Kompas.com - 22/08/2013, 12:20 WIB
EditorI Made Asdhiana

Jalur menuju puncak bisa ditempuh melalui dua rute utama. Karena itu, jalur pulang dan pergi bisa dilalui tidak dengan trek yang sama agar bisa melihat suasana berbeda. Jalur-jalur itu masih berdekatan dengan pelataran parkir kendaraan bermotor sehingga wisatawan tak perlu berjalan jauh saat mulai mendaki.

Kebun binatang

Bukit Tangkiling ditetapkan sebagai daerah tujuan wisata terpadu unggulan karena di sana juga terdapat tujuan wisata religi. Biara Pertapaan Karmel dan Pura Hindu Kaharingan dibangun di kawasan itu. Pesona alam kian lengkap dengan kebun binatang mini.

Berbagai satwa bisa dilihat, antara lain binturung, landak, dan kera. Tak jauh dari Bukit Tangkiling berdiri Hotel Rungan Sari yang berkelas. Banyak turis asing menginap di hotel itu. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng mengelola TWA Bukit Tangkiling dengan luas 533 hektar.

Menurut Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia Provinsi Kalteng Berdodi Samuel, wisatawan yang hendak ke Bukit Tangkiling tetapi ingin mencari informasi lebih banyak bisa datang ke kantor resor BKSDA Kalteng atau Anak Himba Outbound. Tempat-tempat itu masih berada di TWA Bukit Tangkiling.

Berdodi menambahkan, di balik keindahan Tangkiling terdapat legenda menarik. Konon, pada zaman dulu hidup seorang anak bernama Tangkiling. Suatu hari, anak kecil itu merengek-rengek kepada ibunya karena kelaparan. Lama kelamaan, sang ibu tak tahan dan naik pitam.

Ia memukul kepala Tangkiling sehingga anak itu berteriak-teriak. Tak kuasa menahan sakit, Tangkiling menangis dan berlari. Ia baru berhenti saat sampai di pelabuhan dan bertemu saudagar kaya yang menaruh kasihan. Nasib baik membuat saudagar itu mengajak Tangkiling berkelana dengan kapalnya.

Keberuntungan Tangkiling berlanjut hingga ia menjadi anak angkat saudagar. Tangkiling pun memiliki kapal sendiri. Saat Tangkiling dewasa, kapal besarnya berlabuh di suatu daerah. Ia berjumpa dengan perempuan bernama Bawi Kuwu dan mereka jatuh hati.

Tangkiling pun mengajak menikah yang diiyakan Bawi Kuwu. Suatu waktu, Tangkiling dan Bawi Kuwu sedang berduaan. Namun, betapa terkejutnya Bawi Kuwu saat menemukan bekas luka di kepala Tangkiling. Setelah menyimak kisah masa kecil pemuda itu, sadarlah Bawi Kuwu bahwa Tangkiling adalah anaknya.

Dewa-dewa menjadi murka dan mengirimkan kutukan kepada Tangkiling. Ia berubah menjadi batu. Nasib sama menimpa bahtera Tangkiling yang kini menjadi Batu Banama. Batu itu kini bisa dilihat di Bukit Tangkiling. Kisah mengenai asal-usul Bukit Tangkiling mirip dengan Sangkuriang di Jawa Barat.

Wisatawan dari Pontianak, Kalimantan Barat, Rudy Soeratno (30), kagum akan pemandangan dari puncak Bukit Tangkiling. Namun, masih terdapat kekurangan, yakni tidak ada bangunan untuk berteduh. Saat cuaca panas, wisatawan hanya bisa berlindung di balik batu besar.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.