Batu Mulia, Andalan Ekspor di Sri Lanka, Pelipur Lara di Indonesia

Kompas.com - 15/04/2015, 17:51 WIB
Pengunjung memilih batu akik yang saat ini sedang booming di Jakarta Gems Center, Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta, Kamis (15/1/2015). Lebih dari 1.000 pedagang batu akik menawarkan dagangannya di tempat tersebut dengan harga mulai dari puluhan ribu rupiah hingga ratusan juta rupiah. Batu bacan yang berasal dari Ternate, Maluku Utara, saat ini banyak dicari para pencinta batu akik.
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTOPengunjung memilih batu akik yang saat ini sedang booming di Jakarta Gems Center, Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta, Kamis (15/1/2015). Lebih dari 1.000 pedagang batu akik menawarkan dagangannya di tempat tersebut dengan harga mulai dari puluhan ribu rupiah hingga ratusan juta rupiah. Batu bacan yang berasal dari Ternate, Maluku Utara, saat ini banyak dicari para pencinta batu akik.
EditorI Made Asdhiana

MELIHAT-lihat butik batu mulia di Kolombo, Sri Lanka, akhir Maret lalu, Kompas jadi teringat dengan demam batu akik yang tengah melanda Indonesia. Namun, ada perbedaan antara dunia batu mulia di Sri Lanka dan di Tanah Air.

Di Sri Lanka, orang mendapatkan batu mulia semata-mata untuk investasi. Di Indonesia, orang mengumpulkan batu permata bukan hanya untuk investasi, tetapi juga sebagai pelipur lara—terutama bagi kalangan masyarakat bawah. Batu mulia dalam bentuk batu akik menjadi sarana membangun komunikasi dan berpotensi merevitalisasi tradisi dan potensi masa lalu.

Di Kolombo, batu mulia umumnya dijual di butik-butik, galeri, dan toko-toko mewah dengan pengamanan ketat. Tempat-tempat itu umumnya ditandai dengan gardu jaga dan personel pengaman serta pintu lipat berjeruji, seperti terlihat pada Jumat (20/3/2015) siang. Iklan batu mulia di beberapa media cetak lokal berbahasa Inggris tampil mewah.

”Harganya 4.000 dollar AS,” kata seorang penjual batu ruby di salah satu butik sambil menunjukkan sebutir ruby seberat 25 karat.

Bagi Sri Lanka, batu mulia memang menjadi salah satu penangguk devisa. Doktor Geologi DH Ariyaratna, dalam bukunya, Gems of Sri Lanka (Sri Lanka National Gem and Jewelery Authority, September 2013) menulis, 5 persen dari total ekspor Sri Lanka berasal dari ekspor mineral. Dari total ekspor mineral itu, 60 persen di antaranya berasal dari ekspor batu permata.

Masih menurut buku tersebut, sudah sejak abad pertama Sri Lanka dikenal sebagai negeri bertabur batu permata sampai Marcopolo datang pada 1293 dan menamai negeri tersebut sebagai Zeilan atau sila dalam bahasa Pali, Sanskerta, yang artinya batu (permata). Nama yang diberikan Marcopolo itu kemudian berubah menjadi Ceylon.

Marcopolo menulis, hanya di pulau ini ditemukan batu permata ruby terbaik dan tertinggi nilainya di dunia. Selain ruby, ada pula safir, topaz, ametis, dan garnet dengan kualitas terbaik pula. Ibnu Batuta, penjelajah asal Maroko yang datang ke Sri Lanka pada awal abad ke-14, pun menulis, batu permata bertebaran hampir di seluruh sudut Serandib, nama lain Sri Lanka.

Ariyaratna menambahkan, ada 20 lokasi dengan banyak batu permata bertaburan di Sri Lanka. Lokasi-lokasi itu, antara lain, Ratnapura, Hatton, Pelmadulla, Polonaruwa, Okkampitiva, Matale, Kuruwita, Badulla, dan Monaragala.

Di Ratnapura pernah ditemukan batu safir biru seberat 850 karat dan safir 2.501 karat di suatu tempat, 18 kilometer di luar Ratnapura. Di Hatton pernah didapatkan batu aquamarine seberat 7,5 kilogram. Sementara di Pemadulla pernah didapatkan batu safir biru gelap seberat 250 karat. Di Kuruwita, pernah didapatkan safir kuning seberat 850 karat.

Sampai awal tahun 1970-an, hanya ada dua jenis batu permata andalan ekspor Sri Lanka, yakni ruby dan termasuk safir bintang berwarna hitam. Namun setelah itu, bermunculan berbagai batu permata dengan tingkat kekerasan yang sama dengan ruby dan safir, yakni 9 pada skala Mohs.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X