Kompas.com - 18/12/2013, 13:13 WIB
EditorI Made Asdhiana

Dalam perjalanan hidupnya, Kartini tak hanya menghibur masyarakat di Jakarta dan Jawa Barat, tetapi juga di sejumlah wilayah lain di Indonesia dan dunia. Tahun 1981, ia pentas di Hongkong, kemudian Singapura (1985) serta Nigeria dan Mesir (1997).

Saat ini, Kartini aktif mengajar seni tari di sejumlah sekolah. Meskipun tak tamat SD, ia mengajar mulai dari jenjang SD hingga perguruan tinggi. Ia juga menjadi dosen tamu di Universitas Negeri Jakarta dan Institut Kesenian Jakarta. Selain itu, ia juga mengajar di sejumlah sanggar seni dan Balai Kesenian Jakarta. Dalam seminggu, 4-5 hari ia mengisi hari dengan mengajar.

Generasi penerus

Pada usianya kini, Kartini mulai menyiapkan generasi penerus. Ia tak menargetkan waktu kapan berhenti menari. Jika melihat pola pewarisan dua generasi sebelumnya, wajar apabila ada yang menebak anaknya yang akan menggantikan.

Namun, ternyata hal itu tidak terjadi. Kartini menikah dengan Rachmat Ructhiyat tahun 1977 dan dikaruniai seorang putra, Iim Muharam. Iim tak bisa mewarisi tradisi tari keluarga yang mulai dimainkan Mak Kinang tahun 1920-an itu.

Kartini pun fokus melatih di sanggar milik keluarga: Sanggar Seni Ratna Sari. Dia berharap, dari sanggar itu lahir generasi keempat. Dalam setahun, lebih dari seratus orang dilatihnya. Sanggar dikelola Sukirman, saudara kandungnya.

Kini, ia membidik tiga keponakannya. Sesuai pesan Mak Kinang, Kartini harus mempertahankan dan menyebarluaskan seni itu. ”Tari ini harus dipertahankan dan disebarluaskan. Jangan sampai hilang,” ujar Kartini, meniru pesan neneknya.

Memainkan tari topeng butuh penghayatan tinggi. Dan, itu ia tekankan kepada anak didiknya. Penjiwaan adalah kunci.

Tari topeng menggambarkan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari melalui tiga motif topeng. Pertama, topeng putih bernama panji. Panji adalah simbol kelembutan perempuan. Gerakan penarinya lemah lembut.

Kedua, topeng merah muda bernama sangga. Gerakan tangannya agak atraktif dan agresif dibandingkan panji. Gerakan itu melambangkan sikap wanita yang centil, genit, dan ingin selalu diperhatikan.

Motif topeng terakhir adalah raksasa merah tua bernama jingga. Beberapa gerakan pada jenis ketiga ini antara lain mengepalkan tangan dan membuka kaki memasang kuda-kuda, yang menjadi simbol orang kuat dan angkuh.

Tarian itu diiringi beberapa jenis alat musik, antara lain rebab, kenceng, kenong, kecrek, gong, dan gendang. Para pemainnya dinamakan panjak. Ritme musik sesuai motif topeng yang dipakai. Tari topeng biasa dimainkan pada beberapa acara orang Betawi, seperti khitanan, pernikahan, dan sedekah bumi.

Kartini berharap, pengetahuan tentang tari topeng dibukukan agar bisa dipelajari generasi mendatang. Selain itu, tari tersebut juga bisa masuk kurikulum SD di Jakarta. ”Saya ingin semuanya bisa ditulis, tetapi saya tidak bisa menulisnya,” katanya.

Kartini pun optimistis, warisan neneknya itu tidak akan hilang ditelan zaman. Meskipun untuk itu dia harus berjibaku menghadapi gempuran zaman yang serba digital dan modern. (Fransiskus Pati Herin)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.