Kompas.com - 11/10/2014, 18:23 WIB
EditorI Made Asdhiana

Subagyo (52), Ketua Paguyuban Suryodadari asal Bandar, Kecamatan Mojoroto, Kediri, menuturkan, jaranan memang mengalami pasang surut sebelum ramai kembali dalam satu sampai dua dasawarsa terakhir. Begitu pula dengan kreativitas tampilan, cerita, dan inovasi yang sebelumnya menghilang, kini mulai muncul kembali.

Di Jawa Timur, jaranan lebih dikenal di daerah Mataraman, mulai dari Malang hingga Pacitan. Adapun yang sering disebut sebagai sentra jaranan ialah Kediri. Ada beberapa hal yang menjadi parameter, salah satunya jumlah grup jaranan di Kediri cukup besar. Ketua Paguyuban Kesenian Jaranan Kabupaten Kediri Hari Pratondo menyebutkan, saat ini ada 400-an grup kesenian di wilayahnya dan tahun ini bertambah 22 grup.

Alasan lain Kediri menjadi sentra karena dari sisi setting cerita yang berkembang, putri yang diperebutkan berasal dari Kediri. ”Jadi, yang dilamar adalah Dewi Sekartaji (Sangga Langit) di Kediri. Jadi, simbolnya di Kediri. Ini berdasarkan cerita dulu yang disampaikan dari mulut ke mulut,” ujar Hari.

Sejarawan dari Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, mengatakan, sejauh ini memang belum ditemukan data tertulis atau prasasti yang membahas soal jaranan. Yang ada baru relief candi, seperti di Candi Jawi, Pasuruan, yang memperlihatkan seorang perempuan bertapa dan pasukan berkuda yang diduga merupakan Dewi Kilisuci.

Yang pasti, kata Dwi, jaranan sudah ada sejak lama. Jika yang disampaikan dalam cerita lisan selama ini benar, kemungkinan jaranan sebagai tari kerakyatan kuno embrionya sudah ada pada abad ke-12 dan mulai kental pada abad ke-13 dan ke-14. Pada masa kolonial telah ada catatan soal itu. Thomas Starmford Raffles dalam buku History of Java ( 1817) membicarakan sebuah pertunjukan di Jawa yang menggunakan imitasi kuda.

”Jaranan merupakan seni kuno yang berlanjut sampai sekarang,” ujarnya, yang membenarkan bahwa setengah abad lalu seni ini pernah menjadi alat politik (politic labeling) hingga membuatnya sempat terhenti selama beberapa waktu.

Jaranan sebagai seni memiliki sejumlah varian, di antaranya jaranan pegon, senterewe, jawa, dan buto. Munculnya perbedaan versi dalam jaranan, baik menyangkut penamaan maupun cerita yang diusung, menurut Dwi, merupakan sesuatu yang baik. Setiap komunitas memiliki peluang menafsirkan. Hal ini dinilai sah dalam seni pertunjukan kerakyatan. (Defri Werdiono)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Panduan Car Free Day Jakarta, Khusus untuk Olahraga dan Tanpa PKL  

Panduan Car Free Day Jakarta, Khusus untuk Olahraga dan Tanpa PKL  

Travel Tips
Syarat Naik Pesawat Super Air Jet per 18 Mei 2022

Syarat Naik Pesawat Super Air Jet per 18 Mei 2022

Travel Update
Syarat Bawa Laptop dan Powerbank ke Pesawat Lion Air, Batik Air, dan Wings Air

Syarat Bawa Laptop dan Powerbank ke Pesawat Lion Air, Batik Air, dan Wings Air

Travel Update
Car Free Day Jakarta Kembali Dibuka 22 Mei, Berikut 6 Lokasinya 

Car Free Day Jakarta Kembali Dibuka 22 Mei, Berikut 6 Lokasinya 

Travel Update
Harga Tiket dan Rute ke Kedai Sawah Sembalun NTB, Jangan Sampai Nyasar

Harga Tiket dan Rute ke Kedai Sawah Sembalun NTB, Jangan Sampai Nyasar

Travel Tips
Cerita Malin Kundang dan Tradisi Merantau Laki-laki Minangkabau

Cerita Malin Kundang dan Tradisi Merantau Laki-laki Minangkabau

Jalan Jalan
Lagi Tren, Ini 6 Spot Campervan Kece di Bali

Lagi Tren, Ini 6 Spot Campervan Kece di Bali

BrandzView
Agrowisata Kedai Sawah Sembalun di Lombok Timur, Bisa Petik Sayur dan Buah

Agrowisata Kedai Sawah Sembalun di Lombok Timur, Bisa Petik Sayur dan Buah

Jalan Jalan
Wisata Bondowoso: Kaldera Ijen Purba yang Punya Banyak Keunikan Alam

Wisata Bondowoso: Kaldera Ijen Purba yang Punya Banyak Keunikan Alam

Jalan Jalan
Sensasi Baru Wisata Bukit Cinta Rawa Pening, Keliling Naik Jet Ski

Sensasi Baru Wisata Bukit Cinta Rawa Pening, Keliling Naik Jet Ski

Jalan Jalan
Aturan Terbaru Naik Pesawat Lion Air, Batik, dan Wings per 18 Mei 2022

Aturan Terbaru Naik Pesawat Lion Air, Batik, dan Wings per 18 Mei 2022

Travel Update
Kulon Progo Kembali Bikin Tiga Film Berlatar Tempat Wisata, Jadi Ajang Promosi

Kulon Progo Kembali Bikin Tiga Film Berlatar Tempat Wisata, Jadi Ajang Promosi

Travel Update
Gurun Pasir Putih di Mesir yang Unik dan Indah, Mirip Area Bersalju

Gurun Pasir Putih di Mesir yang Unik dan Indah, Mirip Area Bersalju

Jalan Jalan
Sering Ingin Kentut Saat Naik Pesawat, Ini Alasan dan Cara Mencegahnya

Sering Ingin Kentut Saat Naik Pesawat, Ini Alasan dan Cara Mencegahnya

Travel Update
Limbah Restoran di Labuan Bajo Dibuang Sembarangan, Cederai Konsep Pariwisata Berkelanjutan

Limbah Restoran di Labuan Bajo Dibuang Sembarangan, Cederai Konsep Pariwisata Berkelanjutan

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.