Kompas.com - 26/01/2015, 13:47 WIB
EditorI Made Asdhiana

Tempat belajar

Tidak hanya di Kobe, museum tentang kesiapsiagaan bencana tersebar luas di Jepang. Hampir setiap kota punya museum bencana, atau jika tidak, kantor pemadam kebakaran setempat juga menyediakan informasi dan simulasi agar lebih tangguh menghadapi bencana. Beberapa museum bencana lain yang terkenal di Jepang adalah Tokyo Rinkai Disaster Prevention Park, Honjo Bosai-kan, Tokyo Memorial Hall, dan Tsunami Disaster Storm Surge Station Osaka.

Seperti halnya Disaster Reduction Museum di Kobe, setiap museum itu punya ciri edukatif dengan format permainan dan sangat informatif sehingga menyenangkan. Dengan biaya tiket masuk sekitar Rp 50.000 per orang, pengunjung museum tak pernah sepi. Orang tua hingga anak-anak selalu datang, menjajal simulasi untuk menyelamatkan diri jika terjadi gempa. Bahkan, simulasi untuk memadamkan kebakaran. ”Banyak orang yang kembali ke sini tiga atau empat kali,” kata Koichi.

Sistem di Jepang memang memungkinkan museum selalu ramai didatangi pengunjung, terutama kalangan pelajar. ”Pemerintah Jepang tidak langsung memberikan dana subsidi ke museum, tetapi memilih menyubsidi sekolah agar berkunjung ke museum. Setiap tahun, ada satu kelas di sekolah-sekolah yang diberi dana biaya perjalanan dan tiket masuk ke museum. Dana inilah yang bisa dipakai untuk mengelola museum,” kata Abdul Muhari, peneliti tsunami dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, yang lama belajar di Jepang.

Di Kobe, misalnya, terdapat 720 sekolah yang setiap tahun mendapat dana berkunjung ke Disaster Reduction Museum. Jadi, setiap hari dalam setahun, minimal ada dua sekolah berkunjung ke museum itu, bergiliran pagi dan siang.

Melalui pemberian subsidi ke sekolah, museum dikunjungi rutin, sekaligus kemandirian dana operasional. Hal ini sekaligus memastikan bahwa setiap siswa pernah berkunjung ke museum untuk melihat dampak bencana dan belajar bersiaga.

Mengingat tragedi

Berbeda dengan di Jepang, museum di Indonesia kebanyakan masih disubsidi langsung negara. Selain itu, dari segi muatan isi, menurut Abdul Muhari, museum di Indonesia lebih banyak berfungsi menyimpan koleksi dan minim wahana edukasi, khususnya yang mendorong kesiapsiagaan.

Museum Tsunami di Aceh, misalnya, yang dibangun pasca tsunami 2004, kebanyakan masih berisi koleksi foto dan diorama statis. Pengunjung hanya disajikan kengerian tsunami, juga diperlihatkan deretan nama korban. Namun, belum ada simulasi, peraga, ataupun informasi memadai mitigasi bencana.

Sinung Baskoro, Kepala Museum Geologi-Bandung, mengakui, aspek pendidikan kesiapsiagaan dalam museum tsunami di Aceh masih kurang. Kebanyakan masih berfungsi untuk mengingat tragedi, belum pendidikan. ”Masih harus dikembangkan lagi,” kata Sinung yang juga membawahkan pengelolaan Museum Tsunami Aceh itu.

Dia menambahkan, sekalipun rentan bencana sebagaimana Jepang, hingga saat ini Indonesia belum memiliki museum yang dibuat khusus untuk mitigasi bencana. ”Kami memang punya Museum Merapi di Yogyakarta dan Museum Batur di Bali, tetapi belum spesifik tentang pendidikan mitigasi bencana,” katanya.

Sebenarnya, peluang untuk menjadikan museum sebagai wahana belajar sangatlah besar. Saat ini, Museum Geologi-Bandung saja didatangi sekitar 500.000 pengunjung setiap tahun. Sebanyak 85 persen pengunjung adalah pelajar.

Jadi, dengan koleksi dan simulasi yang lebih mendidik, museum seharusnya bisa menjadi sekolah sekunder bagi anak-anak agar lebih membudayakan kesiapsiagaan menghadapi bencana, sebagaimana dicontohkan Jepang... (Ahmad Arif)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.