertanyaan saya yang dungu ini.

Halim memanggil taksi lagi. Saya semakin bingung ada di bagian kota mana ini. Malam yang gelap gulita membuat saya mustahil mengingat jalan dan gedung-gedung yang bisa saya jadikan penanda.

            "Halim aka.....," sambut seorang wanita hamil yang muncul dari balik pintu sebuah apartemen kecil di lantai dasar. Aka, bahasa Uzbek, artinya kakak laki-laki. Si wanita itu bicara tanpa henti. Saya tak mengerti apa pun, hanya merasakan nada bicara yang merajuk manja. Semua giginya berlapis emas.

Halim mengajak saya untuk masuk ke sebuah ruangan. Kosong, tumpukan kurpacha, matras untuk duduk, menggunung di sudut ruangan. Halim menyiapkan kurpacha, dan saya langsung duduk manis. Bau tak sedap mengisi molekul-molekul udara. Kecoak bergerayapan di sana sini. Rumah ini masih belum bisa dibilang bersih. Cat di tembok sudah terkelupas. Ada poster Mekkah di tembok sebelah sini, ada gambar pantai tropis di sampingnya, seakan merupakan idam-idaman pemilik rumah yang terkurung di negeri tanpa lautan. Ada juga poster gunung-gunung China yang berupuisi.

Di sudut kamar ada sebuah TV ukuran super kecil. Si wanita hamil sibuk mengepaskan antena, dan gambar bintik-bintik hitam putih pembaca berita mulai muncul. Mungkin butuh teropong untuk bisa menonton TV ini, karena gambarnya kecil sekali. Sekembalinya dari toilet, yang tidak berair dan penuh hewan-hewan mungil tidak lucu, saya kembali duduk manis di sudut kamar ini. Halim keluar sebentar, untuk beli makanan katanya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.