Kompas.com - 26/09/2014, 08:43 WIB
Patti Seery KOMPAS/MOHAMAD FINAL DAENGPatti Seery
EditorI Made Asdhiana

”Pinisi adalah kapal yang sarat tradisi dan mewarnai sejarah negeri ini. Kapal ini sudah menjelajahi lautan untuk mengangkut rempah-rempah jauh sebelum bangsa Barat datang ke Indonesia,” kata Patti.

Selain itu, dia juga mengagumi tingkat keahlian para perajin dalam membuat kapal dengan tangan. Ini adalah sesuatu yang sudah sangat jarang ditemui di dunia. Patti pun memandang pinisi bukan sekadar alat transportasi, melainkan juga karya seni yang bernilai tinggi. ”Tidak ada arsitek yang bisa membuat kapal ini seperti orang Ara membuat pinisi,” ujarnya.

Berkeliling Indonesia dan Asia Tenggara dengan kapal laut sewaan pun kerap dilakoni Patti meski telah pindah kembali ke Amerika Serikat (AS) delapan tahun kemudian. Tidak sekadar menikmati pelayaran yang menjadi gairah hidupnya, tetapi Patti juga jatuh cinta kepada masyarakat dan kebudayaan lokal sejumlah daerah di Indonesia.

Dia pun banyak menjalin persahabatan serta ikatan kekeluargaan dengan masyarakat adat, seniman, dan budayawan. Bahkan, saking cintanya kepada Indonesia, anak kedua Patti yang lahir di negeri ini diberi nama Sutrisno. ”Panggilannya Tresno,” ujar Patti.

Sebuah peristiwa sekitar tahun 1998 kemudian membulatkan tekad Patti untuk membuat pinisi pesiar milik sendiri. Waktu itu dia menyewa pinisi yang dimodifikasi menjadi kapal penumpang untuk mengunjungi Papua.

Namun, pelayanan kapal tersebut sangat buruk dan sempat mengalami kerusakan pula. ”Waktu saya meminta uang kembali kepada si penyewa, dia menolak. Di situlah saya berpikir untuk membuat pinisi sendiri,” cerita Patti.

Dari sejumlah kenalan dan sahabat di Sulsel yang telah terjalin lama, dia menemukan perajin pinisi dari Ara, Muhammad Nurka. Nurka mampu menerjemahkan keinginan Patti yang mendesain sendiri kapal tersebut. Adapun pembuatan kapalnya dilakukan di Kalimantan, daerah yang banyak terdapat kayu ulin, bahan utama pembuatan kapal.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Riset ke Belanda

Agar tampilannya persis seperti pinisi yang digunakan pelaut-pelaut Nusantara pada masa lampau, Patti melakukan riset langsung ke Belanda. Di ”Negeri Kincir Angin”, dia menemukan gambar-gambar pinisi dari arsip masa pemerintahan kolonial Belanda yang dipakai sebagai rujukan untuk membuat Silolona.

Oleh karena sejak awal memang ditujukan sebagai kapal pesiar, beberapa modifikasi teknis pun dilakukan, mengingat adanya perbedaan antara kapal kargo dan penumpang. ”Salah satu yang dimodifikasi adalah bentuk lambungnya,” ujar Patti.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.