Kompas.com - 07/10/2014, 10:17 WIB
Museum Foteviken atau dikenal juga sebagai Kampung Viking Foteviken di Vellinge, Swedia, seperti terlihat Kamis (7/8/2014), menghidupkan kembali suasana kampung pada masa Viking dari abad ke-12. Museum di lahan seluas 7 hektar itu diklaim sebagai satu-satunya tempat yang menghidupkan kembali kampung dari masa Viking, dengan melibatkan sukarelawan yang menjadi 'penghuni' kampung itu.
KOMPAS/ANTONY LEEMuseum Foteviken atau dikenal juga sebagai Kampung Viking Foteviken di Vellinge, Swedia, seperti terlihat Kamis (7/8/2014), menghidupkan kembali suasana kampung pada masa Viking dari abad ke-12. Museum di lahan seluas 7 hektar itu diklaim sebagai satu-satunya tempat yang menghidupkan kembali kampung dari masa Viking, dengan melibatkan sukarelawan yang menjadi 'penghuni' kampung itu.
EditorI Made Asdhiana
MEMASUKI gerbang kampung Viking Foteviken di Vellinge, Swedia, seperti memasuki mesin waktu yang membuat pengunjung kembali ke awal abad ke-12, masa ketika para Viking masih berjaya. Di kampung ini, perempuan dan laki-laki sibuk dengan kesehariannya; menyamak kulit, memanggang roti, dan menempa mata panah.

Seorang pria bertubuh gempal berpakaian ala petarung Viking lengkap dengan zirah dari untaian besi serta pelindung kepala mengarahkan beberapa pengunjung ke balairung, tempat para bangsawan bertemu. Balairung kayu berlangit-langit tinggi itu merupakan bangunan terbesar di Fotevikan. Di dalam bangunan, pria itu lalu menunjukkan sisi-sisi bangunan yang dipenuhi deretan perisai kayu aneka warna yang dibumbui aneka ragam simbol.

Simbol di tiap perisai itu merupakan lambang kelompok Viking yang pernah mendatangi balai pertemuan itu, serta bersumpah menjaga Hukum Foteviken.

Begitu menjejakkan kaki keluar balairung, aroma harum roti yang dipanggang menyeruak. Balairung itu hanya terpaut belasan meter dari rumah pembuat roti. Fredrik (38), seorang Viking, menawarkan roti putih yang dipanggang kering ke pengunjung. Ia mengiris kecil-kecil roti yang didominasi rasa asin itu. Ketika tak ada lagi pengunjung yang menjajal roti, ia mengalihkan perhatian ke tungku pemanggang roti.

Di halaman depan rumah pembuat roti itu terdapat gerobak kayu. Di situ tergeletak beberapa kapak bergagang kayu yang biasa digunakan para petarung Viking, serta dua helm besi dan satu perisai. Pengunjung biasa menggunakan properti itu untuk berfoto sembari bergaya ala Viking dengan latar belakang perkampungan Viking.

Tidak sekadar balairung dan rumah pembuat roti, di Foteviken juga terdapat bangunan lain laiknya kampung sungguhan pada masa Viking. Ada rumah pedagang, pandai besi, pembuat gerabah, penegak hukum, tukang kayu, dan rumah untuk budak. Selain itu, ada pula bangunan untuk menyimpan biji-bijian dan ternak.

Bangunan di kampung itu mayoritas berbahan kayu kusam dengan langit-langit pendek. Selain permukiman, ada pula menara penjaga, area panahan, serta area eksekusi untuk menghukum penjahat.

KOMPAS/ANTONY LEE Sukarelawan berpakaian ala Viking di Museum Foteviken atau dikenal juga sebagai Kampung Viking Foteviken di Vellinge, Swedia, Kamis (7/8/2014), membuat roti di salah satu rumah Viking yang berdiri abad ke-12.
Museum Foteviken atau lebih kerap disebut kampung Viking Foteviken berada di lahan seluas 7 hektar, sekitar 30 menit perjalanan darat dari Malmo, kota terbesar ketiga di Swedia. Lokasi museum terbuka itu berada persis di bibir pantai yang memisahkan Swedia dan Denmark. Fotevikan diklaim sebagai satu-satunya museum di dunia yang berupaya menciptakan kembali sebuah kota/kampung pada masa Viking berdasarkan temuan arkeologi dan material bersejarah lainnya.

