Kompas.com - 19/03/2015, 10:21 WIB
EditorI Made Asdhiana

Seorang pilot tentunya diwajibkan menggunakan perlengkapan terbang yang memenuhi standar keamanan. Parasut yang digunakan harus dalam keadaan layak untuk terbang dan sesuai dengan ukuran berat badan pilot. Harnest sebagai penghubung dengan tali parasut yang juga berfungsi sebagai tempat duduk harus disesuaikan pula dengan tinggi dan berat badan pilot. Perlengkapan lain yang diperlukan yaitu helm dan radio komunikasi, serta parasut cadangan jika terbang di atas ketinggian 50 meter.

Perlengkapan paralayang sebagian besar masih didatangkan antara lain dari negara di Eropa, Amerika, Australia, Jepang, dan Korea. Satu set perlengkapan paralayang baru harganya bisa di atas Rp 30 juta. Namun, tak sedikit pilot yang mencari barang bekas yang masih layak untuk terbang dari sesama pilot ataupun melalui media daring karena harganya lebih terjangkau.

Paralayang tidak saja dilakoni mereka yang berkecukupan dan sekadar mencari hobi. Suyit salah satunya. Pria asal Boyolali, Jawa Tengah, yang sehari-hari berprofesi sebagai pengangkut kotoran ternak, sudah lebih dari tiga tahun menggeluti paralayang. Ia adalah salah satu siswa yang mendapat kesempatan belajar paralayang secara gratis dari instrukturnya, Capung Indrawan. Di tengah keterbatasannya, kemampuan terbangnya tidak kalah dengan pilot lain.

Bagi sebagian pilot yang memiliki lisensi tandem, saat musim terbang di Parangtritis bukanlah sekadar momen untuk menyalurkan hobi dan kerinduannya terhadap paralayang, melainkan peluang untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Dalam tiga tahun terakhir, jasa terbang tandem di Parangtritis mulai dikelola sebagai tujuan wisata baru di Yogyakarta. Dengan tarif Rp 350.000 per orang untuk satu kali terbang sekitar 15-20 menit, Agus, Alexander, Teguh, dan Yudi siap mengajak pengunjung untuk menikmati sensasi terbang di atas Parangtritis.

Terlepas dari semua itu, kegiatan olahraga yang sangat bergantung pada alam tersebut mengajarkan arti kesabaran. Ada kalanya pilot harus menunggu cuaca baik dan angin yang tepat berjam-jam lamanya. Tak jarang pula harus membatalkan terbang meski parasut sudah terbentang. (Lucky Pransiska)

Artikel ini sebelumnya tayang di Harian Kompas, Minggu, 15 Maret 2015

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.