Menunggu Panen Durian Monthong

Kompas.com - 07/11/2013, 16:18 WIB
- -
Penulis advertorial
|
Editoradvertorial

Boyolali - Durian Monthong selalu identik dengan negeri Gajah Putih Thailand. Ya, setiap nama Durian Monthong disebut maka di kepala kita langsung muncul Thailand. Durian Monthong dan Thailand bak dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Tapi jangan kaget, bukan hal mustahil bila suatu saat Durian Monthong juga akan lekat dengan Boyolali, salah satu kabupaten di Jawa Tengah. Ini sangat mungkin terjadi karena saat ini Kabupaten Boyolali, yang selama ini dikenal sebagai daerah penghasil sapi serta susu segar, juga mengembangkan perkebunan Durian Monthong.

Pengembangan durian varietas legendaris dari Thailand ini dilakukan oleh para petani yang tinggal di wilayah bawah lereng Gunung Merapi dan Merbabu, tepatnya di Desa Karanganyar, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali. Petani daerah setempat mulai merintisnya sejak tahun 2011 dengan menggarap lahan seluas 20 hektare yang merupakan tanah milik kas daerah sekitar tujuh hektare dan sisanya milik petani. Dari luasan lahan tersebut, terdapat sekitar 2.800 pohon durian dengan jarak penanaman 8x8 meter yang dijamin mendapatkan pengairan dari waduk mini yang dikhususkan untuk penyiraman pohon.
  
Durian Monthong Pembawa Harapan

Pardi (40), petani yang tinggal di Dukuh Karanganyar, Desa Karanganyar Kecamatan Musuk mengaku selama ini hanya mengandalkan produksi palawija di lahan tadah hujannya. Pada saat musim penghujan dan tanah masih gembur, tanaman palawija andalannya biasanya jagung, kacang tanah, dan kacang panjang.

"Tapi kalau kemarau, nganggur tanah tidak bisa ditanami apa pun karena tanahnya keras," kata ayah dua anak ini. Pardi mengaku dari luas lahan yang dimiliki sekitar 2.000 meter yang ditanami palawija tersebut, jika dirata-rata penghasilan bulanan yang diperoleh sekitar Rp 200 ribu saja.

Di dukuh tetangga Pardi tinggal, Dukuh Setro di desa yang sama, Suryanto (38), juga mengakui hal yang sama,  dari 1.000 meter persegi lahan yang dimilikinya hanya menghasilkan pada saat musim hujan dan saat tanah masih dapat digarap. Sementara pada saat kemarau, sebagian besar tanah garapan miliknya juga petani yang lain tidak ditanami apa pun. Tanaman yang dapat bertahan dengan baik adalah tanaman keras seperti sengon serta tanaman ketela pohon.

Wilayah Desa Karanganyar yang berada di lereng gunung, menjadikan warganya senantiasa mengalami kesulitan pasokan air saat musim kemarau. Untuk membuat sumur bor sebagai sumber pengairan, dengan kedalaman kedalaman 50 meter hingga 100 meter, dibutuhkan biaya yang sangat besar, sekitar Rp125 juta sampai Rp150 juta. Jumlah yang sangat sulit untuk dipenuhi oleh petani seperti Pardi dan Suryanto yang penghasilan bulanannya hanya Rp200 ribu perbulan. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, bukan untuk pengairan tanaman, warga terpaksa membeli air bersih seharga Rp 90 ribu  pertangki (sekitar 5 ribu liter).

Tidak adanya kegiatan pada musim kemarau, menjadikan sejumlah petani lebih memilih menjadi buruh bangunan di luar daerah untuk menyambung hidup. Petani baru kembali ke desanya dan menggarap sawah ketika musim hujan menyapa Desa Karanganyar.

Kondisi yang selalu dialami berulang setiap tahunnya oleh petani di Desa Karanganyar kemudian  berubah setelah PT Pertamina (Persero) memberikan bantuan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk program sentra pemberdayaan tani (SPT) pengembangan buah Durian Monthong. Melalui CSR, PT Pertamina (Persero) memperkenalkan petani dengan Durian Monthong.

Pertanyaannya kenapa pilihannya mengembangkan Durian Monthong? Menurut Wakil Pimpinan SPT Desa Karanganyar Nanang Dwi Hartanto sebelum ada program CSR PT Pertamina, di Boyolali dan Desa Karanganyar sudah ada warga yang memiliki  pohon durian lokal. Tanah di Desa Karanganyar, lanjut Nanang, memang cocok untuk pengembangan Durian Monthong. Masa hidup pohon Durian Monthong yang lebih lama  serta harga jualnya juga menjadi pertimbangan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X