Museum Foteviken ini dibangun pada 1995 sebagai museum yang dikelola kota Vellinge. Museum terbuka ini berada di bekas lokasi pertempuran Foteviken yang berlangsung pada 1134 masehi. Peperangan kala itu disulut perebutan takhta Kerajaan Denmark.

Daerah Skane (Scania) masa itu berada di bawah kekuasaan Denmark, dengan kota Lund, sekitar 30 menit perjalanan darat dari Malmo, sebagai pusat keuskupan di kawasan Skandinavia. Skane kembali dikuasai Swedia pada abad ke-17.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Beda Fasilitas First Class dan Business Class di Pesawat yang Hampir Mirip

Beda Fasilitas First Class dan Business Class di Pesawat yang Hampir Mirip

Travel Tips
Produk Lokal Labuan Bajo Diupayakan Bisa Masuk Hotel dan Restoran

Produk Lokal Labuan Bajo Diupayakan Bisa Masuk Hotel dan Restoran

Travel Update
Spanyol Wajibkan Vaksin Booster untuk Turis Asing Mulai Februari

Spanyol Wajibkan Vaksin Booster untuk Turis Asing Mulai Februari

Travel Update
Kebun Binatang Ini Jadikan Kecoak sebagai Promo Valentine

Kebun Binatang Ini Jadikan Kecoak sebagai Promo Valentine

Jalan Jalan
Syarat Bawa Hewan di Pesawat dari 4 Maskapai Penerbangan di Indonesia

Syarat Bawa Hewan di Pesawat dari 4 Maskapai Penerbangan di Indonesia

Travel Tips
India Perpanjang Larangan Penerbangan Internasional hingga 28 Februari

India Perpanjang Larangan Penerbangan Internasional hingga 28 Februari

Travel Update
Serunya Memancing Kakap dan Kuwe 'Giant Trevally' di Belitung Timur

Serunya Memancing Kakap dan Kuwe "Giant Trevally" di Belitung Timur

Jalan Jalan
Pelabuhan Nongsapura Batam Dinilai Siap untuk Travel Bubble

Pelabuhan Nongsapura Batam Dinilai Siap untuk Travel Bubble

Travel Update
Rute dan Harga Tiket KidZania Jakarta, Banyak Promo Menarik

Rute dan Harga Tiket KidZania Jakarta, Banyak Promo Menarik

Travel Tips
10 Rekomendasi Hotel Kekinian di Bandung, Mulai Rp 300.000-an

10 Rekomendasi Hotel Kekinian di Bandung, Mulai Rp 300.000-an

Jalan Jalan
Pertama Kali ke Luar Negeri? Jangan Lupa Lakukan 5 Hal Ini

Pertama Kali ke Luar Negeri? Jangan Lupa Lakukan 5 Hal Ini

Travel Tips
Bandara Halim Perdanakusuma Tutup Sementara per 26 Januari

Bandara Halim Perdanakusuma Tutup Sementara per 26 Januari

Travel Update
Berwisata ke Danau Toba Naik DAMRI, Ini Rute dan Tarifnya

Berwisata ke Danau Toba Naik DAMRI, Ini Rute dan Tarifnya

Travel Promo
Pertama Kali Naik Pesawat? Ini 10 Tahap Naik Pesawat dari Berangkat sampai Tujuan

Pertama Kali Naik Pesawat? Ini 10 Tahap Naik Pesawat dari Berangkat sampai Tujuan

Travel Tips
Ketahui, Daftar Tarif Parkir Resmi di Yogyakarta Sesuai Lokasinya

Ketahui, Daftar Tarif Parkir Resmi di Yogyakarta Sesuai Lokasinya

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.