Kompas.com - 22/03/2014, 16:44 WIB
EditorI Made Asdhiana

Untungnya, masih ada beberapa orang yang hafal isi naskah. Kini, kemajuan teknologi juga memungkinkan pertunjukan direkam video dan suara. Hasilnya menjadi acuan bagi kelompok-kelompok makyong kontemporer, seperti dikembangkan Said Parman dan Husnizar di Tanjung Pinang, untuk berlatih.

Said membina murid berbagai sekolah di Tanjung Pinang untuk melanjutkan keberadaan salah satu seni tradisi Melayu itu. Ia berusaha beradaptasi dengan kondisi sekarang. Beberapa perkataan spontan masa kini diizinkan diucapkan pemain yang rata-rata masih sekolah. Toleransi itu lebih baik daripada sama sekali tak ada pelajar yang mau berlatih makyong.

Asal-usul

Sulit membayangkan beberapa perkataan spontan yang terucap dalam pentas asli kesenian yang disebut berasal dari Pattani, Thailand selatan, itu. Namun, hal itu pilihan rasional untuk terus menghidupkan kesenian yang sudah hidup ratusan tahun tersebut.

Makyong tak hanya merangkum seni Melayu dalam satu panggung. Perjalanan makyong dari Thailand ke Kepulauan Riau sekaligus jadi salah satu bahan kajian sejarah suku Melayu.

Pernah jadi primadona di Thailand selatan dan Malaysia, kini makyong nyaris hilang di tanah kelahirannya itu. Di Thailand, menurut catatan Pudentia, makyong sulit bertahan. Bukan hanya karena dianggap kuno, melainkan karena makyong dianggap kebudayaan Melayu. Akibatnya, kurang diterima di Thailand.

KOMPAS/KRIS RAZIANTO MADA Pulau Panjang, tempat tinggal para aktor teater makyong terakhir di Batam, Kepulauan Riau. Makyong salah satu teater rakyat di tanah Melayu yang sudah hidup selama berabad-abad. Dimulai dari Thailand Selatan, Makyong menyebar hingga ke Indonesia.
Ironisnya, masyarakat Melayu Thailand kurang menerima makyong karena dianggap tak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Padahal, Melayu, saat ini, dianggap identik dengan Islam.

Alasan serupa juga pernah menenggelamkan makyong di Malaysia. Di sana, makyong dilarang karena pemain-pemain wanitanya memerankan tokoh pria. Selain itu, dalam cerita asli, ada bagian inses atau hubungan sedarah. Akibatnya, lebih dari satu dekade makyong dilarang

Malaysia kemudian merevisi kebijakan dengan mengusulkan makyong sebagai Masterpiece of Intangible Cultural Heritage di UNESCO pada 2003. Adapun di Pattani, makyong kembali dipentaskan meski dengan jadwal yang tak pasti dan sangat jarang. Pasang surut kebijakan terhadap makyong menggambarkan pula pasang surutnya puak atau suku Melayu. (Kris R Mada)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.